Tagged: TAZKIYATUN NAFS Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 16:58 on 15 March 2018 Permalink | Balas
    Tags: , TAZKIYATUN NAFS   

    🌈🕌 *KEDURHAKAAN YANG MENGHALANGI SEORANG HAMBA MENUJU ALLAH*

    ✍️ Fadhilatusy Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah berkata:

    🍃🍂… الواجب الحذر من العوائق التي تعوق المرء في سيره إلى الله وبلوغ رضوانه،
    🔘وهــــي ثــــلاثــــة:

    الأول الشرك بالله،
    والثاني البدعة في دين الله،
    والثالث المعاصي بأنواعها ؛

    🔸أما عائق الشرك فالسلامة منه تتم بإخلاص التوحيد لله وإفراده جلّ وعلا بالعبادة .
    🔹وأما عائق البدعة فالسلامة منه تكون بلزوم السنة والاقتداء بهدي النبي صلوات الله وسلامه عليه .
    🔸 وأما عائق المعصية فبمجانبتها وبالتوبة النصوح عند الوقوع في شيء

    ❗️Wajib menjauhi kedurhakaan yang menghalangi perjalanan seorang hamba menuju Allah serta menggapai keridhoanNya.

    Ada 3 bentuk kedurhakaan:
    1️⃣Syirik kepada Allah
    2️⃣Bid’ah dalam agama
    3️⃣Kemaksiatan dengan berbagai jenisnya

    🔸Kedurhakaan bentuk kesyirikan maka keselamatan darinya akan tuntas dengan keikhlasan, mentauhidkan Allah, mengesakan Allah jalla wa ala dalam ibadah.

    🔹Kedurhakaan bentuk bid’ah maka keselamatan darinya dengan cara berpegang teguh dengan sunnah dan menapaki petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

    🔸Kedurhakaan bentuk maksiat dengan cara menjauhinya dan bertaubat dengan tulus (taubat nasuha) setiap kalinterjatuh dalam kemaksiatan.

    🌏 Sumber: http://al-badr.net/muqolat/3477

     
  • Ibnu Rusman 00:10 on 20 January 2018 Permalink | Balas
    Tags: , , TAZKIYATUN NAFS   

    AKHLAK ORANG YANG BERILMU

    Syaikh Abdurrahman Bin Nasir As-Sa’di berkata:

    “Dan perkara yang harus ada pada orang yang berilmu adalah

    • menghiasi dirinya dengan kandungan ilmu yang ia pelajari dari akhlaq yang mulia,
    • mengamalkan ilmunya dan
    • menyebarkannya kepada manusia.

    Orang yang berilmu adalah orang yang paling berhaq untuk menghiasi dirinya dengan
    akhlaq yang mulia dan menjauhi dari akhlaq yang tidak baik, dia juga merupakan orang yang paling berhaq untuk mengamalkan kewajiban baik yang dhohir maupun yang batin dan menjauhi perkara yang haram,

    hal ini disebabkan karena

    mereka memiliki ilmu dan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang lain, mereka adalah Qudwah (suri tauladan) bagi manusia dan manusia akan mengikuti mereka, dan juga dikarenakan mereka akan mendapatkan celaan lebih banyak ketika mereka tidak mengamalkan ilmunya dari pada orang yang tidak berilmu.

    Dan sesungguhnya ulama-ulama salaf senantiasa menjadikan amal sebagai alat untuk menghafal ilmu, karena ilmu jika diamalkan maka akan kokoh dan dihafal,

    demikian juga akan semakin bertambah dan banyak barokahnya.

    Akan tetapi jika ilmu tidak diamalkan maka ia akan pergi dan barokahnya akan hilang. Maka ruh kehidupan ilmu adalah pengamalannya baik dengan akhlaq, mengajarkan, ataupun berda’wah”.

    (Lihat ‘Awa’iqut Tholab: 90 karya Syaikh Abdus Salam Bin Barjas)

     
  • Ibnu Rusman 14:19 on 2 January 2018 Permalink | Balas
    Tags: , TAZKIYATUN NAFS   

    🌈🕌 *LARANGAN MENCELA DAN MEMBICARAKAN AIB SEORANG MUSLIM*

    💎 Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata :

    قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم :”سِبَابُ اَلْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mencela seorang muslim adalah sebuah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

    ✍️ Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “As Sab adalah mencela dan membicarakan tentang kehormatan seorang muslim dengan sesuatu yang menjelekannya. Sedangkan al fisq dalam istilah syariat adalah keluar dari ketaatan.

    Adapun makna hadits adalah bahwa mencela seorang muslim tanpa hak merupakan suatu keharaman berdasar kesepakatan umat, dan pelakunya adalah seorang fasik sebagaimana yang telah dikabarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

    Adapun membunuhnya tanpa hak, maka menurut pendapat ahlu haq, pelakunya tidak dikafirkan dengan jenis kafir yang dapat mengeluarkannya dari agama (menjadi murtad) sebagaimana hal ini telah diterangkan sebelumnya di banyak tempat pembahasan, kecuali jika pelakunya menganggap perbuatan membunuh adalah halal.

    📚 _Disadur dari Syarah Shahih Muslim-An Nawawi, juz 2, hal. 48, cet. Dar Ibnul Jauzi 2011_

     
  • Ibnu Rusman 22:01 on 7 January 2011 Permalink | Balas
    Tags: TAZKIYATUN NAFS   

    PONDASI KEIMANAN

    Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

    “Sesungguhnya sabar dan syukur menjadi sebab seorang hamba untuk bisa memetik pelajaran dari ayat-ayat yang disampaikan. Hal itu dikarenakan sabar dan syukur merupakan pondasi keimanan.

    Separuh iman itu adalah sabar, separuhnya lagi adalah syukur.

    Kekuatan iman seorang hamba sangat bergantung pada sabar dan syukur yang tertanam di dalam dirinya. Sementara, ayat-ayat Allah hanya akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan meyakini ayat-ayat-Nya. Imannya itu pun tidak akan sempurna tanpa sabar dan syukur.

    Pokok syukur itu adalah tauhid. Adapun pokok kesabaran adalah meninggalkan bujukan hawa nafsu. Apabila seseorang mempersekutukan Allah dan lebih memperturutkan hawa nafsunya, itu artinya dia belum menjadi hamba yang penyabar dan pandai bersyukur.

    Oleh sebab itulah ayat-ayat yang ada menjadi tidak bermanfaat baginya dan tidak akan menumbuhkan keimanan pada dirinya sama sekali.”

    (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [1/145])

     
  • Ibnu Rusman 23:44 on 7 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: TAZKIYATUN NAFS   

    MAKNA WARA 

    Ibrohim bin Adham berkata:

    “Wara adalah meninggalkan setiap perkara samar. Dan meninggalkan apa yang bukan urusanmu adalah meninggalkan hal yang berlebihan.

    Ibnu Taimiyah –semoga Allah merahmatinya- berkata:

    “Adapun wara, maknanya: Menahan diri dari apa-apa yang akan memudaratkan, termasuk di dalamnya perkara-perkara haram dan samar, karena semuanya itu dapat memudaratkan. Sungguh siapa yang menghindari perkara samar telah menyelamatkan kehormatan dan agamanya. Siapa yang terjerumus pada perkara samar, terjerumus dalam perkara haram, sebagaimana pengembala yang mengembala di sekitar pagar, tidak ayal akan masuk kedalamnya.”

    (Majmu Fatawa X/617)

    Syaikh Muhammad bin Soleh al-Utsaimin -semoga Allah merahmatinya- berkata:

    Wara adalah: meninggalkan apa yang memudaratkan.

    Di antaranya meninggalkan perkara yang samar hukum dan hakikatnya.

    Pertama: samar hukumnya

    Kedua: samar keadaannya

    Orang yang wara adalah dia yang jika mendapati perkara samar, meninggalkannya, sekalipun dari sisi hukum keharamannya masih diperselisihkan.

    Sedangkan jika samar dalam wajibnya suatu perkara, dia mengerjakannya, agar tidak berdosa jika meninggalkannya.

    (Penjelasan kitab Riyad as-SolihinVI/168)

     
  • Ibnu Rusman 23:16 on 16 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: , TAZKIYATUN NAFS   

    SEORANGA MU’MIN BERADA DIANTARA DUA PERKARA YANG MENAKUTKAN

    Al-Hasan Al-Bashry rahimahullah berkata:

    إن المؤمن يصبح حزينا ويمسي حزينا، ولايسعه غير ذلك، لأنه بين مخافتين

    Sesungguhnya seorang mukmin semestinya pada pagi hari dalam keadaan bersedih, dan pada sore hari dalam keadaan bersedih, dan tidak ada pilihan selain itu. Karena ia diantara dua perkara yang menakutkan:

    بين ذنب قد مضى لايـدري مـا الله يصنع فيه

    Antara dosa yang telah berlalu, ia tidak tahu apa yang Allah akan perbuat dengannya.

    وبين أجل قد بقي لايدري مايصيبه فيه من المهالك

    Dan diantara ajalnya yang tersisa yang ia tidak tahu apa yang akan menimpanya berupa kebinasaan.

    (Al-Hilyah 2/132)

     
  • Ibnu Rusman 02:55 on 13 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: TAZKIYATUN NAFS   

    MENGAPA ALLAH MENCIPTAKAN KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

    Allah menciptakan kebaikan dan keburukan untuk menguatkan orang yg beriman, apabila seseorang tertinpa keburukan/musibah sebenarnya untuk latihan bagi seoarng mukmin, ujian bagi kesabarannya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’ Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

    Dalam sebuah riwayat disebutkan “Sesungguhnya besarnya balasan itu sesuai dengan besarnya ujian, dan jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka dia mendapatkan keridhaan, dan barangsiapa yang marah (tidak ridha), maka dia mendapatkan kemurkaan.(HR. at-Tirmidzi)

    Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Qadha’-Nya bagi hamba yang beriman adalah karunia, meskipun dalam bentuk halangan, dan merupakan suatu kenikmatan, meskipun dalam bentuk ujian, serta ujian-Nya adalah keselamatan, meskipun dalam bentuk bencana.

    Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata, “Pernyataan yang adil mengenai qadar ialah, hendaklah Anda mengetahui bahwa Allah itu Mahaadil. TIDAK BOLEH BERTANYA, Bagaimana Dia menciptakan?
    Bagaimana Dia menakdirkan?, Bagaimana Dia memberi? Dan bagaimana Dia menghalangi?
    Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kekuasaan-Nya, tidak ada dalam kerajaan-Nya, yaitu langit dan bumi, melainkan apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada hutang bagi seorang pun atas-Nya, dan tidak ada hak bagi seorang pun sebelum-Nya. Jika Dia memberi, maka hal itu adalah dengan anugerah dan jika meng-halangi, maka hal itu adalah dengan keadilan.”
    (lihat, al-Inaabah ‘an Syari’atul Firqaah an-Naajiyah, Ibnu Baththah, I/390).

    Allahu a’lam

     
  • Ibnu Rusman 22:38 on 21 August 2010 Permalink | Balas
    Tags: TAZKIYATUN NAFS   

    ASAL KEMAKSIATAN

    Al Imam Ibnul Qoyim menyatakan:

    *“Asal semua kemaksiatan baik yang besar ataupun yang kecil ada tiga”*

    ⏩ Keterkaitan hati kepada selain Allah
    ⏩ Ketaatan terhadap kekuatan amarah
    ⏩ Ketaatan terhadap kekuatan syahwat

    Dan ketiga hal itu adalah kesyirikan, kedholiman, dan kekejian.

    ▶️ Maka puncak keterkaitan hati kepada selain Allah adalah kesyirikan dan penyeruan sesembahan yang lain bersaman dengan-Nya. Dan puncak ketaatan terhadap kekuatan amarah adalah pembunuhan. Dan puncak ketaatan terhadap kekuatan syahwat adalah perzinaan.

    ▶️ Oleh karena itulah Allah mengumpulkan ketiga hal itu dalam firman-Nya:

    {( والذين لا يدعون مع الله إلها أخر ولا يقتلون النفس التي حرّم الله إلا بالحق ولا يزنون )} [الفرقان: ٦٨]

    ▶️ “Dan orang-orang yang tidak menyeru bersama Allah sesembahan yang lain, dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina.” (QS Al Furqan: 68)

    ▶️ Tiga hal ini sebagiannya mengajak ke sebagian lainnya. Kesyirikan mengajak ke kedholiman dan kekejian, sebagaimana keikhlasan dan ketauhidan memalingkan keduanya dari pemiliknya. Allah berfirman:

    {( كذلك لنصرف عنه السوء والفحشاء إنه من عبادنا المخلصين )} [يوسف: ٢٤]

    ▶️ “Demikianlah agar Kami memalingkan darinya kejelekan dan kekejian, sesungguhnya dia termasuk dari hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS Yusuf:24)

    ▶️ Maka dalam ayat ini, kejelekan adalah kerinduan dan kekejian adalah perzinaan.

    ▶️ Seperti itu pula, kedholiman mengajak ke kesyirikan dan kenistaan, karena sesungguhnya kesyirikan merupakan kedholiman yang paling besar, sebagaimana keadilan yang paling besar adalah ketauhidan, maka keadilan teman dekatnya ketauhidan, dan kedholiman teman dekatnya kesyirikan. Oleh karena itulah Yang Maha Suci mengumpulkan keduanya. Maka yang pertama dalam firman-Nya:

    {( شهد الله أنه لا إله إلا هو والملائكة وأولوا العلم قائما بالقسط )} [آل عمران: ١٨]

    ▶️ “Allah mempersaksikan bahwasannya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga ikut mempersaksikannya, dan Dia menegakkan keadilan.” (QS Ali Imron :18)

    Sumber: forumsalafi

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal