Pembaruan Terkini Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 14:49 on 24 July 2017 Permalink | Balas
    Tags: Ibnu Katsir   

    KEADAAN MUKMIN KETIKA CATATAN AMAL DIBERIKAN KEPADANYA 

    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

    يُدني الله العبدَ يومَ القيامة،
    فيضع عليه كَنَفَهُ،
    فيسترُه مِنَ الخلائق كُلِّها،
    ويدفع إليه كتابه في ذلك الستر،

    Allah mendekat kepada hamba pada hari kiamat.
    Dia pun meletakkan penutup padanya dan menutupinya dari makhluk seluruhnya.
    Kemudian Allah pun memberikan catatan amalannya di dalam penutup tersebut.

    فيقول : اقرأ يا ابنَ آدم كتابَك،
    فيقرأ ، فيمر بالحسنة ، فيبيضُّ لها وجهُهُ، ويُسرُّ بها قَلبُه،

    Allah pun berfirman kepadanya,
    “Bacalah kitabmu wahai anak Adam!”

    Dia pun membaca dan melewati amal salihnya.
    Wajahnya pun berseri dan kalbunya gembira.

    فيقولُ الله : أتعرِفُ يا عبدي؟
    فيقول : نعم،
    فيقول : إنِّي قبلتها منك
    ، فيسجد،

    Allah pun mengatakan kepadanya,
    “Apakah engkau mengetahuinya, hamba-Ku?”

    Dia menjawab, “Ya.”

    Allah pun mengatakan,
    “Sungguh, Aku telah menerimanya darimu.”

    Hamba itu pun bersujud.

    فيقول : ارفع رأسَك وعُد في كِتابك ،
    فيمر بالسيِّئة ، فيسودُّ لها وجهه، ويَوْجَلُ منها قلبُه ، وترتعدُ منها فرائصُهُ ، ويأخذه من الحياء من ربِّه ما لا يعلمُه غيرُه،

    Allah pun berfirman,
    “Angkat kepalamu dan kembalilah baca catatan amalanmu.”

    Dia pun melewati amalan jeleknya .
    Mukanya pun menghitam, kalbunya takut, dan dia pun menggigil ketakutan.
    Dia dikuasai rasa malu kepada Rabbnya yang teramat sangat, yang tidak diketahui oleh orang lain.

    فيقول : أتعرف يا عبدي؟
    فيقول : نعم يا رب،
    فيقول : إنِّي قد غفرتُها لك،
    فيسجدُ،

    Allah pun berfirman,
    “Apakah engkau tahu ini, wahai hamba-Ku?”

    Dia menjawab, “Ya, wahai Rabbku.”

    Allah pun berfirman,
    “Sungguh, telah Aku ampuni engkau.”

    Hamba itu pun bersujud.

    فلا يرى منه الخلائقُ إلاَّ السُّجود حتى ينادي بعضهم بعضاً : طوبى لهذا العبد الذي لم يَعصِ الله قطُّ ، ولا يدرون ما قد لقي فيما بينه وبينَ ربِّه ممَّا قد وَقَفَهُ عليه

    Makhluk lainnya tidak melihat kecuali sujud yang dilakukannya. Sampai-sampai, sebagiannya menyeru kepada yang lainnya,
    “Beruntung hamba ini yang tidak pernah bermaksiat kepada Allah sedikit pun.”
    Mereka tidak tahu apa yang telah diperlihatkan antara dia dengan Rabbnya.”

    *(Referensi: An Nihayah fil Fitan wal Malahim Al Hafizh Ibnu Katsir hlm. 166)

     
  • Ibnu Rusman 14:26 on 24 July 2017 Permalink | Balas
    Tags: Do'a dalam Al Qur'an   

    HASANAH DI DUNIA DAN HASANAH DI AKHIRAT 

    Makna Do’a :

    (رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ)

    “Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami di dunia ini hasanah (kebaikan) dan di akhirat hasanah (kebaikan). Lindungilah kami dari adzab api neraka.”

    Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

    A. Hasanah di dunia :
    meliputi semua permintaan duniawi, berupa penjagaan, rumah tinggal yang lapang, isteri yang baik, anak yang berbakti, rizki yang luas, ilmu bermanfaat, dan amal shalih.

    B. Hasanah di akhirat :
    yang tertinggi adalah masuk al-Jannah (surga) dan semua hal yang berkaitan dengannya berupa keamanan pada hari ketakutan terbesar, kemudahan dalam hisab, dan lainnya dari berbagai urusan akhirat, serta penjagaan dari api neraka.
    al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata,

    “Do’a ini merupakan do’a paling lengkap dan paling sempurna. Oleh karena itu doa ini merupakan doa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– yang terbanyak.”

    asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

    “Sesungguhnya doa ini adalah doa yang paling lengkap.

    Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami di dunia ini kebaikan » : meliputi semua kebaikan dunia, berupa isteri yang shalihah, kendaraan yang nyaman, tempat tinggal yang tenang, dan lain-lain.

    dan di akhirat kebaikan », juga meliputi semua kebaikan di akhirat, berupa hisab yang mudah, pemberian kitab catatan amal dari arah kanan, melewati ash-Shirat dengan mudah, minum dari telaga Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam–, dan masuk surga, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya.

    Jadi doa ini di antara doa terlengkap, bahkan yang paling lengkap karena doa ini mencakup semua hal.”

    (Syarh Riyadh ash-Shalihin, 6/16)

     
  • Ibnu Rusman 13:47 on 24 July 2017 Permalink | Balas
    Tags: Hilyatul Aulia,   

    SEDIKITNYA ORANG YANG SHALIH UNTUK BISA DIJADIKAN TEMAN 

    Umar radhiyallahu anhu berkata:

     

    اعتزل ما يؤذيك، وعليك بالخليل الصالح وقلما تجده، وشاور في أمرك الذين يخافون الله.

     

    “Tinggalkan hal-hal yang menyakitimu, bertemanlah dengan orang yang shalih walaupun engkau akan sulit mendapatkannya, dan bermusyawarahlah tentang urusanmu dengan orang-orang yang takut kepada Allah.”

     

    (Hilyatul Auliya’, no. 8996)

     
  • Ibnu Rusman 23:08 on 16 September 2013 Permalink | Balas
    Tags:   

    KEDUDUKAN SABAR

    Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

    “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.”

    (Al Fawa’id, hal. 95)

     
  • Ibnu Rusman 22:25 on 8 September 2013 Permalink | Balas
    Tags:   

    KEKUASAAN ITU NILAINYA TAK LEBIH DARI SEGELAS AIR.

    Pada suatu hari Ibnu Samak pernah masuk ke istana Harun ar-Rasyid, maka ar-Rasyid meminta untuk di hadirkan air minum untuknya.

    Berkata Ibnu Samak kepada beliau: “Wahai amirul mu’minin,demi Allah (saya bertanya kepadamu, jika seandainya engkau terhalangi (oleh penyakit dan tidak bisa meminum air ini kecuali harus mengobati terlebih dahulu, berapa dirham akan engkau bayar?”

    Beliau menjawab: “Dengan setangah kerajaanku”.

    Ibnu Samak bertanya lagi: “Kalau seandainya setelah kamu meminumnya lantas tidak bisa keluar dari badanmu, berapa banyak akan kamu bayar?

    Beliau menjawab, “Dengan setengahnya lagi dari kekuasaanku”.

    Ibnu Samak lantas mengatakan kepadanya, “Sungguh kerajaanmu nilainya tidak lebih dari segelas air, oleh karena itu tidak selayaknya untuk saling berlomba-lomba untuk mendapatkanya”.

    (Kitab Syadzraat dzahab fii akhbaari man dzahaba karangan Ibnul Amaad al-Hanbali juz 1/336)

     
  • Ibnu Rusman 21:48 on 8 September 2013 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    SENYUMMU KEPADA SAUDARAMU ADALAH SEDEKAH

    Tebarkanlah senyum sesama kalian apabila bertemu, seperti dalam sebuah atsar dari salah seorang sahabat, bahwa Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan: ‘Apabila ada dua orang muslim bertemu lalu salah seorang diantara keduanya membikin senang temannya, kemudian ia mengambil tangannya (untuk berjabat tangan) maka dosa keduanya gugur sebagaimana daun berguguran dari pohonnya’

    (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya al-Ikhwan hal: 114. Dan dikeluarkan juga oleh Hanad dalam kitabnya az-Zuhd no: 1028.)

    Rosullulloh shalallahu alaihi wassalam bersabda ^Senyumanmu kepada saudaramu itu bernilai sedekah”

    HR at-Tirmidzi no: 1956. Dinyatakan shahih oleh al-Albani.

    Maksud hadits ini, bahwa menunjukan wajah yang ceria dihadapan saudaramu apabila bertemu dengannya, itu akan diberi pahala sebagaimana halnya pahala ketika engkau bersedekah.
    (lih. Faidhul Qadir 3/297)

    Oleh karenanya, senyum bisa menyebarkan rasa cinta diantara kaum muslimin, menghibur perasaan, dan menumbuhkan rasa nyaman dan tenang didalam dada dan jiwa mereka.

    Ibnu Uyainah pernah menyatakan: ‘Wajah yang berbinar merupakan jaring untuk menangkap rasa sayang. Seperti, ketika dirimu bertemu dengan seseorang di jalan sedangkan raut mukamu menggambarkan kesedihan, gelisah dan gundah gulana, kemudian orang tersebut tersenyum kepadamu, maka engkau akan merasa kalau kesedihanmu itu telah hilang dan sirna’.

     
  • Ibnu Rusman 21:32 on 8 September 2013 Permalink | Balas
    Tags:   

    ^Ketika Abdullah bin Mas’ud berada pada saat menjelang wafatnya, beliau memanggil anaknya, kemudian berwasiat kepadanya:

    ” Wahai anakku (Abdurahman bin Abdullah bin Mas’ud), sesungguhnya saya berwasiat kepadamu lima perkara maka jagalah wasiat ini;

    1. Tunjukan kepada manusia jika dirimu tidak butuh pada harta mereka (mengambil yang bukan haknya), maka kamu akan meraih kekayaan yang hakiki.

    2. Tinggalkan senang meminta-minta pada orang lain karena sesungguhnya itu merupakan kefakiran yang akan selalu menghantuimu.

    3. Berilah orang lain udzur jika melakukan kesalahan dan jangan sekali-kali engkau tiru kesalahannya.

    4. Berusahalah untuk selalu beramal pada hari ini dan usahakan amalanmu sesuai sunnah.

    5. Jika kamu mengerjakan sholat maka sholatlah seperti sholatnya orang yang akan berpisah seakan-akan dirinya tidak akan sholat lagi setelahnya (maksudnya akan meninggal.pent)^

    (Washoya Ulama ‘indal maut hal 69-70)

     
  • Ibnu Rusman 21:29 on 8 September 2013 Permalink | Balas
    Tags:   

    WASIAT ASY-SYAIKH BADR BIN MUHAMMAD AL-BADR HAFIZHAHULLAH
    (Daurah Masjid Agung Manunggal Bantul 24-25 Agustus 2013)

    1. Bertaqwa kepada Allah. Allah Ta’ala melihatmu mengerjakan perintah-perintah-Nya, dan jangan sampai Allah melihatmu melanggar larangan-larangan-Nya. Taqwa adalah obat dan solusi segala kesempitan dan kesulitan

    2. Istiqomah di atas agama. Hal ini bisa dilakukan dengan dua cara; tidak menambah dan tidak mengurangi ajaran Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , serta mengamalkannya sesuai tuntunan beliau.

    3. Saling menasihati di antara kalian. Yakni atas kesalahan dan kekurangan yang terjadi. Sampaikanlah nasehat secara pribadi, jangan disebarkan, jangan dibuka di depan umum, karena yg demikian berarti menjatuhkannya. Disebutkan oleh asy-Syafi’i bahwa nasehat yang sebenarnya itu adalah nasehat yang disampaikan secara rahasia/tersembunyi. Adapun jika disampaikan secara terang-terangan (disampaikan secara terbuka), maka itu berarti menjatuhkan. Juga hendaknya nasehat disampaikan dengan cara yang lembut.

    4. Hendaknya bersemangat menjaga ukhuwwah (persaudaraan). Ingatlah bahwa seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya. Ukhuwwah Islamiyyah merupakan di antara nikmat Allah yang terbesar kepada kita. Bersyukurlah terhadap nikmat ukhuwwah ini.

    5. Aku wasiat kan kepada kalian untuk senantiasa mendengar dan mentaati waliyyul amr (pemerintah muslimin). Shahabat Abu Hurairah berkata: Waliyyul amr adalah pemerintah. Tentunya taat kepada pemerintah adalah dalam hal yang ma’ruf.

    6. Aku wasiatkan kepada kalian untuk tidak keluar dari ketaatan terhadap pemerintah, tidak memberontak pada pemerintah. Siapa yang mati demikian maka ia mati di atas jahiliah. Memberontak termasuk dosa besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barang siapa mengangkat senjata kepada kami maka tidak termasuk golongan kami.”

    7. Berbakti kepada kedua orang tua. Durhaka kepada kedua orang tua termasuk dalam kategori dosa besar. Dalam kitabnya al-Adab al-Mufrod, al-Bukhari menyebutkan hadits “berbaktilah kepada orang tua niscaya anak anak kalian berbakti kepada kalian.”

    8. Menjaga dan menjalin hubungan silaturrahmi dengan kerabat. 9. Aku wasiatkan kepada kalian untuk bersatu berjamaah dan tinggalkan furqoh (perpecahan). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berjamaah adalah rahmat, sedangkan furqoh itu adzab.

    10. Aku wasiatkan kepada kalian untuk senantiasa bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam tholabul ilmi. Sesungguhnya ilmu merupakan warisan para nabi. Sekarang kami yang menyampaikan ini, maka di kemudian hari kalianlah yang menyampaikan.

    Jagalah wasiat wasiat tersebut niscaya bermanfaat bagi kalian.

     
  • Ibnu Rusman 02:29 on 15 August 2013 Permalink | Balas
    Tags: SYARAH HADITS MUSLIM   

    KAUM MUSLIMIN BAGAIKAN SATU TUBUH 

    Dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    الْمُسْلِمُونَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ، إِنِ اشْتَكَى عَيْنُهُ، اشْتَكَى كُلُّهُ، وَإِنِ اشْتَكَى، رَأْسُهُ اشْتَكَى كُلُّهُ

    “Kaum muslimin bagaikan satu tubuh, jika matanya mengeluhkan sakit maka seluruh tubuhnya ikut mengeluhkan sakit, dan jika kepalanya mengeluhkan sakit maka seluruh tubuhnya juga mengeluhkan sakit.”

    HR Muslim no.2586

     
  • Ibnu Rusman 22:10 on 7 August 2013 Permalink | Balas  

    PILAR-PILAR IBADAH

    Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,

    “Ibadah dibangun di atas dua perkara;

    pertama cinta dan kedua pengagungan.

    Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allah).

    Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun berharap dan mencari keridhaan-Nya.”
    (lihat asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zaad al-Mustaqni’ [1/9] cet. Mu’assasah Aasam)

    ==========

    Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,

    “Ibadah yang diperintahkan itu mengandung perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini ditopang oleh tiga pilar; cinta, harap, dan takut.

    Ketiga pilar ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satunya maka dia belum beribadah kepada Allah dengan benar.

    Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya
    dengan rasa harap semata adalah metode kaum Murji’ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka, maka ini adalah jalannya kaum Khawarij.”

    (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 35 cet. Dar Ibnu Khuzaimah)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal