Tagged: AHLUL HADITS Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 16:21 on 22 May 2011 Permalink | Balas
    Tags: AHLUL HADITS, ,   

    PRINSIP-PRINSIP IMAM ASY-SYAFI’I DALAM BERAGAMA (Bag.2) 

    MEMBELA HADITS NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم

    Hadits Ahad Hujjah Menurut Imam Syafi’i
    Masalah ini telah dibahas tuntas dan panjang lebar oleh Imam Syafi’i dalam banyak kesempatan. Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Kelompok ketiga mengatakan: “Kami menerima hadits-hadits Nabi r yang mutawatir dan kami menolak hadits-hadits ahad[1] baik berupa ilmu maupun amal. Syafi’i telah berdialog dengan sebagian manusia pada zamannya tentang masalah ini, kemudian Syafi’i mematahkan syubhat (kerancuan) lawannya dan menegakkan hujjah-hujjah kepadanya. Syafi’i membuat satu bab yang panjang tentang wajibnya menerima hadits ahad. Tidaklah beliau dan seorangpun dari ahli hadits membedakan antara hadits masalah ahkam (hukum) dan sifat (aqidah). Paham pembedaan seperti tidaklah dikenal dari seorangpun dari sahabat dan satupun dari tabi’in dan tabi’ut tabi’in maupun seorangpun dari kalangan imam Islam. Paham ini hanyalah dikenal dari para gembong Ahli bid’ah beserta cucu-cucunya”.[2]

    Di antara kata mutiara Imam Syafi’i tentang masalah ini adalah nukilan beliau tentang ijma’ ulama akan hujjahnya hadits ahad apabila shohih dari Nabi, beliau berkata:

    لَمْ أَحْفَظْ عَنْ فُقَهَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ أَنَّهُمْ اخْتَلَفُوْا فِيْ تَثْبِيْتِ خَبَرِ الْوَاحِدِ
    “Saya tidak mendapati perselisihan pendapat di kalangan ahli ilmu tentang menerima hadits ahad”. [3]

    Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Ahli ilmu dari kalangan pakar fiqih dan hadits di setiap negeri -sepanjang pengetahuan saya- telah bersepakat untuk menerima hadits ahad dan mengamalkannya. Inilah keyakinan seluruh ahli ilmu pada setiap masa semenjak masa sahabat hingga saat ini kecuali kelompok khowarij dan ahli bid’ah yang perselisihan mereka tidaklah dianggap”.[4]

    Imam Abu Mudhoffar as-Sam’ani berkata: “Sesungguhnya suatu hadits apabila telah Shohih dari Rosululloh shalallahu’alaihi wasallam maka dia mengandung ilmu. Inilah perkataan seluruh ahli hadits dan sunnah. Adapun paham yang menyatakan bahwa hadits ahad tidak mengandung ilmu dan harus berderajat mutawatir, maka paham ini hanyalah dibuat-buat oleh kaum Qodariyah dan Mu’tazilah dengan bertujuan menolak hadits Nabi. Paham ini kemudian diusung oleh orang-orang belakangan yang tidak berilmu mantap dan tidak mengetahui tujuan paham ini. Seandainya setiap kelompok mau adil, sungguh mereka akan menetapkan bahwa hadits ahad mengandung ilmu karena engkau lihat sekalipun keadaan mereka yang compang-camping dan beragam aqidah mereka, namun setiap kelompok dari mereka berhujjah dengan hadits ahad untuk menguatkan pahamnya masing-masing”.[5]

    Imam Ibnul Qosh asy-Syafi’i berkata: “Sesungguhnya ahli kalam (filsafat) itu menolak hadits ahad disebabkan lemahnya dia tentang ilmu hadits. Dia menganggap dirinya tidak menerima hadits kecuali yang mutawatir berupa khabar yang tidak mungkin salah atau lupa. Hal ini menurut kami adalah sumber untuk menggugurkan sunnah al-Musthafa r.” [6]

    Para ulama kita telah membahas tuntas dan panjang masalah ini, sehingga tidak perlu bagi kami untuk memerincinya di sini.[7]

    Tidak Mungkin Al-Qur’an Bertentangan Dengan Hadits
    Harus kita yakini bahwa dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits yang shahih tidaklah saling bertentangan sama sekali karena keduanya dari Allah. Allah berfirman:

    أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً
    Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa’: 82)

    Inilah yang ditegaskan oleh Imam Syafi’i tatkala berkata:

    وَلاَ تَكُوْنُ سُنَّةٌ أَبَدًا تُخَالِفُ الْقُرْآنَ
    “Tidak mungkin sunnah Nabi r menyelisihi Kitabullah sama sekali.”[8]

    Bahkan beliau menilai ucapan seseorang bahwa “hadits apabila menyelisihi tekstual al-Qur’an, tertolak” adalah suatu kejahilan. [9]

    Apabila Hadits Bertentangan dengan Pendapat
    Imam Syafi’i telah berwasiat emas kepada kita semua apabila ada hadits yang bertentangan dengan pendapat kita, maka hendaknya kita mendahulukan hadits dan berani meralat pendapat kita.

    Imam Ibnu Rojab berkata: “Adalah Imam Syafi’i sangat keras dalam hal ini, beliau selalu mewasiatkan kepada para pengikutnya untuk mengikuti kebenaran apabila telah nampak kepada mereka dan memerintahkan untuk menerima sunnah apabila datang kepada mereka sekalipun menyelisihi pendapat beliau”.[10]

    Syaikh Jamaluddin Al-Qosimi juga berkata: “Imam Syafi’i sangat mengangungkan Sunnah, mendahulukan sunnah daripada akal, kapan saja sampai kepada beliau sebuah hadits maka beliau tidak melampui kandungan hadits tersebut”.[11]

    Banyak sekali bukti akan hal itu. Cukuplah sebagian nukilan berikut sebagi bukti akan hal itu:

    1. Robi’ (salah seorang murid senior Syafi’i) berkata: “Saya pernah mendengar Imam Syafi’i meriwayatkan suatu hadits, lalu ada seorang yang hadir bertanya kepada beliau: “Apakah engkau berpendapat dengan hadits ini wahai Abu Abdillah? Beliau menjawab:

    مَتَى رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ حَدِيْثًا صَحِيْحًا وَلَمْ آخُذْ بِهِ، فَأُشْهِدُكُمْ أَنَّ عَقْلِيْ قَدْ ذَهَبَ
    “Kapan saja saya meriwayatkan sebuah hadits shohih dari Rasulullah kemudian saya tidak mengambilnya, maka saksikanlah dan sekalian jama’ah bahwa akalku telah hilang”.[12]

    2. Imam Syafi’i juga berkata:

    يَا ابْنَ أَسَدٍ اقْضِ عَلَيَّ حَيِيْتُ أَوْ مِتُّ أَنَّ كُلَّ حَدِيْثٍ يَصِحُّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ فَإِنِّيْ أَقُوْلُ بِهِ وَإِنْ لَمْ يَبْلُغْنِيْ
    “Wahai Ibnu Asad, putuskanlah atasku, baik aku masih hidup atau setelah wafat bahwa setiap hadits yang shahih dari Rasulullah, maka sesungguhnya itulah pendapatku sekalipun hadits tersebut belum sampai kepadaku”.[13]

    3. Al-Humaidi (salah seorang murid Syafi’i) berkata: “Suatu kali Imam Syafi’i meriwayatkan suatu hadits, lalu saya bertanya kepada beliau: Apakah engkau berpendapat dengan hadits tersebut? Maka beliau menjawab:

    رَأَيْتَنِيْ خَرَجْتُ مِنْ كَنِيْسَةٍ، أَوْ عَلَيَّ زُنَّارٌ، حَتَّى إِذَا سَمِعْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم حَدِيْثًا لاَ أَقُوْلُ بِهِ وَلاَ أُقَوِّيْهِ؟
    “Apakah kamu melihatku keluar dari gereja atau memakai pakaian para pendeta sehingga bila aku mendengar sebuah hadits Rasulullah, aku tidak berpendapat dengan hadits tersebut dan tidak mendukungnya?!!”.[14]

    “Dalam ucapan ini terdapat bantahan yang jelas bagi para ahli taklid yang taklid buta pada imam atau madzhab tertentu sehingga ketika didatangkan kepada mereka hadits Nabi yang shahih, mereka berpaling seraya mengatakan: Kami bermazdhab Syafi’i, atau madzhab kami Abu Hanifah dan sebagainya.

    Lihatlah bagaimana Imam Syafi’i merasa heran dan mengingkari seorang yang bertanya kepadanya: Apakah engkau akan mengambil hadits yang engkau riwayatkan? Perhatikanlah wahai saudaraku bagaimana jawaban Imam Syafi’i, beliau menyamakan orang yang meninggalkan hadits dengan orang Nashrani yang kafir?!!!”.[15]

    4. Imam Syafi’i berkata: “

    إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ
    “Apabila ada hadits shohih maka itulah madzhabku”.[16]

    Ucapan emas dan berharga ini memberikan beberapa faedah kepada kita:

    a. Madzhab Imam Syafi’i dan pendapat beliau adalah berputar bersama hadits Nabi. Oleh karena itu, seringkali beliau menggantungkan pendapatnya dengan shahihnya suatu hadits seperti ucapannya “Apabila hadits Dhuba’ah shahih maka aku bependapat dengannya”, “Apabila hadits tentang anjuran mandi setelah memandikan mayit shohih maka aku berpendapat dengannya” dan banyak lagi lainnya sehingga dikumpulkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab berjudul “Al-Minhah Fiima ‘Allaqo Syafi’i Al-Qoula Fiihi Ala Sihhah”.[17]

    b. Hadits yang lemah dan palsu bukanlah madzhab Imam Syafi’i, karena beliau mensyaratkan shohih.

    Imam Nawawi berkata menjelaskan keadaan Imam Syafi’i: “Beliau sangat berpegang teguh dengan hadits shahih dan berpaling dari hadits-hadits palsu dan lemah. Kami tidak mendapati seorangpun dari fuqoha’ yang perhatian dalam berhujjah dalam memilah antara hadits shohih dan dho’if seperti perhatian beliau. Hal ini sangatlah nampak sekali dalam kitab-kitabnya, sekalipun kebanyakan sahabat kami tidak menempuh metode beliau”.[18]

    Al-Hafizh al-Baihaqi juga berkata setelah menyebutkan beberapa contoh kehati-hatian beliau dalam menerima riwayat hadits: “Madzhab beliau ini sesuai dengan madzhab para ulama ahli hadits dahulu”.[19]

    c. Imam Syafi’i tidak mensyratakan suatu hadits itu harus mutawatir, tetapi cukup dengan shohih saja, bahkan beliau membantah secara keras orang-orang yang menolak hadits shohih dengan alasan bahwa derajatnya hanya ahad bukan mutawatir!!

    Demikianlah beberapa contoh pengagungan beliau terhadap sunnah Nabi dan peringatan keras beliau terhadap menolak Sunnah Nabi. Maka ambilah pelajaran wahai orang yang berakal!!.

    Kesimpulan:

    Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa Imam Syafi’i betul-betul layak dengan gelar “pembela hadits” karena pembelaanya kepada hadits Nabi dan bantahannya kepada para penghujat hadits. Dan beliau juga telah meletakkan kaidah-kaidah penting, seperti:

    1. Hadits adalah hujjah seperti halnya Al-Qur’an

    2. Hadits Ahad adalah Hujjah baik dalam aqidah maupun hukum

    3. Hadits tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur’an

    4. Hadits harus lebih didahulukan daripada pendapat seorang.

    Sumber : Makalah Dauroh Akbar Medan 2011

    —————————-
    [1] Mutawatir secara bahasa berurutan atau beriringan. Adapun secara istilah yaitu hadits yang diriwayatkan dari jalan yang sangat banyak sehingga mustahil kalau mereka bersepakat dalam kedustaan karena mengingat banyak jumlahnya dan keadilannya serta perbedaan tempat tinggalnya. Ahad secara bahasa satu Adapun secara istilah yaitu hadits yang diriwayatkan dari satu jalan, dua atau lebih tetapi tidak mencapai derajat mutawatir. (Lihat Akhbarul Ahad fil Hadits Nabawi hlm. 40, 48 oleh Abdullah al-Jibrin, Taisir Mustholah Hadits hlm. 23, 27 oleh Dr. Mahmud ath-Thohan).

    [2] Mukhtashor Showaiq Al-Mursalah (2/433-435).

    [3] Ar-Risalah hal. 457.

    [4] At-Tamhid 1/6.

    [5] Al-Intishor Li Ashabil Hadits hlm. 34-35.

    [6] Dinukil oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 1/281.

    [7] Lihatlah kitab Al-Hadits Hujjah bi Nafihi fil Aqoid wal Ahkam dan Wujub Al-Akhdhi bi Haditsil Ahad fil Aqidah war Roddu Ala Syubahil Mukholifin, keduanya karya Syaikh al-Albani.

    [8] Jima’ul Ilmi hlm. 124, Ar-Risalah hal. 546.

    [9] Ikhtilaf Hadits hal. 59.

    [10] Al-Farqu Baina Nashihah wa Ta’yir hlm. 9.

    [11] Syarh Al-Arba’in Al-Ajluniyyah hlm. 262.

    [12] Al-Faqih wal Mutafaqqih 1/389 oleh al-Khothib al-Baghdadi.

    [13] Al-I’tiqod hlm. 133 oleh al-Baihaqi.

    [14] Manaqib Syafi’i 1/475 oleh al-Baihaqi.

    [15] Silsilah Atsar Shahihah hlm. 25.

    [16] Hilyatul Auliya’ 9/170 oleh Abu Nu’aim dan dishohihkan an-Nawawi dalam Al-Majmu’ 1/63. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ucapan ini masyhur dari beliau”. (Tawali Ta’sis hlm. 109). Dan as-Subki memiliki kitab khusus tentang ucapan ini berjudul “Makna Qoulil Imam Al-Muthollibi Idha Shohhal Haditsu Fahuwa Madzhabi”.

    [17] Lihat Tawali Ta’sis hlm. 109 oleh Ibnu Hajar, Mu’jam Al-Mushonnafat Al-Waridah fi Fathil Bari hlm. 415 oleh Syaikhuna Masyhur bin Hasan Salman.

    [18] Al-Majmu’ 1/28.

    [19] Risalah Al-Baihaqi ila al-Juwaini sebagaimana dalam Thobaqot Syafi’iyyah 5/81.

    Iklan
     
  • Ibnu Rusman 01:40 on 14 July 2010 Permalink | Balas
    Tags: AHLUL HADITS, ,   

    ALLAMAH ABU NU’AIM AL ASHBAHANI RAHIMAHULLAH DAN TUDUHAN PALSU ATAS DIRINYA 

    Tokoh ini lebih dikenal dengan sebutan Abu Nu’aim al Ashbahani. Nama Ashbahan yang menjadi nisbat pada namanya, merupakan sebuah kota yang sampai sekarang masih ada, terletak di Negara Iran. Kadang, dikenal juga dengan sebutan Ashfahan. Abu Nu’aim sendiri memiliki nama, Ahmad bin ‘Abdullah bin Ahmad bin Ishaq bin Musa bin Mihran. Dia dilahirkan pada bulan Rajab 336 H. Ada juga yang berpendapat, ia lahir tahun 334 H. Dan beliau meninggal pada 20 Muharram 430 H dalam usia 94 tahun. Demikian berdasarkan paparan para ulama yang menuliskan biografinya. Usia beliau banyak dihabiskan dengan belajar, mengajar dan menulis.

    Abu Nu’aim menceritakan bahwa Mihran, ialah kakek moyangnya yang pertama kali masuk Islam. Dia sebagai maula ‘Abdullah bin Mu’awiyah bin ‘Abdillah bin Ja’far bin Abi Thalib.

    Sejak usia masih belia, Abu Nu’aim telah mengarungi dunia thalabul ‘ilmi, lantaran perhatian besar sang ayah kepadanya. Maka berkat kemampuan ilmiahnya, tak ayal, gelar imam, ats tsiqah, ‘allamah serta Syaikhul Islam telah tersemat padanya. Sampai-sampai adz Dzahabi menyatakan,”Tokoh-tokoh ilmu dunia telah memberikan ijazah baginya pada tahun 340-an H, padahal usianya baru 6 tahun.” [1] Dia mendapatkan ijazah (rekomendasi untuk meriwayatkan) dari banyak ulama, tanpa ada orang lain yang menyamainya. Abu Muhammad bin Faris, adalah orang pertama yang memberikannya.

    Beliau tidak hanya piawai dalam disiplin ilmu hadits. Dalam medan qira`ah pun, kemampuannya terakui. Beliau telah meriwayatkan banyak qira`ah langsung melalui ath Thabrani. Abul Qasim al Hudzali mengambil ilmu qira`ah darinya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Ibnul Jazari menulis biografi Abu Nu’aim dalam karyanya, Ghayatun Nihayah fi Thabaqatil Qurra`.

    Ilmu fiqih juga termasuk bidang yang beliau kuasai. Sehingga Abu Nu’aim terkenal sebagai ahli fiqih dalam madzhab Syafi’i. Karenanya, as Subki, al Isnawi dan Ibnu Hidayatullah memasukkannya dalam Thabaqat asy Syafi’iyyah.

    ABU NU’AIM BUKAN PENGIKUT SYIAH
    Tuduhan yang dialamatkan kepadanya sebagai pengikut Syiah adalah batil. Ini merupakan pemalsuan yang dilakukan oleh kelompok Syiah atasnya. Klaim semacam ini dikutip oleh al Khawansari di Raudhatul Jannat dengan menyertakan komentar ulama Syiah untuk menguatkan pernyataannya.

    Di antara tulisan ulama Syiah yang ia salin, yaitu milik Muhammad al Khatun Abadi. Adapun di antara tokoh ulama awam [2] yang aku ketahui terpengaruh Syiah al Hafizh Abu Nua’im seorang ahli hadits di Ashbahan, penulis kitab Hilyatul Auliya`….ia termasuk ulama hadits dari kalangan ‘awam’ dalam penampilan lahiriahnya, namun batinnya murni berkeyakinan Syiah. Ia melakukan taqiyah karena kondisi menuntutnya demikian. Oleh karenanya, Anda melihat kitabnya penuh dengan penyebutan keutamaan Amiril Mukminin yang tidak dijumpai di kitab-kitab lainnya.

    Tentu saja anggapan seperti itu sangat lemah. Tidak berdasar, suatu klaim tanpa bukti. Karena sesungguhnya, dalam kitabnya, al Hilyah tersebut, selain meriwayatkan keutamaan-keutamaan ‘Ali, Abu Nu’aim juga membawakan riwayat dari para sahabat lainnya. Beliau juga telah menulis kitab Tatsbitu al Imamah wa Tartibul Khilafah dan kitab Ma’rifatush Shahabah. Dua kitab ini, dengan jelas menangkal tuduhan di atas, dan Abu Nu’aim berlepas diri darinya.

    Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan: “Penisbatan riwayat itu kepada Abu Nu’aim tidak serta-merta menunjukkan kalau riwayat tersebut shahih berdasarkan kesepakatan ulama hadits, dari kalangan Sunni maupun Syi’i. Sesungguhnya Abu Nu’aim meriwayatkan hadits-hadits yang dha’if, bahkan ada juga yang maudhu’ berdasarkan kesepakatan ulama hadits dari Sunni maupun Syi’i”.

    ABU NU’AIM BERLEPAS DIRI DARI HADITS-HADITS PALSU
    Tentang hal ini, adz Dzahabi mengatakan: “Aku tidak mengetahui ada dosa padanya -semoga Allah mengampuni- yang lebih parah dikarenakan meriwayatkan hadits-hadits palsu dalam tulisan-tulisannya dengan mendiamkan (tanpa memberi penjelasan)nya”.

    Adz Dzahabi mengulangi perkataan yang serupa, saat menjelaskan apa yang terjadi antara Abu Nua’im dan Ibnu Mandah. Beliau menyatakan : “Komentar Ibnu Mandah terhadap Abu Nua’im sangat pedas, tetapi aku tidak ingin menceritakannnya. Aku tidak mau menerima komentar salah seorang dari mereka terhadap yang lain. Dua-duanya dapat diterima dalam pandanganku. Aku tidak mengetahui dosa dari mereka berdua yang lebih besar disebabkan meriwayatkan hadits-hadits palsu, dan mendiamkan (tanpa memberi penjelasan)nya”.

    Syaikh Masyhur mendudukkan dengan pernyataan beliau : “Perkara di atas tidak hanya terjadi pada kedua orang itu saja. Bahkan kebanyakan muhaddits di masa-masa lalu, apabila mereka telah mengetengahkan hadits disertai sanadnya, mereka telah meyakini diri mereka telah berlepas diri darinya”.[3]

    Syaikhul Islam menyatakan: “Bahwa metode demikian ini dipandang oleh kebanyakan ulama hadits. Mereka menyampaikan semua riwayat yang ada dalam bab tertentu, gunanya untuk diketahui saja, kendatipun ia hanya berhujjah dengan sebagian darinya semata”.[4]

    TUDUHAN ATAS DIRI BELIAU SEORANG ASY’ARI
    Al ‘Askari menempatkan Abu Nu’aim sebagai pengikut Abul Hasan al Asy’ari. Tuduhan ini pun tidak tepat. Adz Dzahabi telah mengutip perkataannya dalam kitab al ‘Uluww lil ‘Aliyyil Ghaffar (176) mengenai gambaran aqidah yang ia yakini, bunyinya : “Manhaj kami adalah manhaj Salaf yang mengikuti al Kitab, as Sunnah dan Ijma’ umat, serta perkara-perkara yang mereka yakini…”.

    Setelah itu, beliau mengungkapkan beberapa hal yang menunjukkan bahwa, dirinya tidak ada sangkut-pautnya dengan tuduhan yang diarahkan kepadanya tersebut.

    BEBERAPA KARYA TULIS ABU NU’AIM AL ASHBAHANI
    Di antara karyanya yang terkenal ialah kitab Hilyatul Auliya`. Kitab ini merupakan karya beliau yang paling terkenal, dan banyak ulama yang menyanjungnya.

    Ibnu al Khalakan mengatakan, kitab al Hilyah termasuk kitab yang bagus. Ibnu Katsir mengatakan, al Hilyah tertuang dalam banyak volume (beberapa jilid), yang menunjukkan luasnya wawasan riwayat beliau, dan banyaknya guru, serta ketahanan dalam menelaah sumbar-sumber hadits dan jalur-jalur periwayatan”.

    Kitab lainnya, yaitu Ma’rifatush Shahabah. Ulama yang menuliskan sejarah sahabat, banyak mengutip dari kitab ini, semisal, Ibnul Atsir, Ibnu ‘Abdir Barr, adz Dzahabi, Ibnu Hajar dan lain-lain.

    Juga masih ada karya lainnya, seperti Dalailu an Nubuwwah, Dzikru Akhbari Ashbahan, Sifatul Jannah, adh Dhu’afa`, dan masih banyak lagi.

    Demikian sekilas riwayat hidup Abu Nu’aim, yang selama hidupnya banyak dihabiskan dengan belajar, mengajar dan menulis. Semoga Allah memberikan limpahan pahala bagi beliau dan menempatkannya di Jannatun Na’im.

    (Diangkat dari muqaddimah tahqiq kitab Fadhilatul ‘Adilain minal Wulah,
    karya Abu Nu’aim Ahmad bin ‘Abdillah bin Ahmad bin Ishaq al Ashbahani (336-430 H), tahqiq Masyhur bin Hasan Alu Salman, Dar al Wathan Cet. I, Th. 1418 H)

    [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
    _______
    Footnote
    [1]. Tadzkiratul Huffazh (1092).
    [2]. Syiah menyebut Ahlu Sunnah dengan sebutan “orang awam”.
    [3]. Tahqiq kitab hlm. 21. Terdapat ungkapan “man asnada faqad ahala (Siapa saja yang telah meriwayatkan sebuah riwayat dengan sanadnya, sungguh ia telah mengalihkan pembaca untuk menilai sendiri sanad tersebut, pent.
    [4]. Minhajus Sunnah, 4/15.

     

     

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal