Updates from Februari, 2018 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 01:59 on 21 February 2018 Permalink | Balas  

    ADAB-ADAB BERSIN 

    1. Hendaknya orang yang bersin untuk merendahkan suaranya dan tidak secara sengaja mengeraskan suara bersinnya. Hal tersebut berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ.

    “Bahwasanya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup wajah dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.” [HR. Ahmad II/439, al-Hakim IV/264, Abu Dawud no. 5029, at-Tirmidzi no. 2746. Lihat Shahih at-Tirmidzi II/355 no. 2205]

    2. Hendaknya bagi orang yang bersin menahan diri untuk tidak menolehkan leher (menekukkan leher) ke kanan atau ke kiri ketika sedang bersin karena hal tersebut dapat membahayakannya. Seandainya lehernya menoleh (menekuk ke kanan atau ke kiri) itu dimaksudkan untuk menjaga agar tidak mengenai teman duduk di sampingnya, hal itu tidak menjamin bahwa lehernya tidak cedera. Telah terjadi pada beberapa orang ketika bersin memalingkan wajahnya dengan tujuan untuk menjaga agar teman duduknya tidak terkena, namun berakibat kepalanya kaku dalam posisi menoleh.

    3. Dianjurkan kepada orang yang bersin untuk mengucapkan alhamdulillaah sesudah ia selesai bersin. Dan tidak disyari’atkan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya untuk serta merta mengucapkan pujian kepada Allah (menjawabnya) ketika mendengar orang yang bersin. Telah ada ungkapan pujian yang disyari’atkan bagi orang yang bersin sebagaimana yang tertuang dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu:

    اَلْحَمْدُ ِللهِ.

    “Segala puji bagi Allah” [HR. Al-Bukhari no. 6223, at-Tirmidzi no. 2747]

    اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

    “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.” [HR. Al-Bukhari di dalam al-Adaabul Mufrad no. 394, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 224, Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.259. Lihat Shahihul Jami’ no. 686]

    اَلْحَمْدُ ِللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.

    “Segala puji bagi Allah atas segala hal” [HR. Ahmad I/120,122, at-Tirmidzi no. 2738, ad-Darimi II/283, al-Hakim IV/66. Lihat Shahih at-Tirmidzi II/354 no. 2202]

    اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَ يَرْضَى.

    “Segala puji bagi Allah (aku memuji-Nya) dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh ke-berkahan sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Rabb kami.” [HR. Abu Dawud no. 773, al-Hakim III/232. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud I/147 no. 700]

    4. Wajib bagi setiap orang yang mendengar orang bersin (dan mengucapkan alhamdulillah) untuk melakukan tasymit kepadanya, yaitu dengan mengucapkan,

    يَرْحَمُكَ اللهُ

    “Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu.”

    Apabila tidak mendengarnya mengucapkan al-hamdulillah, maka janganlah mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallah) baginya, dan tidak perlu mengingatkannya untuk mengucapkan hamdallah (ucapan alhamdulillaah).

    5.Bila ada orang kafir bersin lalu dia memuji Allah, boleh berkata kepadanya:

    يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ.

    “Semoga Allah memberikan pada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian.”

    Hal ini berdasarkan hadits Abu Musa al-‘Asy’ari Radhiyallahu anhu, ia berkata:

    كَانَ الْيَهُوْدُ يَتَعَاطَسُوْنَ عِنْدَ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُوْنَ أَنْ يَقُوْلَ لَهُمْ يَرْحَمُكُمُ اللهُ، فَيَقُوْلُ: يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ باَلَكُمْ.

    “Orang-orang Yahudi berpura-pura bersin di ha-dapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berharap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudi mengatakan kepada mereka yarhamukumullah (semoga Allah memberikan rahmat bagi kalian), namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengucapkan yahdikumullaah wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberikan pada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” [HR. Ahmad IV/400, al-Bukhari dalam al-Adaabul Mufrad II/392 no. 940, Abu Dawud no. 5058, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 232, at-Tirmidzi no. 2739, al-Hakim IV/268. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi II/354 no. 2201]

    6. Apabila orang yang bersin itu menambah jumlah bersinnya lebih dari tiga kali, maka tidak perlu dijawab dengan ucapan yarhamukallah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيُشَمِّتْهُ جَلِيْسُهُ، وَإِنْ زَادَ عَلَى ثَلاَثٍ فَهُوَ مَزْكُوْمٌ وَلاَ تُشَمِّتْ بَعْدَ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ.

    “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, maka bagi yang duduk di dekatnya (setelah mendengarkan ucapan alhamdulillaah) menjawabnya dengan ucapan yarhamukallah, apabila dia bersin lebih dari tiga kali berarti ia sedang terkena flu dan jangan engkau beri jawaban yarhamukallah setelah tiga kali bersin.” [HR. Abu Dawud no. 5035 dan Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 251. Lihat Shahiihul Jami’ no. 684]

    Dan jangan mendo’akan orang yang bersin lebih dari tiga kali serta jangan pula mengucapkan kepadanya do’a:

    شَفَاكَ اللهُ وَعَافَاكَ.

    “Semoga Allah memberikan kesembuhan dan menjagamu.”

    Karena seandainya hal tersebut disyari’atkan maka tentulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkannya.

    7. Apabila ada orang yang bersin sedangkan imam sedang berkhutbah (Jum’at), maka ia harus mengucapkan alhamdulillah (dengan merendahkan suara) dan tidak wajib untuk dijawab yarhamu-kallah karena diam dikala khutbah Jum’at adalah wajib hukumnya.

    8. Barangsiapa yang bersin sedangkan ia dalam keadaan tidak dibolehkan untuk berdzikir (memuji Allah), misalnya sedang berada di WC, apabila ia khilaf menyebutkan alhamdulillah, maka tidak wajib bagi kita yang mendengarkannya untuk menjawab yarhamukallah. Hal ini karena berdzikir di WC terlarang. [Lihat kitab Adaabut Tatsaa-ub wal ‘Uthas oleh ar-Rumaih]

    [Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M]

     

     
  • Ibnu Rusman 01:51 on 21 February 2018 Permalink | Balas
    Tags:   

    BERSIN DAN KEWAJIBAN MENJAWABNYA

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk mengucapkan tahmid tatkala bersin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Jika salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan Alhamdulillah, jika ia mengatakannya maka hendaklah saudaranya atau temannya membalas: yarhamukalloh (semoga Allah merahmatimu). Dan jika temannya berkata yarhamukallah, maka ucapkanlah: yahdikumulloh wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 6224 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

    Dalam Shahih Al-Bukhary no. 6223 lafazhnya :

    إِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ، فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ.

    “Jika seseorang bersin lalu dia mengucapkan ‘alhamdulillah’ maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya.”

    Sedangkan di no. 6226 lafazhnya :

    إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللهَ، كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ.

    “Jika salah seorang dari kalian bersin lalu dia mengucapkan ‘alhamdulillah’ maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya dengan mengucapkan: yarhamukallah.”
    (Lihat juga : Shahih Muslim no. 2992)

    Wajib, dan hukumnya tidak seperti menjawab salam yang mana satu orang sudah mencukupi. Jika seseorang mengucapkan salam kepada kita “assalamu’alaikum” maka cukup salah seorang dari kita menjawab “wa’alaikumussalam.” Tetapi orang yang bersin wajib atas siapa saja yang mendengarnya untuk mendoakannya. Wajib atas kita semua untuk mendoakannya (dengan mengucapkan “yarhamukallah” yang artinya: semoga Allah merahmatimu –pent) jika dia mengucapkan “alhamdulillah.”

    Dari Anas bin Malik dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhuma,

    لما نفخ الله في آدم الروح، فبلغ الروح رأسه عطس، فقال: الحمد لله رب العالمين، فقال له تبارك وتعالى: يرحمك الله

    “Tatkala Allah meniupkan ruh kepada Adam, dan ruh itu sampai di kepalanya, Adam pun bersin. Dia mengucapkan, “Alhamdulillah.”

    Maka Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berkata kepadanya, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu).”

    (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.2159)

    Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu ta’ala berkata :

    Kalau dia lupa maka ingatkanlah dia, dan katakan padanya, “Ucapkanlah Alhamdulillah”.

    Jika dia meninggalkannya karena meremehkan, maka jangan ingatkan dia.
    Lalu dari mana aku tahu akan hal itu?
    Bagaimana juga aku tahu kalau dia itu lupa atau meremehkan?

    Diketahui dari zhahir hadits “Maka ucapkanlah Alhamdulillah”. Maka jika tidak mengucapkannya janganlah dijawab dan jangan pula diingatkan.

    Akan tetapi engkau boleh mengajarinya dengan mengatakan kepadanya, “Jika seseorang bersin maka hendaknya dia mengucapkan Alhamdulillah, karena bersin itu dari Allah sedangkan menguap itu dari setan.”

    Bersin itu menunjukkan semangatnya tubuh oleh karenanya, seseorang akan mendapati tubuhnya terasa ringan (setelah bersin).

    (Syarah Riyadhus Shalihin jilid 1 hal 568)

    Berkata Al-‘Allamah As-Sa’diy rohimahulloh:

    ❝ Barangsiapa yang tidak memuji Allah (baca: mengucapkan alhamdulillah) maka tidak berhak mendapatkan jawaban, dan jangan sekali-kali mencela kecuali dirinya sendiri. Karena dialah yang telah menyebabkan dirinya terluputkan dari 2 kenikmatan:

    1. kenikmatan memuji Allah,
    2. dan kenikmatan (mendapatkan) doa dari saudaranya baginya yang mengharuskan bersyukur. ❞

    (Bahjah Qulub Al-Abror, As-Sa’diy 1/82)

     
  • Ibnu Rusman 01:18 on 21 February 2018 Permalink | Balas  

    TAHANLAH SEMAMPUMU KETIKA HENDAK MENGUAP 

     

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ.

    “Menguap itu datangnya dari syaitan. Jika salah seorang di antara kalian ada yang menguap, maka hendaklah ia menahan semampunya” (HR. Al-Bukhari no. 6226)

    “Apabila salah seorang di antara kalian menguap maka hendaklah menutup mulut dengan tangannya karena syaitan akan masuk (ke dalam mulut yang terbuka).”
    (HR. Muslim no. 2995 (57) dan Abu Dawud no. 5026)

    “Menguap itu dari syaithan. Bila ada yang menguap, Maka hendaklah dia menahan semampunya. Jika dia sampai mengucapkan *hoaamh* , maka setan akan metertawakannya” (*HR. Al-Bukhari: 6223, Muslim: 2994*)

    Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan :

    “Jadi jika menguap mendatangimu, bila engkau mampu, tahan dan cegahlah. INI ADALAH SUNNAHNYA (bimbingan Rasulullah shalallau alaihi wasallam di dalam permasalahan ini). Dan ini yang paling utama. Namun apabila engkau tidak mampu, letakkan tanganmu di mulutmu.” (Syarh Riyadhish Shalihin 4/439)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal