Updates from Desember, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 15:40 on 30 December 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    SETELAH IKHLAS, DIBUTUHKAN KEBERANIAN UNTUK MENEGAKKAN KEBENARAN

    Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

    والحاصل: أن الشيطان يخوف كل من أراد أن يقوم بواجب، فإذا ألقى الشيطان في نفسك الخوف؛ فالواجب عليك أن تعلم أن الإقدام على كلمة الحق ليس هو الذي يدني الأجل

    Intinya setan akan terus menakut-nakuti siapa saja yang ingin menegakkan kewajiban, jadi jika setan melemparkan rasa takut ke dalam dirimu, maka yang wajib atasmu adalah hendaknya engkau mengetahui bahwa berani menyuarakan kebenaran bukanlah perkara yang akan mendekatkan ajal.

    وليس السكوت والجبن هو الذي يبعد الأجل

    Dan sebaliknya sikap diam dan penakut bukanlah perkara yang akan menjauhkan dari kematian.

    فكم من داعية صدع بالحق ومات على فراشه؟! وكم من جبان قتل في بيته؟!

    Betapa banyak seorang dai yang lantang menyuarakan kebenaran yang meninggal di atas ranjangnya?! Dan betapa banyak seorang pengecut yang terbunuh di dalam rumahnya sendiri.

    [al-Qaul al-Mufid ala Kitab at-Tauhid, hlm. 414, terbitan Daar Adhwais Sunnah]

    Iklan
     
  • Ibnu Rusman 15:24 on 28 December 2010 Permalink | Balas  

    SADARILAH UMUR KITA TERBATAS 

    Al-Imam al-Muwaffaq Muhammad as-Safarainy rahimahullah

    “فاغتنم رحمك الله حياتك النَّفيسة، واحتفظ بأوقاتك العزيزة، واعلم أن مدَّة حياتِك محدودةٌ، وأنفاسك معدودةٌ، فكلُّ نفسٍ ينقص به جزء منك

    Manfaatkanlah -semoga Allah merahmatimu- hidupmu yang berharga, jagalah sebaik-baiknya waktumu yang mahal, dan ketahuilah bahwa masa hidupmu terbatas, nafas-nafasmu bisa dihitung, jadi setiap nafasmu akan mengurangi bagian dirimu.

    والعمر كله قصير، والباقي منه هو اليسير، وكل جزءٍ منه جوهرةٌ نفيسةٌ لا عدل لها، ولا خُلف منها، فإنَّ بهذه الحياة اليسيرة خلودُ الأبد في النَّعيم، أو العذاب الأليم

    Umur semuanya pendek, yang tersisa darinya sedikit, dan setiap bagian darinya merupakan permata yang sangat berharga yang tidak ada bandingannya dan tidak tergantikan, karena dengan hidup yang pendek ini akan diraih kekekalan abadi dalam kenikmatan atau adzab yang pedih.

    وإذا عادلتَ هذه الحياة بخلود الأبد علمتَ أنَّ كلَّ نَفَسٍ يعدلُ أكثر من ألف ألف ألف عام في نعيم لا خطر له، أو خلاف ذلك، وما كان هكذا فلا قيمة له

    Dan jika engkau membandingkan kehidupan ini dengan kekekalan abadi, engkau akan mengetahui bahwa bahwa setiap nafas sebanding dengan seribu ribu ribu tahun dalam kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan, atau sebaliknya (dalam adzab -pent), dan apa yang keadaannya seperti ini maka tidak ada harganya.

    فلا تُضَيِّع جواهرَ عُمركَ النَّفيسة بغير عملٍ، ولا تذهبهَا بغير عوضٍ، واجتهد أن لا يخلو نَفسٌ من أنفاسك إلاَّ في عَمَلِ طاعةٍ أو قربةٍ تتقرب بها

    Maka jangan engkau sia-siakan permata umurmu yang sangat berharga tanpa amal, jangan habiskan tanpa pengganti, dan bersungguh-sungguhlah jangan sampai satu nafas dari nafas-nafasmu kosong kecuali dalam ketaatan atau apa saja yang dengannya engkau mendekatkan diri kepada Allah.

    فإنَّك لو كانت معك جوهرةٌ من جواهر الدُّنيا لَسَاءَكَ ذهابها فكيف تُفَرِّطُ في ساعاتك وأوقاتك، وكيف لا تحزن على عُمرك الذَّاهب بغير عوض

    Karena sungguh seandainya engkau memiliki sebuah permata dari permata-permata dunia, pasti kehilangannya akan membuatmu sangat bersedih, maka bagaimana engkau menyia-nyiakan saat-saat dan waktu-waktumu, dan bagaimana engkau tidak bersedih terhadap umurmu yang berlalu tanpa pengganti.

    [Ghadzaul Albab Syarh Manzhumatul Adab, II/351].

     
  • Ibnu Rusman 00:51 on 23 December 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    TATKALA BACAAN IMAM SALAH …

    Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

    Tanya: :

    Apakah wajib bagi makmum memperbaiki bacaan imam apabila salah dalam membaca nya❓

    Jawab:

    Apabila imam salah dalam bacaan yang wajib seperti bacaan surat [ Al-Fatihah ] maka WAJIB bagi makmum untuk membenarkannya.❗️

    Namun apabila bacaan yang sunnah , maka kita lihat. Apabila kesalahannya bisa MERUBAH MAKNA maka wajib untuk (memperbaikinya)❗️

    Namun jika kesalahannya tidak merubah makna, maka tidak wajib membenarkannya.

    Sumber : Liqo al Bab Al-Maftuh 3

     
  • Ibnu Rusman 14:19 on 18 December 2010 Permalink | Balas  

    DIANTARA TANDA KEBINASAAN 

    Asy-Syaikh Hamid Khamis al-Junaiby hafizhahullah berkata:

    ‏إذا رأيت الداعية كثير الثناء على نفسه؛ فأيقن أنه قد هلك، ورحم الله عمر بن عبد العزيز حين قال: “إني لأدع كثيراً من الكلام مخافة المباهاة”

    “Jika engkau melihat seorang dai sering memuji dirinya sendiri, maka yakinlah bahwa dia telah binasa. Semoga Allah merahmati Umar bin Abdul Aziz yang berkata:

    إني لأدع كثيراً من الكلام مخافة المباهاة.

    “Sungguh, aku benar-benar meninggalkan banyak bicara, karena aku khawatir akan membanggakan diri.”

     
  • Ibnu Rusman 15:13 on 17 December 2010 Permalink | Balas  

    INILAH KEBEBASAN SEJATI 

    Asy-Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

    الحرية الصحيحة هي اتباع الكتاب والسنة؛ لأنّهما يحرران العقول ويحرران العبيد من الأهواء ومن الشهوات ومن الأفكار ومن الآراء الضالة والشاذة؛ بل يحرران الناس من عبادة الأشجار والأحجار والشيطان والطواغيت

    Kebebasan yang benar adalah mengikuti al-Kitab dan As-Sunnah. Karena keduanya membebaskan akal-akal, membebaskan para hamba dari hawa nafsu, dari syahwat, dari pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat yang sesat lagi menyimpang.
    Bahkan keduanya membebaskan manusia dari penghambaan kepada pepohonan, bebatuan, setan dan para thaghut.

    وهذه هي الحرية الصحيحة، تكون باتباع الكتاب والسنة، وأما مخالفة الكتاب والسنة فهذه عبودية وليست حرية، فيكونون عبيد أهوائهم، وعبيد أفكارهم ورغباتهم، وعبيد من قلَّدوهم على ضلال

    Dan ini adalah kebebasan yang sejati, bisa terjadi dengan mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah. Adapun menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah maka ini adalah sebuah perbudakan, bukan kebebasan. Maka mereka menjadi budak bagi hawa nafsu-hawa nafsu mereka, menjadi budak bagi pemikiran-pemikiran dan keinginan mereka, menjadi budak bagi orang-orang yang mereka jadikan tempat bertaklid dalam kesesatan.

    [Bayan Al-Ma’aniy fi syarh Muqaddimah Ibnu Abi Zaid Al-Qirawani 91].

     
  • Ibnu Rusman 15:08 on 15 December 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    BOLEH SAFAR DI HARI JUM’AT, SELAMA BUKAN UNTUK MENGHINDARI KEWAJIBAN SHALAT JUM’AT

    Umar radhiyallahu anhu mendengar seseorang mengatakan, “Seandainya hari ini bukan hari Jum’at, niscaya saya akan bepergian.”

    Maka beliau berkata:

    ‏فاخرج، فإن الجمعة لا تحبس عن سفر.

    “Bepergianlah, karena Jum’at tidak menghalangi atau menahan safar.”

    Shahih, diriwayatkan oleh asy-Syafi’iy dalam al-Umm, jilid 1 hlm. 218

     
  • Ibnu Rusman 00:28 on 11 December 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    PERKARA PERTAMA YANG DIANGGAP MUNGKAR OLEH SALAF

    berkata Ibnu Rajab rahimahullah:

    *«روي عن بعض السلف أن أول ما استنكر من أمر الدين لعب الصبيان في المساجد*»

    “Telah diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa perkara pertama yang dianggap mungkar dari perkara agama ini ialah anak-anak bermain di dalam mesjid.”

    [fathul bari, ibnu rajab (2/558)]

     
  • Ibnu Rusman 00:44 on 10 December 2010 Permalink | Balas  

    HUKUM SHALAT DENGAN MENGGUNAKAN SEPATU/SENDAL 

    pertanyaan:

    Telah terjadi debat antara kami dan antara jamaah seputar shalat dengan menggunakan sepatu/sendal, sebagian orang berpendapat: bahwa perkara ini boleh, dan sebagian yang lain berpendapat dengan selain itu (tidak boleh)?

     

    jawab

    Shalat dengan menggunakan sepatu/sendal adalah sunnah, adalah Nabi shallallahu alahi wasallam pernah shalat dengan menggunakan kedua sendalnya dan kedua khufnya (sepatu), dan mengerjakan shalat dengan menggunakan kedua sendal dan khuf yang keduanya suci adalah sunnah yang pernah Nabi shallallahu alahi wasallam melakukannya, dan beliau alahis shalatu wa salam bersabda:

    إِنَّ الْيَهُوْدَ لَا يُصَلُّوْنَ فِى خِفَافِهِمْ وَلَا نِعَالِهِمْ فَخَالِفُوْهُمْ

    “Sesungguhnya orang-orang yahudi tidak shalat dengan menggunakan khuf-khuf dan sendal-sendal mereka maka selisihilah mereka.”

    Maksudnya bahwa itu adalah sunnah, adalah beliau shallallahu alahi wasallam pernah mengerjakan shalat dengan menggunakan kedua sendalnya, akan tetapi wajib bagi seorang mukmin jika ia ingin jika ia telah dekat dari mesjid memperhatikan kedua sendal atau kedua khufnya, jika padanya terdapat kotoran (najis) ia harus menghilangkan kotoran tersebut kemudian ia masuk, tidak boleh ia meremehkan di dalam perkara ini bahkan wajib ia memperhatikan kedua sendal dan kedua khufnya hingga ia menghilangkan kotoran (najis) yang ada padanya kemudian ia mengerjakan shalat dengan menggunakan keduanya hingga ia tidak mengotori mesjid dan pakaiannya, dan tatkala mesjid digelarkan karpet di masa ini maka yang lebih utama adalah melepaskan kedua sendal ketika berada di pintu (mesjid) atau ditempat apapun agar ia tidak mengotorinya dengan tanah-tanah atau sebagian kotoran yang padanya manusia meremehkannya; karena dominannya makhluk ini tidak perhatian dengan kedua sendalnya dan ia tidak perduli sedangkan manusia masa sekarang ini merasa jijik dengan sesuatu yang kecil pun, maka yang aku nasehatkan dengannya di dalam semisal ini dikarenakan adanya perubahan kondisi dan adanya karpet-karpet bahwa ia harus melepaskan keduanya dan menempatkannya di suatu tempat hingga ia mengerjakan shalat, hingga ia tidak mencemari dan mengotori karpet-karpet, dan hingga ia tidak membuat manusia lari dari shalat berjamaah.”

     

    ✍️ Oleh Asy Ibnu Baz rahimahullah

     
  • Ibnu Rusman 00:26 on 10 December 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    MENUNDUKAN PANDANGAN

    berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:

    «‏ فمن غض بصره عما حرم الله عز وجل عليه ؛ عوَّضه الله تعالى مِن جِنسه ما هو خير منه ».

    “Barang siapa menundukkan pandangannya dari apa yang Allah azza wa jalla haramkan atasnya niscaya Allah akan menggantikannya dari yang sejenisnya apa yang lebih baik darinya.”

    [ighatsatul lahfan (1/48)]

     
  • Ibnu Rusman 23:44 on 7 December 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    MAKNA WARA 

    Ibrohim bin Adham berkata:

    “Wara adalah meninggalkan setiap perkara samar. Dan meninggalkan apa yang bukan urusanmu adalah meninggalkan hal yang berlebihan.

    Ibnu Taimiyah –semoga Allah merahmatinya- berkata:

    “Adapun wara, maknanya: Menahan diri dari apa-apa yang akan memudaratkan, termasuk di dalamnya perkara-perkara haram dan samar, karena semuanya itu dapat memudaratkan. Sungguh siapa yang menghindari perkara samar telah menyelamatkan kehormatan dan agamanya. Siapa yang terjerumus pada perkara samar, terjerumus dalam perkara haram, sebagaimana pengembala yang mengembala di sekitar pagar, tidak ayal akan masuk kedalamnya.”

    (Majmu Fatawa X/617)

    Syaikh Muhammad bin Soleh al-Utsaimin -semoga Allah merahmatinya- berkata:

    Wara adalah: meninggalkan apa yang memudaratkan.

    Di antaranya meninggalkan perkara yang samar hukum dan hakikatnya.

    Pertama: samar hukumnya

    Kedua: samar keadaannya

    Orang yang wara adalah dia yang jika mendapati perkara samar, meninggalkannya, sekalipun dari sisi hukum keharamannya masih diperselisihkan.

    Sedangkan jika samar dalam wajibnya suatu perkara, dia mengerjakannya, agar tidak berdosa jika meninggalkannya.

    (Penjelasan kitab Riyad as-SolihinVI/168)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal