Tagged: Adab dan Akhlaq Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 01:51 on 21 February 2018 Permalink | Balas
    Tags: Adab dan Akhlaq   

    BERSIN DAN KEWAJIBAN MENJAWABNYA

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk mengucapkan tahmid tatkala bersin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Jika salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan Alhamdulillah, jika ia mengatakannya maka hendaklah saudaranya atau temannya membalas: yarhamukalloh (semoga Allah merahmatimu). Dan jika temannya berkata yarhamukallah, maka ucapkanlah: yahdikumulloh wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 6224 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

    Dalam Shahih Al-Bukhary no. 6223 lafazhnya :

    إِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ، فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ.

    “Jika seseorang bersin lalu dia mengucapkan ‘alhamdulillah’ maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya.”

    Sedangkan di no. 6226 lafazhnya :

    إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللهَ، كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ.

    “Jika salah seorang dari kalian bersin lalu dia mengucapkan ‘alhamdulillah’ maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya dengan mengucapkan: yarhamukallah.”
    (Lihat juga : Shahih Muslim no. 2992)

    Wajib, dan hukumnya tidak seperti menjawab salam yang mana satu orang sudah mencukupi. Jika seseorang mengucapkan salam kepada kita “assalamu’alaikum” maka cukup salah seorang dari kita menjawab “wa’alaikumussalam.” Tetapi orang yang bersin wajib atas siapa saja yang mendengarnya untuk mendoakannya. Wajib atas kita semua untuk mendoakannya (dengan mengucapkan “yarhamukallah” yang artinya: semoga Allah merahmatimu –pent) jika dia mengucapkan “alhamdulillah.”

    Dari Anas bin Malik dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhuma,

    لما نفخ الله في آدم الروح، فبلغ الروح رأسه عطس، فقال: الحمد لله رب العالمين، فقال له تبارك وتعالى: يرحمك الله

    “Tatkala Allah meniupkan ruh kepada Adam, dan ruh itu sampai di kepalanya, Adam pun bersin. Dia mengucapkan, “Alhamdulillah.”

    Maka Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berkata kepadanya, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu).”

    (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.2159)

    Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu ta’ala berkata :

    Kalau dia lupa maka ingatkanlah dia, dan katakan padanya, “Ucapkanlah Alhamdulillah”.

    Jika dia meninggalkannya karena meremehkan, maka jangan ingatkan dia.
    Lalu dari mana aku tahu akan hal itu?
    Bagaimana juga aku tahu kalau dia itu lupa atau meremehkan?

    Diketahui dari zhahir hadits “Maka ucapkanlah Alhamdulillah”. Maka jika tidak mengucapkannya janganlah dijawab dan jangan pula diingatkan.

    Akan tetapi engkau boleh mengajarinya dengan mengatakan kepadanya, “Jika seseorang bersin maka hendaknya dia mengucapkan Alhamdulillah, karena bersin itu dari Allah sedangkan menguap itu dari setan.”

    Bersin itu menunjukkan semangatnya tubuh oleh karenanya, seseorang akan mendapati tubuhnya terasa ringan (setelah bersin).

    (Syarah Riyadhus Shalihin jilid 1 hal 568)

    Berkata Al-‘Allamah As-Sa’diy rohimahulloh:

    ❝ Barangsiapa yang tidak memuji Allah (baca: mengucapkan alhamdulillah) maka tidak berhak mendapatkan jawaban, dan jangan sekali-kali mencela kecuali dirinya sendiri. Karena dialah yang telah menyebabkan dirinya terluputkan dari 2 kenikmatan:

    1. kenikmatan memuji Allah,
    2. dan kenikmatan (mendapatkan) doa dari saudaranya baginya yang mengharuskan bersyukur. ❞

    (Bahjah Qulub Al-Abror, As-Sa’diy 1/82)

     
  • Ibnu Rusman 01:25 on 20 January 2018 Permalink | Balas
    Tags: Adab dan Akhlaq   

    PELAJARILAH ADAB TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMPELAJARI SUATU ILMU

    _*Imam Malik rahimahullah berkata*_

    “Aku berkata kepada ibuku, *‘Aku akan pergi untuk belajar.’*

    Ibuku berkata,‘Kemarilah!, _*Pakailah pakaian ilmu!*_

    Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.”

    (‘Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibul Jauzi, Koiro, cet. Ke-1, 1426 H, Asy-Syamilah)

    Dari Abu ‘Abdillah alias Wahab bin Munabbih rahimahullah, beliau berkata:
    “Akan lahir dari ilmu: kemuliaan walaupun orangnya hina, kekuatan walaupun orangnya lemah, kedekatan walaupun orangnya jauh, kekayaan

    walaupun orangnya fakir dan kewibawaan walaupun orangnya tawadhu.”
    (lihat; Tadzkiratus-Sami’ Wal-Mutakallim

    Fil-Adaabil-Aalim wal-Muta’allim, Ibnul-Jamaah al-Kinani)

     
  • Ibnu Rusman 00:10 on 20 January 2018 Permalink | Balas
    Tags: Adab dan Akhlaq, ,   

    AKHLAK ORANG YANG BERILMU

    Syaikh Abdurrahman Bin Nasir As-Sa’di berkata:

    “Dan perkara yang harus ada pada orang yang berilmu adalah

    • menghiasi dirinya dengan kandungan ilmu yang ia pelajari dari akhlaq yang mulia,
    • mengamalkan ilmunya dan
    • menyebarkannya kepada manusia.

    Orang yang berilmu adalah orang yang paling berhaq untuk menghiasi dirinya dengan
    akhlaq yang mulia dan menjauhi dari akhlaq yang tidak baik, dia juga merupakan orang yang paling berhaq untuk mengamalkan kewajiban baik yang dhohir maupun yang batin dan menjauhi perkara yang haram,

    hal ini disebabkan karena

    mereka memiliki ilmu dan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang lain, mereka adalah Qudwah (suri tauladan) bagi manusia dan manusia akan mengikuti mereka, dan juga dikarenakan mereka akan mendapatkan celaan lebih banyak ketika mereka tidak mengamalkan ilmunya dari pada orang yang tidak berilmu.

    Dan sesungguhnya ulama-ulama salaf senantiasa menjadikan amal sebagai alat untuk menghafal ilmu, karena ilmu jika diamalkan maka akan kokoh dan dihafal,

    demikian juga akan semakin bertambah dan banyak barokahnya.

    Akan tetapi jika ilmu tidak diamalkan maka ia akan pergi dan barokahnya akan hilang. Maka ruh kehidupan ilmu adalah pengamalannya baik dengan akhlaq, mengajarkan, ataupun berda’wah”.

    (Lihat ‘Awa’iqut Tholab: 90 karya Syaikh Abdus Salam Bin Barjas)

     
  • Ibnu Rusman 02:08 on 12 April 2013 Permalink | Balas
    Tags: Adab dan Akhlaq   

    M E N G U A P

    Hampir semua Makhluk Allah dimuka bumi ini selalu “menguap” bahkan sampai bayi yang berumur 11 minggu sudah dapat “menguap“.

    Menguap juga dapat menular yang disebabkan oleh Respon Empatetik, dasar empati manusia perasaan memahami terhadap orang lain.

    Para dokter di zaman sekarang mengatakan, “Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh. Dan hal ini terjadi ketika kita sedang mengantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam. Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung. Apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan “menguap” ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri.

    Hal ini sebagaimana telah disebutkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya ia meletakkan tangannya di mulutnya karena syaithan akan memasukinya.”
    (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabul Mufrad)

    Dalam Syarh Shahih Muslim jilid 9 (18/97) An-Nawawi berkata : “ Menguap sering terjadi bersamaan dengan rasa berat, jenuh, penat, badan cenderung merasa malas. Penyandaran perbuatan tersebut kepada syaithan karena dialah yang mengajak kepada syahwat, dan maksudnya di sini adanya peringatan terhadap sebab yang melahirkan darinya berpuas-puas dan memperbanyak di dalam masalah makanan.

    Adapun menahan menguap maka hal itu adalah PERKARA YANG DISUNNAHKAN, dan tentang hal tersebut banyak hadits-hadits yang menerangkannya, dan diantara hadits-hadits tersebut adalah hadits Abu Hurairah, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Menguap itu dari syaithan maka apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya dia menahannya, dan apabila salah seorang dari kalian ketika menguap mengucapkan “ haah “, syaithan akan menertawakannya”, pada lafazh riwayat Muslim : “Apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya dia menahannya semampunya”. Pada lafazh riwayat Ahmad: “Maka hendaknya dia menahannya semampunya dan janganlah ia mengucapkan “aah haah,” karena sesungguhnya apabila ada salah seorang dari kalian membuka mulutnya maka sesungguhnya syaithan menertawakannya atau tertawa kepadanya” (HR. Al-Bukhari 3289, Muslim 2994, Ahmad 9246, At-Tirmidzi 370, Abu Daud 5028)

    Syaithan tidak hanya menunggu-nunggu kesempatan untuk masuk ke dalam tubuh manusia tatkala menguap. Bahkan, menguap itu sendiri timbul dari sebab perbuatan syaithan.

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Menguap berasal dari syaithan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaknya ia melawan semampunya. Jika dia sampai berucap ‘haah’ (tatkala menguap) maka syaithan akan tertawa karenanya.” (HR. Al-Bukhari)

    Dan dalam riwayat Ahmad: “Apabila salah seorang dari kalian menguap dalam shalat, maka hendaknya dia meletakkan tangannya ke mulutnya, karena syaithan itu masuk bersama menguap”
    (HR. Muslim 2995, Ahmad 10930, Abu Daud 5026, dan Ad-Darimi 1382)

    Catatan penting: Sebagian orang bersandar kepada permohonan perlindungan dari syaithan ketika menguap, ini adalah kesalahan yang nyata.

    Berikut kami kutip penjelasan Syaikh Sulaiman bin Abdillah al-Majid, seorang hakim di Riyadh, beliau menjelaskan : “Dan kami tidak mengetahui adanya sunah yang mengajarkan dzikir atau doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika menguap. Adapun yang banyak tersebar menurut sebagian ulama dan kebanyakan masyarakat, bahwa ketika menguap dianjurkan untuk membaca ta’awudz, berdalil dengan firman Allah, yang artinya: ‘Apabila setan mengganggumu maka mintalah perlindungan kepada Allah.’ Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa menguap itu dari setan. Pendalilan semacam ini, tidak pada tempatnya.

    Beliau menyebutkan alasan,

    “Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengabarkan kepada kita bahwa menguap itu dari setan, beliau tidak mengajarkan kepada kita (untuk membaca ta’awudz), selain perintah untuk menahan dan meletakkan tangan di mulut. Sehingga, andaikan ta’awudz (ketika menguap) disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyebutkannya.”

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Diselesaikan di Pondok Paud Hidayah, Sukahati pada dini hari
    30 Jumadilula 1434 H / 11 April 2013

     
  • Ibnu Rusman 04:00 on 31 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: Adab dan Akhlaq   

    KESALAHAN DALAM MENJAWAB UCAPAN ‘JAZAKALLAH KHAIRAN’ 

    Banyak orang yang sering mengucapkan “waiyyak” (dan kepadamu juga) atau “waiyyakum” (dan kepada kalian juga) ketika telah dido’akan atau mendapat kebaikan dari seseorang.

    Apakah ada sunnahnya mengucapkan seperti ini? Lalu bagaimanakah ucapan yang sebenarnya ketika seseorang telah mendapat kebaikan dari orang lain misalnya ucapan “jazakallahu khair” atau “barakallahu fikum”? (More …)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal