Updates from April, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 00:17 on 23 April 2013 Permalink | Balas
    Tags: CINTA RASUL   

    Berikut ini ringkasan faidah dari Ceramah Fadhilatus Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr ~hafizhahumallah~ di Masjid Istiqlal pada Ahad, 10 Jumadil Akhir 1434 H / 21 April 2013 :

    #1 Cinta kepada Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ termasuk syarat untuk dapat merasakan manisnya keimanan.

    ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار

    Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu); Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam api.” (Muttafaq ‘alaih)

    #2 Lebih mendahulukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia bahkan sampai diri sendiri. Lebih mendahulukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari pada emas, perak dan seluruh alam semesta dan kekayaannya.

    عنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- «لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

    Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku ia lebih cintai daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia.” HR. Bukhari dan Muslim

    #3 Seseorang Akan Bersama Orang yang Dicintainya…

    عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ ، فَقَالَ : مَتَى السَّاعَةُ ؟ ، قَالَ : ” وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا ؟ ” قَالَ : لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : ” أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ” . قَالَ أَنَسٌ : فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ” ، قَالَ أَنَسٌ : فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ , وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ “

    Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Ia berkata, “Kapan hari kiamat terjadi?” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?” Ia menjawab, “Tidak ada sama sekali. Hanya saja, sesungguhnya saya mencintai Allah dan Rosul-Nya.” Maka beliau bersabda, “Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Anas pun mengatakan, “Tidaklah kami berbahagia dengan sesuatu seperti halnya kebahagiaan kami dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Anas berkata, “Karena saya mencintai Nabi, Abu Bakar dan Umar. Dan saya berharap saya bersama mereka karena kecintaan saya kepada mereka, meskipun saya tidak beramal seperti amal mereka.” [HR Bukhari dan Muslim]

    #4 Tidak ada yang lebih cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam daripada generasi terbaik, yaitu generasi para Sahabat Radiyallahu ‘anhum

    #5 Cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam tidak hanya klaim semata, akan tetapi cinta kepada Rasul akan memiliki tanda-tanda, yaitu Mengikuti Ajaran Nabi…

    Ittiba’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya.

    Allah Ta’ala berfirman,

    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

    “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31)

    #6 Tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kedua adalah dengan memperbanyak shalawat dan mengingat Rasulullah…

    Dalam sebuah riwayat dari Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

    “Orang yang bakhil (kikir/pelit) itu ialah orang yang (apabila) namaku disebut disisinya, kemudian ia tidak bershalawat kepadaku shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal no. 1736, dengan sanad shahih)

    #7 Tanda cinta kepada Allah berikutnya adalah rindu ingin melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam… Kerinduan kepada beliau, akan menimbulkan semangat untuk ber-ittiba’ kepada sunnah-sunnah beliau.

    #8 Salah satu sunnah Nabi adalah memperbanyak shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, terlebih bershalawat di hari Jumat

    أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

    “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)

    #9 Jangan memanggil kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagaimana panggilan kepada selain beliau. Cara memanggil beliau adalah dengan mengagungkan beliau tanpa ghuluw atau meremehkannya, juga tidak boleh mengangkat suara kita di atas suara Nabi…

    #10 Salah satu tanda cinta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah mencintai sahabat Nabi dan para istri Nabi.

    #11 Tanda cinta kepada Nabi adalah mencintai orang yang berpegang teguh kepada sunnah dan para da’i pendakwah sunnah…

    #12 Diantara cinta kepada Nabi adalah mencintai beliau dengan kecintaan kepada islam…cintanya ada di pertengahan, yaitu tidak terlalu ghuluw (berlebih2an) dalam mengagungkan dan tidak meremehkan/melecehkan beliau.

    #13 Diantara orang yang meremehkan Nabi adalah karena lemahnya kecintaan kepada beliau, lebih mencintai dunia.

    #14 Diantara orang yang meremehkan Nabi adalah tidak menghormati hadits2 dari Nabi… Mereka sengaja mempertanyakan kenapa begini dan begitu… padahal Nabi tidak berkata dengan hawa nafsunya…

    #15 Diantara orang yang meremehkan Nabi adalah berpaling dari mempelajari sirah Nabi Shallallahu “alaihi Wa Sallam.. Sesungguhnya siroh Nabi adalah sesuci-sucinya siroh…

    #16 Diantara orang yang meremehkan Nabi adalah berbuat bid’ah.. Barangsiapa yang tidak mencintai Nabi maka bukan termasuk umat Nabi.. Barangsiapa yang berbuat amalan yang tidak ada sunnahnya, maka ia akan tertolak.

    #17 Diantara orang yang meremehkan Nabi adalah mencela para sahabat Nabi

    Rasulullah shallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

    لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

    ”Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.” [HR Muslim]

    #18 Jangan berlebih-lebihan (ghuluw) kepada Rasulullah, karena sikap ghuluw telah menghancurkan umat2 sebelum kita… seperti halnya orang2 Nashrani terlalu ghuluw kepada Nabi Isa… SUdah selayaknya kita bersikap tengah2, yaitu tidak berlebih2an dan juga tidak meremehkan beliau.

    #19 Nabi telah menutup segala perkara yang menyimpang dari islam… Rasulullah melarang orang yang ghuluw terhadap beliau, misalnya ketika ada orang yang berkata “masya Allah wa syi’ta”, maka beliau pun melarang perbuatan tersebut.

    #20 Janganlah seseorang melakukan hal2 yang tidak diajarkan dengan alasan ini karena mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam… Niat yang baik tetapi jika tidak sesuai dengan sunnah maka akan tertolak amalannya… Jangan berbuat seperti ini, “aku melakukan ini semata2 karena kami mencintai Nabi” (padahal tidak ada tuntunannya)

    #21 Tata cara kita mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebaiknya mencontoh Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dalam mencintai beliau… Cinta yang benar itu yang diikuti ‘ittiba’ , bukan cinta karena ghuluw.

    #22 Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr dalam menutup kajian ini dengan berdoa dan hamdalah… subhanallah… Semoga kita bisa mengambil faidah dari kajian tadi dan ilmu yang diberikan oleh Fadhilatusy Syaikh bisa bermanfaat untuk kita semua.

     
  • Ibnu Rusman 16:07 on 19 April 2013 Permalink | Balas  

    Imam Al-Ghazali 

    Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.

    Nama, nasab, dan kelahiran Al-Ghazali

    Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:323 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al-Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Al-Mishbah Al-Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al-Ghazali, yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anak dari Situ Al-Mana bintu Abu Hamid Al-Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).

    Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al-Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al-Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al-Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al-Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al-Akhbar, ini pendapat Al-Khafaji.

    Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya, 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:326 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:193 dan 194)

    Kehidupan dan perjalanannya dalam menuntut ilmu

    Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”

    Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”

    Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:193-194).

    Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.

    Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:194)

    Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).

    Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:323 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:191)

    Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.

    Pengaruh Filsafat Dalam Diri Al-Ghazali

    Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa, 6:54)

    Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa, 6:54).

    Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.

    Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala, 19:328)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa, 4:164)

    Polemik Kejiwaan Imam Ghazali

    Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.

    Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al-Arba’in, Al-Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.

    Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami’ Al-Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al-Hafshi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 6:34).

    Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, “An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).

    Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Alquran, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.

    Masa akhir kehidupannya

    Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Imam Adz-Dzahabi berkata, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”

    Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats-Tsabat ‘indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya), “Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, ‘Bawa ke mari kain kafan saya.’ Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.’ Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari).” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 6:34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah, 6:201)

    Karya-karyanya

    Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:

    Pertama, dalam masalah ushuluddin dan akidah:
    1. Arba’in fi Ushuliddin. Merupakan juz kedua dari kitab beliau Jawahirul Qur’an.
    2. Qawa’idul Aqa’id, yang beliau satukan dengan Ihya’ Ulumuddin pada jilid pertama.
    3. Al Iqtishad fil I’tiqad.
    4. Tahafut Al-Falasifah. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.
    5. Faishal At-Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.

    Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat, manthiq dan tasawuf, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya:
    1. Al-Mustashfa min ‘Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, “Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fikih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya.” Tetapi kemudian beliau berkata, “Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar ….” (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al-Mustashfa, hlm. 17 dan 18)

    Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah manthiqnya, “Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya.” (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al-Mustashfa, hlm. 19)

    Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah. beliau berkata, “Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka berarti dia itu manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali tidak mengenal ilmu manthiq!” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.

    2. Mahakun Nadzar.
    3. Mi’yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.
    4. Ma’ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.
    5. Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.
    6. Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. Telah dicetak.
    7. Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.
    8. Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al-Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, “Adapun kitab Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al-Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al-Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:329)

    Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, “Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.
    9. Al-Ajwibah Al-Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.
    10. Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi.
    11. Qanun At-Ta’wil.
    12. Fadhaih Al-Bathiniyah dan Al-Qisthas Al-Mustaqim. Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.
    13. Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al-Mu’tashim Billah Al-Baghdadi.
    14. Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.
    15. Ar-Risalah Alladuniyah.
    16. Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya:
    – Abu Bakar Al Thurthusi berkata, “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya’ dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.” (Dinukil Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:334).
    – Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, “Adapun penjelasan Anda tentang Abu Hamid, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al-Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al-Ihya’ beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadis-hadis palsu.” Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, “Adapun di dalam kitab Ihya’ terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang.” (Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:339-340)
    – Imam Subuki dalam Thabaqat Asy-Syafi’iyah (Lihat 6:287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihya’ dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihya’ dalam kitabnya, Al-Mughni An-Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al-Ihya Minal Akhbar. Kitab ini dicetak bersama kitab Ihya Ulumuddin. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin.
    17. Al-Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya.
    18. Al-Wasith.
    19. Al-Basith.
    20. Al-Wajiz.
    21. Al-Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi’iyah yang beliau tulis. Imam As-Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah, 6:224-227.

    Aqidah dan mazhab beliau

    Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al-Wasith, Al-Basith, dan Al-Wajiz. Bahkan kitab beliau Al-Wajiz termasuk buku induk dalam Mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz Zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi Asy-Syafi’i.”

    Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al-Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.

    Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.

    Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad, hlm. 110).

    Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al-Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al-Maqshad Al-Asna, Jawahirul Qur’an dan Al-Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al-Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:

    Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga akidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al-Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam akidahnya.

    Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah, 2:628).

    Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al-Ghazali, bahwa tasawuf Al-Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al-Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al-Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al-Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al-Juhani, 2:928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al-Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al-Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al-Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad, hlm. 111)

    Tetapi perlu diketahui, bahwa pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah meninggalkan filsafat dan ilmu kalam, dengan menekuni Shahih Bukhari dan Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penulis Jawahirul Qur’an (Al-Ghazali, pen.) karena banyak meneliti perkataan para filosof dan merujuk kepada mereka, sehingga banyak mencampur pendapatnya dengan perkataan mereka. Pun beliau menolak banyak hal yang bersesuaian dengan mereka. Beliau memastikan, bahwa perkataan filosof tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Demikian juga halnya perkataan ahli kalam. Pada akhirnya beliau menyibukkan diri meneliti Shahih Bukhari dan Muslim hingga wafatnya dalam keadaan demikian. Wallahu a’lam.”

    Rujukan:
    http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-1.html
    http://muslim.or.id/biografi/sejarah-hidup-imam-al-ghazali-2.html

     
  • Ibnu Rusman 16:00 on 14 April 2013 Permalink | Balas  

    Imam Ali Al-Madini (161–234 H) 

    Ali Al-Madini (161–234 H)

    Beliau adalah Ali bin Abdillah bin Ja’far bin Najih As-Sa’di Al-Madini. Kun-yah beliau adalah “Abul Hasan”. Beliau memiliki banyak gelar kehormatan: Hafizhul ‘Ashr, pemimpin dalam hafalan hadis. Beliau, yang juga produktif dalam karya tulis, dilahirkan pada tahun 161 H.

    Beliau belajar dari bapak beliau, kemudian Hammad bin Zaid, Hasyim, dan Sufyan bin Uyainah, serta banyak lagi ulama yang sezaman dengan mereka. Sementara, murid-murid beliau, antara lain: Adz-Dzuhli, Al-Bukhari, Abu Daud, Abu Ya’la, Al-Baghawi, dan ulama lain sezamannya.

    Pujian untuk Ali Al-Madini

    Abu Hatim Ar-Razi mengatakan, “Ali Al-Madini adalah tanda bagi manusia dalam memahami hadis, cacat hadis. Saya belum pernah mendengar Ahmad bin Hambal menyebut namanya, namun beliau menyebut dengan kun-yahnya, dalam rangka menghormati Ali Al-Madini.” Ibnu Uyainah mengatakan, “Demi Allah, ilmu yang aku ambil darinya itu lebih banyak dibandingkan ilmu yang diambil dariku.”

    Demikian pula, diriwayatkan bahwa An-Nasa’i mengatakan, “Sepertinya, Ali Al-Madini memang diciptakan untuk ilmu hadis.” Al-Bukhari mengatakan, “Saya tidak pernah merasa kerdil di hadapan orang lain dalam masalah hadis, kecuali di hadapan Ali Al-Madini.” Abu Daud mengatakan, “Ali Al-Madini lebih tahu tentang perselisihan hadis daripada Imam Ahmad.”

    Wafatnya Imam Ali Al-Madini

    Beliau meninggal di Samarra (utara Baghdad), pada bulan Dzulqa’dah, tahun 234 H. Imam An-Nawawi mengatakan, “Ali Al-Madini memiliki sekitar dua ratus karya tulis.” (Adz-Dzahabi, Tadzkirah Al-Huffazh, Al-Maktabah Asy-Syamilah, no. urut 436)

    Artikel www.Yufidia.com

     

     
  • Ibnu Rusman 02:08 on 12 April 2013 Permalink | Balas
    Tags:   

    M E N G U A P

    Hampir semua Makhluk Allah dimuka bumi ini selalu “menguap” bahkan sampai bayi yang berumur 11 minggu sudah dapat “menguap“.

    Menguap juga dapat menular yang disebabkan oleh Respon Empatetik, dasar empati manusia perasaan memahami terhadap orang lain.

    Para dokter di zaman sekarang mengatakan, “Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh. Dan hal ini terjadi ketika kita sedang mengantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam. Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung. Apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan “menguap” ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri.

    Hal ini sebagaimana telah disebutkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya ia meletakkan tangannya di mulutnya karena syaithan akan memasukinya.”
    (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabul Mufrad)

    Dalam Syarh Shahih Muslim jilid 9 (18/97) An-Nawawi berkata : “ Menguap sering terjadi bersamaan dengan rasa berat, jenuh, penat, badan cenderung merasa malas. Penyandaran perbuatan tersebut kepada syaithan karena dialah yang mengajak kepada syahwat, dan maksudnya di sini adanya peringatan terhadap sebab yang melahirkan darinya berpuas-puas dan memperbanyak di dalam masalah makanan.

    Adapun menahan menguap maka hal itu adalah PERKARA YANG DISUNNAHKAN, dan tentang hal tersebut banyak hadits-hadits yang menerangkannya, dan diantara hadits-hadits tersebut adalah hadits Abu Hurairah, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Menguap itu dari syaithan maka apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya dia menahannya, dan apabila salah seorang dari kalian ketika menguap mengucapkan “ haah “, syaithan akan menertawakannya”, pada lafazh riwayat Muslim : “Apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya dia menahannya semampunya”. Pada lafazh riwayat Ahmad: “Maka hendaknya dia menahannya semampunya dan janganlah ia mengucapkan “aah haah,” karena sesungguhnya apabila ada salah seorang dari kalian membuka mulutnya maka sesungguhnya syaithan menertawakannya atau tertawa kepadanya” (HR. Al-Bukhari 3289, Muslim 2994, Ahmad 9246, At-Tirmidzi 370, Abu Daud 5028)

    Syaithan tidak hanya menunggu-nunggu kesempatan untuk masuk ke dalam tubuh manusia tatkala menguap. Bahkan, menguap itu sendiri timbul dari sebab perbuatan syaithan.

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Menguap berasal dari syaithan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaknya ia melawan semampunya. Jika dia sampai berucap ‘haah’ (tatkala menguap) maka syaithan akan tertawa karenanya.” (HR. Al-Bukhari)

    Dan dalam riwayat Ahmad: “Apabila salah seorang dari kalian menguap dalam shalat, maka hendaknya dia meletakkan tangannya ke mulutnya, karena syaithan itu masuk bersama menguap”
    (HR. Muslim 2995, Ahmad 10930, Abu Daud 5026, dan Ad-Darimi 1382)

    Catatan penting: Sebagian orang bersandar kepada permohonan perlindungan dari syaithan ketika menguap, ini adalah kesalahan yang nyata.

    Berikut kami kutip penjelasan Syaikh Sulaiman bin Abdillah al-Majid, seorang hakim di Riyadh, beliau menjelaskan : “Dan kami tidak mengetahui adanya sunah yang mengajarkan dzikir atau doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika menguap. Adapun yang banyak tersebar menurut sebagian ulama dan kebanyakan masyarakat, bahwa ketika menguap dianjurkan untuk membaca ta’awudz, berdalil dengan firman Allah, yang artinya: ‘Apabila setan mengganggumu maka mintalah perlindungan kepada Allah.’ Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa menguap itu dari setan. Pendalilan semacam ini, tidak pada tempatnya.

    Beliau menyebutkan alasan,

    “Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengabarkan kepada kita bahwa menguap itu dari setan, beliau tidak mengajarkan kepada kita (untuk membaca ta’awudz), selain perintah untuk menahan dan meletakkan tangan di mulut. Sehingga, andaikan ta’awudz (ketika menguap) disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyebutkannya.”

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Diselesaikan di Pondok Paud Hidayah, Sukahati pada dini hari
    30 Jumadilula 1434 H / 11 April 2013

     
  • Ibnu Rusman 15:04 on 10 April 2013 Permalink | Balas  

    Imaam Al-Haafizh Ibnu Khuzaimah 

    Nama dan nasabnya

    Beliau bernama Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah bin Al-Mughiirah bin Shaalih bin Bakr. Namanya dinisbatkan kepada kakeknya, Khuzaimah, sehingga beliau dikenal dengan nama Ibnu Khuzaimah. Lahir tahun 223 H.

    Kuniyah, nisbat dan laqabnya

    Nama kuniyahnya adalah Abu Bakr, laqabnya adalah Imaamul a’immah (imamnya para imam), beliau berasal dari Nisapur (Naisabur) sehingga biasa disebut An-Naisaabuuriy, dan As-Silmiy yaitu nama qabilah beliau berasal dan dari sanalah beliau dinisbatkan. Demikian yang disebutkan dalam Al-Bidaayah wa An-Nihaayah karya Ibnu Katsiir dan dalam Thabaqaat Al-Fuqahaa’ karya Abu Ishaaq Asy-Syairaaziy.

    Perjalanannya dalam mencari hadits

    Mendengar hadits di negerinya sendiri ketika beliau masih kecil, kemudian beliau mengembara ke ‘Iraaq, Syam, Al-Hijaaz, Mesir, menyimak hadits dan mendengarkannya.

    Para ulama yang beliau riwayatkan haditsnya

    Beliau meriwayatkan dari banyak imam seperti Ahmad bin Manii’, Muhammad bin Raafi’, ‘Aliy bin Hujr, Muhammad bin Basyaar, Muhammad bin Al-Mutsanna, Muhammad bin Ismaa’iil Al-Bukhaariy, Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhliy, Ahmad bin Sayaar Al-Marwaziy, Mahmuud bin Ghailaan, Muhammad bin Abaan Al-Mustamaliy, Ishaaq bin Muusa Al-Kuthamiy, ‘Utbah bin ‘Abdillaah Al-Yahmadiy, Bisyr bin Mu’aadz, Abu Kuraib, Yuunus bin ‘Abdul A’la, Nashr bin ‘Aliy Al-Jahdhamiy, ‘Aliy bin Khasyram, dan lain-lain.

    Para ulama yang meriwayatkan dari beliau

    Diantara para ulama yang meriwayatkan darinya adalah Al-Bukhaariy dan Muslim -didalam kitab selain Ash-Shahiihain-, Muhammad bin ‘Abdillaah bin ‘Abdul Hakam, Abu ‘Amr Ahmad bin Al-Mubaarak Al-Mustamaliy, Ibraahiim bin Abu Thaalib -dan mereka semua adalah para ulama yang lebih senior darinya-, Yahya bin Muhammad bin Shaa’id, Abu ‘Aliy An-Naisaabuuriy, Ishaaq bin Sa’ad An-Naswiy, Abu ‘Amr bin Hamdaan, Abu Haamid Ahmad bin Muhammad bin Baaliwaih, Abu Bakr Ahmad bin Mihraan Al-Muqriy, Muhammad bin Ahmad bin ‘Aliy bin Nashr Al-Mu’addil, cucunya yaitu Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad bin Ishaaq, Abu Haatim bin Hibbaan Al-Bustiy (Imam Ibnu Hibbaan), Abul Qaasim Ath-Thabraaniy (Imam Ath-Thabraaniy), Abu Ahmad ‘Abdullaah bin ‘Adiy Al-Jurjaaniy (Imam Ibnu ‘Adiy), dan lain-lain.

    Pujian para ulama untuknya

    Beliau banyak dipuji oleh para ulama di zamannya maupun setelahnya sebagai seorang yang bagus ‘aqidahnya, banyak ilmu dan karya-karyanya.

    Abu ‘Utsmaan Az-Zaahid berkata :
    إن الله ليدفع البلاء عن أهل نيسابور بابن خزيمة
    “Sesungguhnya Allah menghilangkan kesusahan penduduk Nisapur melalui Ibnu Khuzaimah.”

    Cucunya, Muhammad bin Al-Fadhl berkata :
    كان جدي لا يدخر شيئاً بل ينفقه على أهل العلم ولا يعرف الشح ولا يميز بين العشرة والعشرين
    “Kakekku tidak meninggalkan sesuatu kecuali dia telah menginfakkannya pada ahli ilmu dan tidaklah kami ketahui harta yang ia simpan dan tidak kami kenali kecuali hanya 10-20 (dirham).”

    Abu ‘Aliy An-Naisaabuuriy berkata :
    لم أرَ مثل ابن خزيمة
    “Aku tidak pernah melihat orang semisal Ibnu Khuzaimah.”
    كان ابن خزيمة يحفظ الفقهيات من حديثه كما يحفظ القارئ السورة
    “Ibnu Khuzaimah adalah penghapal masalah-masalah fiqh dari hadits-haditsnya sebagaimana hapalnya seorang qari’ terhadap surat (Al-Qur’an).”

    Abu Haatim bin Hibbaan berkata :
    ما رأيت على وجه الأرض من يحسن صناعة السنن ويحفظ ألفاظها الصحاح وزياداتها حتى كأن السنن بين عينيه إلا محمد بن إسحاق بن خزيمة فقط
    “Aku tidak pernah melihat di permukaan bumi ini orang yang membaguskan sunnah-sunnah, menghapal lafazh-lafazh shahih dan tambahannya hingga seolah-olah sunnah-sunnah itu berada di antara kedua matanya kecuali seorang Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah saja.
    لم نرَ مثله في حفظ الإسناد والمتن
    “Aku tidak pernah melihat orang sepertinya dalam menghapal sanad dan matan (hadits).”

    Ad-Daaruquthniy berkata :
    كان ابن خزيمة إماماً ثبتاً معدوم النظير
    “Ibnu Khuzaimah seorang imam tsabat, tidak ada bandingannya.”

    Abul ‘Abbaas bin Suraij berkata :
    يستخرج النكت من حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم بالمنقاش
    “Beliau mengeluarkan intisari dari hadits-hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan ukiran.” (maksudnya beliau melakukannya dengan begitu indah sebagaimana ukiran seorang pemahat).

    Ibnu Abi Haatim ditanya mengenai Ibnu Khuzaimah, ia berkata :
    ويحكم هو يسأل عنا ولا يُسأل عنه هو إمام يُقتدى به
    “Celaka kamu! Beliaulah yang seharusnya ditanya tentang kami. Janganlah bertanya tentangnya. Beliau adalah seorang imam yang dijadikan teladan.”
    هو ثقة صدوق
    “Beliau seorang yang terpercaya dan jujur.”

    Adz-Dzahabiy berkata dalam kitab At-Tadzkirah :
    الحافظ الكبير إمام الأئمة شيخ الإسلام
    “Al-Haafizh Kabiir, imamnya para imam, Syaikhul Islaam.”
    هذا الإمام كان فريد عصره
    “Beliau seorang imam yang tak tertandingi di masanya.”

    Abu Ishaaq Asy-Syairaaziy berkata :
    وكان يقال له إمام الأئمة وجمع بين الفقه والحديث
    “Beliau dijuluki imamnya para imam yang menggabungkan diantara fiqh dan hadits.”

    Ibnu Katsiir berkata dalam Al-Bidaayah :
    كان بحراً من بحور العلم طاف البلاد ورحل إلى الآفاق في الحديث وطلب العلم
    “Beliau adalah lautan dari lautan-lautan ilmu, berjalan ke berbagai negeri dan rihlah untuk mencari hadits dan menuntut ilmu.”

    Karya-karya beliau

    Abu ‘Abdillaah Al-Haakim berkata dalam Ma’rifatu ‘Uluumul Hadiits hal. 104 :
    فضائل هذا الإمام ومصنفاته تزيد على مائة وأربعين كتاباً سوى المسائل والمسائل المصنفة أكثر من مائة جزء فإن فقه حديث بريرة ثلاثة أجزاء ومسألة الحج خمسة أجزاء” انتهى
    “Imam yang mulia ini telah menghasilkan lebih dari 140 kitab selain dari Al-Masaa’il dan tulisannya mencapai lebih dari 100 juz. Karya beliau dalam fiqh hadits ada 3 juz, dan dalam permasalahan haji ada 5 juz.” Akhir kutipan.

    Ibnu Katsiir berkata :
    كتب الكثير وصنف وجمع وكتابه الصحيح من أنفع الكتب وأجلها
    “Beliau menghasilkan banyak kitab, catatan dan kitab Jami’, dan yang paling terkenal adalah kitab shahihnya (Shahiih Ibnu Khuzaimah) dari semua kitab-kitabnya.”

    Kitab-kitab beliau banyak yang hilang dan tidak sampai kepada masa kita sekarang, kecuali hanya sedikit dan disimpan di Maktabah Al-Islaamiyyah termasuk kitab Tauhiid yang telah dicetak dan sebagian juznya yang merupakan bagian dari kitab shahihnya ditemukan oleh Dr. Muhammad Mushthafa Al-A’zhamiy di Maktabah di Istanbuul yang terdaftar dengan nomor 348, jumlah lembar kertas sebanyak 301 lembar.

    Wafatnya beliau

    Abu Bakr Ibnu Khuzaimah wafat pada hari kedua di bulan Dzulqa’dah, tahun 311 H. Disebutkan mengenai wafatnya beliau oleh Adz-Dzahabiy dalam At-Tadzkirah dan Al-‘Iraaqiy dalam Muqaddimah Tharhut Tatsriib. Adz-Dzahabiy berkata Ibnu Khuzaimah wafat pada usia 88 tahun. Abu Ishaaq Asy-Syairaaziy berkata dalam Thabaqaat Al-Fuqahaa’, Ibnu Khuzaimah wafat pada tahun 312 H. Yang shahih adalah tahun 311 H sebagaimana disebutkan Adz-Dzahabiy dalam Al-‘Ibar, Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah, Ibnul ‘Imaad dalam Syadzaraatu Adz-Dzahab dan As-Subkiy dalam Thabaqaat Asy-Syaafi’iyyah.

    Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau dan memasukkannya dalam jannahNya bersama orang-orang yang mencintainya.

    Sumber :

    1. Al-‘Ibar 2/149, Tadzkiratul Huffaazh 2/287, keduanya karya Adz-Dzahabiy.
    2. Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 11/149, karya Ibnu Katsiir.
    3. Thabaqaat Al-Fuqahaa’ hal. 105, karya Abu Ishaaq Asy-Syairaaziy.
    4. Thabaqaat Asy-Syaafi’iyyah 2/130, karya As-Subkiy.
    5. Al-Jarh wa At-Ta’diil 2/3/196, karya Ibnu Abi Haatim.
    6. Syadzaraat Adz-Dzahab 2/262, karya Ibnul ‘Imaad.
    7. Tharhut Tatsriib 1/96, karya Al-‘Iraaqiy.
    8. Mu’jam Al-Mu’allifiin 9/39, karya ‘Umar Ridhaa Kahaalah.
    9. At-Taaj Al-Mukallal hal. 297, karya Shiddiiq Hasan Khaan.

    Mengambil faidah dari : http://www.alathar2.net/forum/showthread.php?t=6004

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal