BULAN SYA’BAN (Bag. 3)

 

*HADITS-HADITS SHAHIH SEPUTAR BULAN SYABAN*

5️⃣ Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: _*“Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah berpuasa.”*_ 📚 _HR. Abu Daud, no. 3237, Tirmizi, no. 738, Ibnu Majah, no. 1651, dan dinilai shahih oleh Al Albani_

6️⃣ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa sunnah, maka bolehlah ia berpuasa.” 📚 _HR. Bukhari 1914 dan Muslim 1082_

🔹 Al-Munawi memberikan penjelasan

أي يحرم عليكم ابتداء الصوم بلا سبب حتى يكون رمضان

“Maksud hadits, terlarang bagi kalian untuk memulai *puasa tanpa sebab,* sampai masuk bulan Ramadhan” (Faidhul Qadir, 1:304)

👉 Yang dimaksud *“puasa tanpa sebab”* adalah puasa sunnah mutlak. Karena itu, larangan dalam hadits ini tidak mencakup puasa qadha’ bagi orang yang memiliki utang puasa Ramadhan. Bahkan kaum muslimin yang memiliki utang puasa, dia wajib menqadha’nya sebelum datang Ramadhan berikutnya.

🔸 Imam Al-Qurthubi mengatakan : “Tidak ada pertentangan antara hadits yang melarang puasa setelah memasuki pertangahan Sya’ban, serta hadits yang melarang mendahului ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya, dengan hadits yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambung puasa Sya’ban dengan puasa Ramadan.

Yang perlu kita pahami adalah bahwa hadits larangan puasa berlaku untuk orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa sunnah.

Sementara keterangan untuk rajin puasa di bulan Sya’ban dipahami untuk orang yang memiliki kebiasaan puasa sunnah, agar tetap istiqamah dalam menjalankan kebiasaan baiknya, sehingga tidak terputus.” 📚 _lihat Aunul Ma’bud, 6/330._

🔹 Ulama madzhab Syafii telah mengamalkan hadits-hadits ini, lalu mereka berkata, _*tidak dibolehkan berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’ban kecuali bagi orang yang terbiasa berpuasa atau ingin melanjutkan puasa sebelum pertengahan (Sya’ban).*_

Dan ini adalah pendapat terkuat menurut kebanyakan mereka (ulama madzhab Syafi’i) bahwa larangan dalam hadits adalah untuk pengharaman. Sebagian lain berpendapat –seperti Ar-Ruyani- bahwa larangan tersebut bersifat makruh, bukan untuk mengharamkan. 📚 _Kitab Al-Majmu, 6/399-400, dan Fathul Bari, 4/129_

👉 Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitab Riyadus Shalihin, hal. 412: “Bab larangan mendahului Ramadan (dengan berpuasa) setelah pertengahan Sya’ban _*kecuali bagi orang yang meneruskan puasa sejak sebelum pertengahan (Sya’ban) atau bertepatan dengan kebiasaan berpuasa Senin Kamis.”*_

🔸 Syekh Ibn Baz rahimahullah ditanya tentang hadits larangan berpuasa setelah pertengahan Sya’ban, beliau menjawab: “Ia adalah hadits yang shahih sebagaimana dikatakan Al-Allamah Syekh Nasiruddin Al-Albany. Maksud larangannya adalah baru memulai berpuasa dari pertengahan bulan (Sya’ban). Adapun bagi yang sudah sering berpuasa atau telah terbiasa berpuasa di bulan (Sya’ban), maka dia telah sesuai dengan sunnah.” 📚 _Al-Majmu Fatawa Ibnu Baz, 15/385_

wabillahi wataufik