BULAN SYA’BAN (bag.1)

 

Nama SYA’BAN diambil dari kata SYA’BUN, yang artinya Kelompok atau Golongan.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah berkata : “Dinamakan Sya’ban karena mereka berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab Al-Haram. Sebab penamaan ini lebih baik dari yang disebutkan sebelumnya. Dan disebutkan sebab lainnya dari yang telah disebutkan.” (Fathul-Bari (IV/213), Bab Shaumi Sya’ban)

Didalam kitab Lisanul ‘Arab karya Ibnu Manzhur menyebutkan: “…mereka berpencar menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan”

Al-Munawi rahimahullah mengatakan: “Bulan rajab menurut masyarakat jahiliyah adalah bulan mulia, sehingga mereka tidak melakukan peperangan. Ketika masuk bulan sya’ban, bereka berpencar ke berbagai peperangan.” (at-Tauqif a’laa Muhimmatit Ta’arif, hal. 431)

 

HADITS-HADITS SHAHIH SEPUTAR BULAN SYA’BAN

  1. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR Al-Bukhari no. 1969 dan Muslim 1156/2721)

2. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)

3. “Bulan yang paling disukai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan puasa adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau lanjutkan dengan puasa Ramadhan.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanadnya dishahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

4. Dari Ummu Salamah (istri Nabi) radhiallahu ‘anha berkata: “Saya tidak pernah mendapatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR An-Nasai no. 2175 dan At-Tirmidzi no. 736. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai)

Al-Hafizh Ibnu Rajab -rahimahullah- berkata: ”Karena bulan Sya’ban seperti mukadimah bulan Ramadhan, maka disyariatkan di bulan Sya’ban apa-apa yang disyariatkan dalam bulan Ramadhan, seperti berpuasa, membaca al-Quran, agar tercapai kesiapan untuk menyambut Ramadhan dan jiwa akan terlatih dengan hal itu untuk mentaati ar-Rahman ‎(di bulan Ramadhan).” 📚_*lihat Lathaa’iful Ma’aarif li Mawasim al-‘Am Minal Wazhaif ‎ hal 258*_

»>Berkata Syaikh Muhammad Bazmul -hafizhahullah-: “Ini yang terakhir dari Ibnu Rajab -rahimahullah-, TIDAK (BERLAKU) SECARA MUTLAK. *Akan tetapi berlaku bagi orang yang puasa merupakan kebiasaan baginya*. Sebagaimana hadits-hadits menunjukkan akan hal itu.” (Majmu’ah al-Barakatu Maa Akaabirikum)

▪️Menurut jumhur ulama anjuran memperbanyak puasa di bulan Sya’ban adalah bagi orang yang terbiasa berpuasa saja, seperti halnya kebiasan berpuasa senin kamis atau puasa sunnah lainnya, sedangkan bagi yang tidak menjadi kebiasaaan berpuasa, hal ini tidak dianjurkan memperbanyak puasa seluruhnya di bulan Sya’ban, *apabila ini dilakukan maka menjadi amalan bid’ah.*

Wa billahi at-Taufiq wa sadaad

in syaa Allah bersambung..