Tagged: Wasiat Ulama Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 14:38 on 20 August 2017 Permalink | Balas
    Tags: Wasiat Ulama   

    MERASA DIRI SUDAH BAIK

    Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata:_

    “Barangsiapa diberikan musibah berupa sikap berbangga diri, maka pikirkanlah aib dirinya sendiri. Jika semua aibnya tidak terlihat sehingga ia menyangka tidak memiliki aib sama sekali dan merasa suci, maka ketahuilah sesungguhnya musibah dirinya tersebut akan menimpa dirinya selamanya. Sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah, paling lengkap kekurangannya dan paling besar kecacatannya.”

    (Dinukil dari Ma’alim fii Thoriq Thalab al-Ilmi)

    Iklan
     
  • Ibnu Rusman 21:32 on 8 September 2013 Permalink | Balas
    Tags: Wasiat Ulama   

    ^Ketika Abdullah bin Mas’ud berada pada saat menjelang wafatnya, beliau memanggil anaknya, kemudian berwasiat kepadanya:

    ” Wahai anakku (Abdurahman bin Abdullah bin Mas’ud), sesungguhnya saya berwasiat kepadamu lima perkara maka jagalah wasiat ini;

    1. Tunjukan kepada manusia jika dirimu tidak butuh pada harta mereka (mengambil yang bukan haknya), maka kamu akan meraih kekayaan yang hakiki.

    2. Tinggalkan senang meminta-minta pada orang lain karena sesungguhnya itu merupakan kefakiran yang akan selalu menghantuimu.

    3. Berilah orang lain udzur jika melakukan kesalahan dan jangan sekali-kali engkau tiru kesalahannya.

    4. Berusahalah untuk selalu beramal pada hari ini dan usahakan amalanmu sesuai sunnah.

    5. Jika kamu mengerjakan sholat maka sholatlah seperti sholatnya orang yang akan berpisah seakan-akan dirinya tidak akan sholat lagi setelahnya (maksudnya akan meninggal.pent)^

    (Washoya Ulama ‘indal maut hal 69-70)

     
  • Ibnu Rusman 21:29 on 8 September 2013 Permalink | Balas
    Tags: Wasiat Ulama   

    WASIAT ASY-SYAIKH BADR BIN MUHAMMAD AL-BADR HAFIZHAHULLAH
    (Daurah Masjid Agung Manunggal Bantul 24-25 Agustus 2013)

    1. Bertaqwa kepada Allah. Allah Ta’ala melihatmu mengerjakan perintah-perintah-Nya, dan jangan sampai Allah melihatmu melanggar larangan-larangan-Nya. Taqwa adalah obat dan solusi segala kesempitan dan kesulitan

    2. Istiqomah di atas agama. Hal ini bisa dilakukan dengan dua cara; tidak menambah dan tidak mengurangi ajaran Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , serta mengamalkannya sesuai tuntunan beliau.

    3. Saling menasihati di antara kalian. Yakni atas kesalahan dan kekurangan yang terjadi. Sampaikanlah nasehat secara pribadi, jangan disebarkan, jangan dibuka di depan umum, karena yg demikian berarti menjatuhkannya. Disebutkan oleh asy-Syafi’i bahwa nasehat yang sebenarnya itu adalah nasehat yang disampaikan secara rahasia/tersembunyi. Adapun jika disampaikan secara terang-terangan (disampaikan secara terbuka), maka itu berarti menjatuhkan. Juga hendaknya nasehat disampaikan dengan cara yang lembut.

    4. Hendaknya bersemangat menjaga ukhuwwah (persaudaraan). Ingatlah bahwa seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya. Ukhuwwah Islamiyyah merupakan di antara nikmat Allah yang terbesar kepada kita. Bersyukurlah terhadap nikmat ukhuwwah ini.

    5. Aku wasiat kan kepada kalian untuk senantiasa mendengar dan mentaati waliyyul amr (pemerintah muslimin). Shahabat Abu Hurairah berkata: Waliyyul amr adalah pemerintah. Tentunya taat kepada pemerintah adalah dalam hal yang ma’ruf.

    6. Aku wasiatkan kepada kalian untuk tidak keluar dari ketaatan terhadap pemerintah, tidak memberontak pada pemerintah. Siapa yang mati demikian maka ia mati di atas jahiliah. Memberontak termasuk dosa besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barang siapa mengangkat senjata kepada kami maka tidak termasuk golongan kami.”

    7. Berbakti kepada kedua orang tua. Durhaka kepada kedua orang tua termasuk dalam kategori dosa besar. Dalam kitabnya al-Adab al-Mufrod, al-Bukhari menyebutkan hadits “berbaktilah kepada orang tua niscaya anak anak kalian berbakti kepada kalian.”

    8. Menjaga dan menjalin hubungan silaturrahmi dengan kerabat. 9. Aku wasiatkan kepada kalian untuk bersatu berjamaah dan tinggalkan furqoh (perpecahan). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berjamaah adalah rahmat, sedangkan furqoh itu adzab.

    10. Aku wasiatkan kepada kalian untuk senantiasa bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam tholabul ilmi. Sesungguhnya ilmu merupakan warisan para nabi. Sekarang kami yang menyampaikan ini, maka di kemudian hari kalianlah yang menyampaikan.

    Jagalah wasiat wasiat tersebut niscaya bermanfaat bagi kalian.

     
  • Ibnu Rusman 00:39 on 7 December 2011 Permalink | Balas
    Tags: Wasiat Ulama   

    FAIDAH BERHARGA

    kapankah diucapkan kalimat:

    رَضِيْتُ بِاللّٰهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ نَبِيٍّا

    dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu alahi wasallam beliau bersabda:

    “Barang siapa mengucapkan ketika ia mendengarkan muadzdzin mengucapkan syahadat (di dalam adzannya)

    وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، رَضِيْتُ بِاللّٰهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ نَبِيٍّا

    niscaya ia diampuni (dosanya).”

    berkata Asy syeikh Al Albani rahimahullah:

    “Dan tambahan (lafadz) ini menjadi tetap kapan diucapkan doa ini, yaitu ketika muadzdzin mengucapkan syahadat (di dalam adzannya), dan ini adalah tambahan yang mulia yang jarang ditemukan di dalam suatu kitab maka pegangilah ia, bahwa ia (diucapkan) sebelum selesai dikumandangkan adzan.”

    [[ats-tsamarul mustathab (183-184)]

     
  • Ibnu Rusman 21:48 on 7 July 2011 Permalink | Balas
    Tags: Wasiat Ulama   

    SUMBER KEBAHAGIAAN HATI

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada diantara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istighfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah dan senantiasa membutuhkan taubat dan istighfar.”

    (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)

    Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ibadah kepada Allah, ma’rifat, tauhid, dan syukur kepada-Nya itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi bagi hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang layak untuk mendapatkannya…”

    (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at- Tafsir [5/97])

    Tonggak-tonggak kebahagiaan itu berporos pada tiga perkara:
    1. Bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya
    2. Bersabar dalam menghadapi segala musibah yang menimpa
    3. Memohon ampunan dari dosa-dosa yang dilakukan

    Syukur, sabar, dan istighfar. Inilah tiga ciri kebahagiaan. Ibnul Qayyim rahimahulllah mengatakan, “Sesungguhnya ketiga perkara ini adalah pertanda kebahagiaan seorang hamba, itulah tanda akan keberuntungan dirinya di dunia dan di akhirat…”

    (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5 cet. Dar ‘Alam al-Fawa’id)

     
  • Ibnu Rusman 21:57 on 7 January 2011 Permalink | Balas
    Tags: Wasiat Ulama   

    MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

    Syukur dibangun di atas tiga perkara:
    1. Mengakui dari dalam hati bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah
    2. Mengungkapkan pujian kepada-Nya atas nikmat tersebut dengan ucapan lisan
    3. Memanfaatkan nikmat-nikmat itu dalam rangka menggapai keridhaan Dzat yang telah melimpahkannya; yaitu Allah ta’ala

    (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5- 6)

    Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Alhamdulillah adalah ucapan setiap orang yang bersyukur.” Abu Nashr al-Jauhari mengatakan, “Alhamdu/pujian adalah lawan dari celaan.”
    (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/29]).

    Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma juga mengatakan, “Alhamdulillah adalah ucapan syukur. Apabila hamba mengucapkan alhamdulillah, Allah pun mengatakan, “Hamba-Ku telah bersyukur kepada-Ku.”.
    (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/30])

    Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Pujian itu ada dua macam: pujian atas kebaikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka itu adalah bagian daripada syukur. Lalu, pujian kepada-Nya atas sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki-Nya.” (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 234, lihat juga Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 23-24)

     
  • Ibnu Rusman 00:28 on 11 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: Wasiat Ulama   

    PERKARA PERTAMA YANG DIANGGAP MUNGKAR OLEH SALAF

    berkata Ibnu Rajab rahimahullah:

    *«روي عن بعض السلف أن أول ما استنكر من أمر الدين لعب الصبيان في المساجد*»

    “Telah diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa perkara pertama yang dianggap mungkar dari perkara agama ini ialah anak-anak bermain di dalam mesjid.”

    [fathul bari, ibnu rajab (2/558)]

     
  • Ibnu Rusman 00:26 on 10 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: Wasiat Ulama   

    MENUNDUKAN PANDANGAN

    berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:

    «‏ فمن غض بصره عما حرم الله عز وجل عليه ؛ عوَّضه الله تعالى مِن جِنسه ما هو خير منه ».

    “Barang siapa menundukkan pandangannya dari apa yang Allah azza wa jalla haramkan atasnya niscaya Allah akan menggantikannya dari yang sejenisnya apa yang lebih baik darinya.”

    [ighatsatul lahfan (1/48)]

     
  • Ibnu Rusman 00:34 on 7 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: Wasiat Ulama   

    JANGANLAH ENGKAU MEMBERIKAN KESEMPATAN DEBAT BAGI AHLI BID’AH

    berkata Al-Auza’i rahimahullah:

    ” ﻻتمكنوا صاحب بدعة من جدال
    فيورث قلوبكم فتنة وارتيابا ”

    “Janganlah kalian memberikan kesempatan terhadap ahli bid’ah dari suatu debat menyebabkan ia dapat mewariskan fitnah dan keraguan terhadap hati-hati kalian.”

    [al-bida’, ibnu wadhdhah (151)]

     
  • Ibnu Rusman 03:00 on 13 September 2010 Permalink | Balas
    Tags: Wasiat Ulama   

    6 PRINSIP MENGENAI TAKDIR 

    Rasulullah bersabda,
    “Andaikata engkau berinfak di jalan Allah seukuran gunung Uhud, niscaya Allah tak akan menerimanya darimu hingga engkau beriman kepada Qadar.” (HR. Ibnu Hibban, no.727 )

    Ini menunjukkan betapa pentingnya masalah ini – yakni: iman kepada qadar- bahkan merupakan suatu keharusan karena ia adalah termasuk rukun iman. Rasulullah pernah ditanya oleh Jibril, “Apakah iman itu?“ di antara isi jawaban beliau yaitu, “Beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR. al-Bukhari ).

    Lalu, apakah yang dimaksud dengan “Qadar” itu? Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin dalam bukunya “Syarh Ushul al-Iman” mengatakan, “al-Qadar adalah takdir Allah untuk seluruh makhluk yang ada sesuai dengan Ilmu dan Hikmah-Nya.”
    Dalam rangka memahami hal penting ini, berikut ini kami kemukakan 6 prinsip dalam masalah ini.

    Prinsip Pertama:
    Kita wajib mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara global maupun terperinci baik yang terkait dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan para hamba-Nya. Kita juga wajib mengimani bahwa Allah telah menulis hal itu di Lauh Mahfuzh.

    Allah berfirman, artinya, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. al-Hajj: 70).

    Abdullah bin Umar berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi 50 ribu tahun’” (HR. Muslim).

    Prinsip Kedua:
    Kita wajib mengimani bahwa seluruh yang ada tidak akan ada, kecuali dengan kehendak Allah, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan makhluk-Nya.

    Allah berfirman, artinya, “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih…” (Qs. al-Qashash: 68)

    Allah juga berfirman, artinya, “Kalaulah Allah menghendaki, maka Dia memberikan kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu..” (Qs. an-Nisa: 90).

    Prinsip Ketiga:
    Kita wajib mengimani bahwa seluruh yang ada, zatnya, sifatnya, dan geraknya diciptakan oleh Allah.
    Allah berfirman, artinya, “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu” (Qs. az-Zumar: 62)
    Allah juga berfirman, artinya, “Dan Dia telah menciptakan segala suatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (QS. al-Furqaan: 2). Allah berfirman tentang nabi Ibrahim yang berkata kepada kaumnya, artinya, “Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS. ash-Shaffat: 96).

    Prinsip Keempat:
    Iman kepada takdir tidak menafikkan kehendak dan kemampuan manusia
    Allah berfirman tentang kehendak manusia, artinya, “Maka barangsiapa menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Rabnya” (QS. an-Naba: 39). Allah berfirman tentang kemampuan manusia, artinya, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah dan taat…” (QS. at-Taghabun: 16)

    Allah juga berfirman, artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya serta mendapatkan siksa dari (kejahatan) yang dikerjakan…” (QS. al-Baqarah: 286).

    Saudaraku…

    Bukankah manusia mengetahui bahwa dirinya mempunyai kehendak dan kemampuan untuk mengerjakan atau meninggalkan sesuatu? Bukankah pula ia dapat membedakan antara kemauannya (seperti berjalan) dan yang bukan kehendaknya (seperti gemetar)? Namun perlu diketahui dan diyakini bahwa kehendak serta kemampuan seseorang itu akan terjadi dengan masyiah (kehendak) serta qudrah (kemampuan) Allah. Allah berfirman, artinya, “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. at-Takwir: 28-29)

    Dengan demikian, adalah sesat pendapat orang yang mengatakan bahwa manusia itu terpaksa atas perbuatannya, tidak mempunyai iradah (kemauan) dan qudrah ( kemampuan). Sesat pula pendapat orang yang mengatakan bahwa manusia dalam perbuatannya ditentukan oleh kemauan serta kemampuannya, kehendak serta takdir Allah tidak ada pengaruhnya sama sekali.

    Prinsip Kelima:
    Iman kepada takdir bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban atau untuk mengerjakan maksiat.
    Apakah iman kepada takdir berarti memberi alasan untuk meninggalkan kewajiban atau untuk mengerjakan maksiat? Jawabannya adalah “tidak“.

    Perhatikan firman Allah, artinya, “Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.’ Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?’ kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. al-An’am: 148). Kalaulah alasan mereka dengan takdir itu dibenarkan, tentu Allah tidak akan menjatuhkan siksa-Nya. Perhatikan juga firman Allah, artinya, “(mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa’: 165).

    Kalaulah seandainya takdir dapat dibuat alasan bagi orang-orang yang salah, maka tentulah Allah tidak menafikannya dengan mengutus para rasul, karena menyalahi sesuatu setelah terutusnya para rasul jatuh pada takdir Allah juga.

    Prinsip Keenam:
    Keimanan yang benar terhadap takdir Allah memiliki buah yang baik bagi pelakunya. Diantara buahnya adalah:

    1. Bersandar kepada Allah ketika mengerjakan sebab-sebab, tidak bersandar kepada sebab itu sendiri, karena segala sesuatu ditentukan dengan takdir Allah.

    2. Kita tidak lagi mengagumi diri ketika tercapai apa yang dicita-citakan. Karena tercapainya cita-cita merupakan nikmat dari Allah yang dikarenakan takdir-Nya yaitu sebab-sebab keberhasilan. Dan mengagumi diri akan dapat melupakan syukur nikmat ini.

    3. Akan timbul dalam diri –insyaallah– ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang berlaku, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau datangnya sesuatu yang tidak disukai. Karena dia tahu bahwa hal itu ditentukan dengan takdir Allah yang memiliki langit dan bumi dan bahwa hal itu akan terjadi dengan pasti.

    Saudaraku…
    Kita tutup tulisan ini dengan firman Allah. Allah berfirman, artinya, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira (yakni: gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah) terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. al-Hadid: 22-23).

    Semoga bermanfaat.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal