Updates from Juli, 2011 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 16:30 on 17 July 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    PRINSIP-PRINSIP IMAM ASY-SYAFI’I DALAM BERAGAMA (Bag. 4) 

    MENGAGUNGKAN SUNNAH DAN MEMERANGI BID’AH
    Imam Syafi’i Sangat Mengagungkan Sunnah
    Dan Imam Syafi’i termasuk ulama yang dikenal sangat semangat dalam mengagungkan Sunnah Nabi sebagaimana pujian para ulama kepada beliau.

    Imam Ahmad berkata: “Saya tidak melihat seorangpun yang lebih semangat dalam mengikuti sunnah daripada Imam Syafi’i”.[1]

    Imam Al-Baihaqi membuat satu bab pembahasan dengan judul “Keterangan yang membuktikan baiknya madzhab Syafi’i dalam mengikuti Sunnah dan menjauhi bid’ah”.[2]

    Imam adz-Dzahabi berkata memuji beliau: “Imam Syafi’i adalah seorang ulama yang sangat kuat dalam berpegang teguh terhadap Sunnah Rasulullah, baik dalam masalah aqidah maupun cabang agama”.[3]

    Banyak sekali bukti dari Imam Syafi’i tentang pengagungan beliau terhadap sunnah Nabi. Cukuplah sebagai contoh petuah beliau:

    لاَ يَجْمُلُ الْعِلْمُ وَلاَ يَحْسُنُ إِلاَّ بِثَلاَثِ خِلاَلٍ : تَقْوَى اللهِ وَإِصَابَةِ السُّنَّةِ وَالْخَشْيَةُ
    “Ilmu itu tidaklah indah kecuali dengan tiga perkara: Taqwa kepada Allah, sesuai dengan sunnah dan rasa takut”.[4]

    Imam Syafi’i Menanamkan Tunduk Terhadap Sunnah
    Imam Syafi’i berkata:

    لَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا نَسَبَهُ النَّاسُ أَوْ نَسَبَ نَفْسَهُ إِلَى عِلْمٍ يُخَالِفُ فِيْ أَنَّ فَرْضَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ اتِّبَاعُ أَمْرِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَالتَّسْلِيْمُ لِحُكْمِهِ
    “Saya tidak mendengar seorangpun yang dianggap manusia atau dia menganggap dirinya berilmu berselisih pendapat bahwa di antara kewajiban dari Allah adalah mengikuti dan mencontoh Rasulullah dan pasrah terhadap hukumnya”.[5].

    Imam Syafi’i Mengimani Kesempurnaan Islam
    Di antara nikmat terbesar yang Alloh anugerahkan kepada umat ini adalah disempurnakannya agama ini sebagaimana dalam firmanNya:

    [ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا]
    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagi kalian. (QS. al-Maidah [5]: 3)

    Imam Ibnu Katsir berkata: “Ini merupakan kenikmatan Allah yang terbesar kepada umat ini, dimana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama selainnya dan Nabi selain Nabi mereka. Oleh karena itulah, Allah menjadikannya sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada Jin dan manusia, maka tidak ada sesuatu yang halal selain apa yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang dia haramkan, tidak ada agama selain apa yang dia syari’atkan, dan setiap apa yang dia beritakan adalah benar dan jujur, tiada kedustaan di dalamnya”.[6]

    Dengan sempurnanya Islam, maka segala perbuatan bid’ah dalam agama berarti suatu kelancangan terhadap syari’at dan ralat terhadap pembuat syari’at bahwa masih ada permasalahan yang belum dijelaskan. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengeluarkan perkataan emas tentang ayat ini. Beliau berkata:

    مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ الإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ R خَانَ الرِّسَالَةَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَ يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْنًا
    Barangsiapa melakukan bid’ah dalam Islam dan menganggapnya baik (bid’ah hasanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad r mengkhianati risalah, karena Alloh Y berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu.” Maka apa saja yang di hari itu (pada zaman Nabi r) bukan sebagai agama, maka pada hari ini juga tidak termasuk agama.[7]

    Camkanlah baik-baik perkataan berharga dari Imam yang mulia ini, niscaya anda akan mengetahui betapa bahayanya perkara bid’ah dalam agama.

    Demikian juga Imam Syafi’i, beliau sangat meyakini akan kesempurnaan agama Islam. Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syafi’i tatkala mengatakan:

    فَلَيْسَتْ تَنْزِلُ فِيْ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ دِيْنِ اللهِ نَازِلَةٌ إِلاَّ وَفِيْ كِتَابِ اللهِ الدَّلِيْلُ عَلَى سَبِيْلِ الْهُدَى فِيْهَا
    “Tidak ada suatu masalah baru-pun yang menimpa seorang yang memiliki pengetahuan agama kecuali dalam Al-Qur’an telah ada jawaban dan petunjuknya”.[8]

    Kemudian Imam Syafi’i membawakan beberapa dalil untuk menguatkan ucapannya di atas, di antaranya adalah firman Allah dalam surat an-Nahl: 89:

    وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيداً عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيداً عَلَى هَـؤُلاء وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
    Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl: 89).

    Sumber : Makalah Dauroh Akbar Medan 2011

    ———————-
    [1] Manaqib Syafi’i 1/471 oleh al-Baihaqi.

    [2] Manaqib Syafi’i 1/471.

    [3] Mukhtashor Al-Uluw hlm. 177.

    [4] Manaqib Syafi’i 1/470 oleh al-Baihaqi.

    [5] Jima’ul Ilmi hlm. 11.

    [6] Tafsir Al-Qur’anil Azhim 3/23.

    [7] Al-I’tisham 1/64-65 Imam Syatibi, tahqiq Salim al-Hilali.

    [8] Ar-Risalah hlm. 20.

    Iklan
     
  • Ibnu Rusman 02:19 on 10 July 2011 Permalink | Balas  

    TIGA KELOMPOK MANUSIA YANG PALING MERUGI DI HARI KIAMAT 

    Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata:”Telah dikatakan bahwa manusia yang paling rugi di hari Kiamat adalah tiga kelompok manusia:

    Pertama:Seorang laki-laki yang mempunyai budak, sedangkan besok di Hari Kiamat, amal kebaikan budak tersebut lebih banyak dari pada amalnya.

    Kedua:Seseorang yang memiliki harta, namun tidak mau bersedekah sedikit pun sampai ia meninggal. Kemudian, harta tersebut diwariskan kepada orang lain dan harta itu kemudian disedekahkan.

    Ketiga:Seorang Ulama yang ilmunya tidak bermanfaat baginya, akan tetapi dengan diajarkannya kepada orang lain,sedang orang lain itu dapat mengambil manfaat dari ilmu tersebut.”

    (Min A’laamis Salaf karya Syaikh Ahmad Farid)

     
  • Ibnu Rusman 02:10 on 10 July 2011 Permalink | Balas  

    BERBEKALLAH UNTUK HARI ESOK 

    Abu Dzar al-Ghifary pernah berdiri di sisi Masjid dan berkata,

    “Wahai manusia, saya lelaki bernama Jundub dari al-Ghifar, marilah mendekat kepada saudara yang suka memberi nasihat lagi pengasih ini.”

    Maka orang-orang pun mengerumuninya.

    Abu Dzar al-Ghifary bertanya; “Bagaimana pendapat kalian kalau salah seorang di antara kalian ada yang hendak bepergian, apakah ia akan mempersiapkan perbekalan yang baik baginya dan membawa keselamatannya?”

    Mereka menjawab, “Tentu saja.”

    Abu Dzar al-Ghifary berkata; “Perjalanan menuju hari Kiamat adalah perjalanan kalian yang terjauh. Ambillah perbekalan yang berguna untuk perjalanan kalian.”

    Mereka bertanya, “Apa perbekalan yang berguna bagi kami?

    Abu Dzar al-Ghifary menjawab,

    “Berhajilah untuk menghadapi perkara yang amat besar (Kiamat), berpuasalah di hari yang sangat panas demi menghadapi hari Kebangkitan, shalatlah dua rakaat di kegelapan malam, untuk menghadapi kejamnya alam kubur, mengucapkan kata-kata yang baik, meninggalkan kata-kata yang jelek untuk menyongsong hari yang besar,
    bersedekahlah dengan harta kalian, semoga dengan itu kita bisa selamat di saat yang sulit nanti.

    Jadikanlah dunia ini dalam dua majelis, Satu majelis untuk akhirat dan majelis lain untuk mencari rizki yang halal.

    Sedangkan majelis selain yang dua itu adalah berbahaya bagimu dan tidak berguna bagimu, maka janganlah engkau menginginkannya.

    Jadikanlah harta itu dalam dua hal, Satu dirham untuk dibelanjakan oleh anak istrimu dengan cara yang halal, dan satu dirham lain untuk akhiratmu.

    Sementara selain itu berbahaya dan tidak berguna bagimu, maka janganlah kalian menginginkannya.

    Lalu, Abu Dzar berteriak keras, “Wahai manusia, sungguh kalian dibinasakan oleh ketamakan yang tidak pernah kalian puas selama-lamanya.”

    (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashbahani, I:165)

     
  • Ibnu Rusman 23:12 on 7 July 2011 Permalink | Balas  

    Al-Jama’ah harus sesuai dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala 

    Imam Ibnul Qoyim mengatakan:

    “Kebenaran (yang hakiki) yaitu yang telah di wariskan oleh Jam’ah pertama dari mulai zamannya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat beliau, oleh karena itu janganlah terkecoh dengan banyaknya para ahli bid’ah setelah mereka”.

    Berkata Amr bin Maimun al-Awadi, “Saya menemani sahabat Mu’adz bin Jabal di Yaman, tidaklah saya berpisah dari beliau sampai saya melihat beliau meninggal di negeri Syam, kemudian setelah itu saya menemani orang yang paling faqih di antara manusia yaitu sahabat Abdullah bin Mas’ud semoga Allah meridhoinya, maka pada suatu ketika saya pernah mendengar beliau mengatakan, “Wajib atas kalian untuk berpegang di atas jama’ah, sesungguhnya tangan Allah bersama jama’ah”.

    Pada kesempatan yang lain saya juga pernah mendengar beliau mengatakan, “Akan datang kepada kalian suatu masa para pemimpin yang mengakhirkan sholat dari waktunya, maka sholatlah kalian sendirian tepat pada waktunya karena dia adalah wajib bagimu, setelah itu sholatlah berjama’ah bersama mereka dan itu tercatat sebagai sholat sunah atas kalian”.

    Maka saya katakan kepada beliau: “Wahai sahabat Nabi Muhammad, saya tidak paham apa yang sedang engkau bicarakan kepada kami?”

    Beliau menjawab: “Apa itu?”

    Saya katakan: “Engkau (pernah) menyuruhku untuk berpegang erat-erat kepada jama’ah, lantas sekarang engkau mengatakan ;Sholatlah kamu sendirian, dan dia adalah sholat wajib bagimu, lalu sholatlah bersama jama’ah sedangkan dia adalah sholat sunah?”

    Beliau lantas menasehatiku: “Wahai Amr bin Maimun, sungguh saya telah menyangka bahwa kiranya engkau adalah orang yang paling faqih di negeri ini, tahukah kamu apa itu al-Jama’ah?”

    Jawab saya: “Tidak”,

    beliau berkata: “Sesungguhnya jika kebanyakan jama’ah (manusia) telah menyilisihi al-Jama’ah itu sendiri, maka tinggalkan mereka karena sesungguhnya hakekat al-Jama’ah adalah sesuatu yang sesuai dengan kebenaran walau pun engkau sendirian”.

    Dalam jalur riwayat yang lain, lalu beliau menepuk dadaku sambil berkata: “Celakalah engkau wahai Amr, sungguh jika kebanyakan manusia (sudah di ambang menyelisihi al-Jama’ah) maka tinggalkanlah meraka, sesungguhnya al-Jama’ah adalah sesuatu yang sesuai di atas ketaatan kepada Allah Azza wa jalla”.

    Nu’aim bin Hamaad mengatakan: “Maksud perkataan beliau adalah jika manusia telah rusak maka wajib atas dirimu untuk tetap berpegang teguh dengan al-Jama’ah sebelum datangnya kerusakan (tersebut) walau pun kamu sendirian, maka dengan itu engkau tetap di katakan sedang berada di atas al-Jama’ah. Dan ucapan yang semakna dengan ini juga telah di katakan oleh Imam al-Baihaqi dan selain beliau”.

    (Di nukil dari kitab Ighatsatul Lahfaan min Mashayidil Syithon (1/69-70), karya Imam Ibnul Qoyim al-Jauziyah)

     
  • Ibnu Rusman 21:48 on 7 July 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    SUMBER KEBAHAGIAAN HATI

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada diantara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istighfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah dan senantiasa membutuhkan taubat dan istighfar.”

    (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)

    Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ibadah kepada Allah, ma’rifat, tauhid, dan syukur kepada-Nya itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi bagi hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang layak untuk mendapatkannya…”

    (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at- Tafsir [5/97])

    Tonggak-tonggak kebahagiaan itu berporos pada tiga perkara:
    1. Bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya
    2. Bersabar dalam menghadapi segala musibah yang menimpa
    3. Memohon ampunan dari dosa-dosa yang dilakukan

    Syukur, sabar, dan istighfar. Inilah tiga ciri kebahagiaan. Ibnul Qayyim rahimahulllah mengatakan, “Sesungguhnya ketiga perkara ini adalah pertanda kebahagiaan seorang hamba, itulah tanda akan keberuntungan dirinya di dunia dan di akhirat…”

    (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5 cet. Dar ‘Alam al-Fawa’id)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal