Updates from Januari, 2011 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 01:26 on 24 January 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    KEKUATAN IMAN 

    Berkata Syumaith bin ‘Ajlan رحمه الله:

    “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kekuatan seorang mukmin ada dalam hatinya dan tidak pada tubuhnya.

    Tidakkah kalian melihat bahwasannya ada orang tua yang badannya lemah tetap mampu berpuasa di siang hari dan qiyamul lail pada malam hari, sedangkan seorang pemuda merasa berat (tidak mampu) untuk melakukan hal tersebut.”

    (Hilyatul ‘Auliya jld.3 hal.130).

    Iklan
     
  • Ibnu Rusman 01:25 on 23 January 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    CARA MENYIKAPI KESALAHAN SAUDARAMU 

    Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata:

    إذا رأيتم أخاً لكم زل زلة فسددوه، ووفقوه، وادعوا الله أن يتوب عليه، ولا تكونوا عونا ًللشيطان عليه.

    “Jika kalian melihat salah seorang saudara kalian tergelincir, maka luruskanlah, bimbinglah, berdoalah kepada Allah agar memberinya taubat, dan jangan membantu syaithan untuk menghancurkannya!”

    (Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

     
  • Ibnu Rusman 01:28 on 21 January 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    JANGAN BERAKHLAQ BURUK JIKA TIDAK MAMPU MEMBANTU ORANG LAIN 

    Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata:

    من لم يواس الناس بماله وطعامه وشرابه، فليواسهم ببسط الوجه والخلق الحسن.

    “Siapa yang tidak mampu menyenangkan orang lain dengan harta, makanan, dan minuman yang dia miliki,

    hendaklah dia menyenangkan mereka dengan wajah yang ceria dan akhlaq yang mulia.”

    (Hilyatul Auliya’, jilid 7 hlm. 389)

     
  • Ibnu Rusman 01:32 on 20 January 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    SEGAN TERHADAP ALLAH 

    berkata Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah:

    “Sesungguhnya saja makhluk itu segan terhadapmu berdasarkan kadar seganmu terhadap Allah.”

    (Hilyatul auliya jld.8 hal.110)

     
  • Ibnu Rusman 01:30 on 17 January 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    KISAH DAN PELAJARAN 

    Abu Nuaim menyebutkan di dalam kitab “al-hilyah”:

    “Adalah Abu Muslim Al-Khaulani jika ia masuk ke dalam rumahnya niscaya istrinya mengambil/menyambut selendang dan kedua sendalnya kemudian ia membawakan/menghidangkan makanannya kepadanya.

    Ia (Abu Nuaim) berkisah: lalu ia (Abu Muslim) masuk ke dalam rumah ternyata rumah tersebut di dalamnya tidak terdapat lampu pelita, dan ternyata istrinya sedang duduk-duduk di dalam rumah sambil menundukkan kepala (kearah lantai) menusuk-nusuk kayu yang ada padanya (ke lantai)!!! Lalu ia (Abu Muslim) bertanya kepadanya: ada apa denganmu?!! Ia menjawab: engkau memiliki kedudukan/jabatan dari Mu’awiyah (Khalifah), dan kita tidak memiliki seorang pelayan, maka sekiranya engkau meminta kepadanya maka ia pasti memberikan pelayan kepada kita dan ia pasti memberimu . Lalu ia berdoa:

    اللهم من أفسد على امرأتي فأعم بصرها

    ya Allah, barang siapa yang telah merusak atas istriku maka butakanlah pandangan matanya
    .

    Ia (Abu Nuaim) berkisah: dan sungguh telah datang seorang wanita sebelum itu, lalu ia berkata kepadanya (istrinya Abu Muslim): suamimu memiliki kedudukan/jabatan dari Mu’awiyah maka sekiranya engkau mengatakan kepadanya ia meminta kepada Mu’awiyah memberikan pelayan kepadanya dan ia pasti memberikannya niscaya hidup kalian (menjadi lebih baik)

    Ia (Abu Nuaim) berkisah: maka tatkala wanita tersebut sedang duduk-duduk di dalam rumahnya, iapun mengingkari (apa yang terjadi) terhadap matanya!!! Lalu ia berujar: mengapa lampu pelita kalian ini padam!!!

    Mereka menjawab: tidak!! Lalu iapun tahu bahwa ternyata ia telah menjadi buta, dan iapun mengetahui dosa/kesalahannya.

    Lalu iapun segera menuju kepada Abu Muslim sambil menangis dan meminta kepadanya berdoa kepada Allah untuknya agar Allah mengembalikan pandangan matanya.

    Ia (Abu Nuaim) berkisah: lalu ia (Abu Muslim) merasa kasihan terhadapnya maka iapun berdoa kepada Allah untuknya lalu Allah mengembalikan pandangan matanya.”

     

    (Hilyatul auliya 2/130, shifah ash-shafwah, Ibnul Jauzi 4/212)

     
  • Ibnu Rusman 22:01 on 7 January 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    PONDASI KEIMANAN

    Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

    “Sesungguhnya sabar dan syukur menjadi sebab seorang hamba untuk bisa memetik pelajaran dari ayat-ayat yang disampaikan. Hal itu dikarenakan sabar dan syukur merupakan pondasi keimanan.

    Separuh iman itu adalah sabar, separuhnya lagi adalah syukur.

    Kekuatan iman seorang hamba sangat bergantung pada sabar dan syukur yang tertanam di dalam dirinya. Sementara, ayat-ayat Allah hanya akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan meyakini ayat-ayat-Nya. Imannya itu pun tidak akan sempurna tanpa sabar dan syukur.

    Pokok syukur itu adalah tauhid. Adapun pokok kesabaran adalah meninggalkan bujukan hawa nafsu. Apabila seseorang mempersekutukan Allah dan lebih memperturutkan hawa nafsunya, itu artinya dia belum menjadi hamba yang penyabar dan pandai bersyukur.

    Oleh sebab itulah ayat-ayat yang ada menjadi tidak bermanfaat baginya dan tidak akan menumbuhkan keimanan pada dirinya sama sekali.”

    (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [1/145])

     
  • Ibnu Rusman 21:57 on 7 January 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

    Syukur dibangun di atas tiga perkara:
    1. Mengakui dari dalam hati bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah
    2. Mengungkapkan pujian kepada-Nya atas nikmat tersebut dengan ucapan lisan
    3. Memanfaatkan nikmat-nikmat itu dalam rangka menggapai keridhaan Dzat yang telah melimpahkannya; yaitu Allah ta’ala

    (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5- 6)

    Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Alhamdulillah adalah ucapan setiap orang yang bersyukur.” Abu Nashr al-Jauhari mengatakan, “Alhamdu/pujian adalah lawan dari celaan.”
    (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/29]).

    Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma juga mengatakan, “Alhamdulillah adalah ucapan syukur. Apabila hamba mengucapkan alhamdulillah, Allah pun mengatakan, “Hamba-Ku telah bersyukur kepada-Ku.”.
    (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/30])

    Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Pujian itu ada dua macam: pujian atas kebaikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka itu adalah bagian daripada syukur. Lalu, pujian kepada-Nya atas sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki-Nya.” (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 234, lihat juga Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 23-24)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal