Pembaruan Terkini Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 10:11 on 3 May 2014 Permalink | Balas  

    Abu Darda’ radhiyallahu anhu berkata:: “Tanda orang bodoh itu ada 3 (tiga), yaitu:

    1. Bangga diri.
    2. Banyak bicara dalam hal yg tidak bermanfaat.
    3. Melarang orang lain dari suatu perbuatan, namun ia sendiri melakukannya.” (Lihat ‘Uyuunu Al-Akhbaar, karya Ibnu Qutaibah II/39).

    Jadi, Orang Pintar itu selalu berupaya membebaskan diri dari 3 Tanda Orang Bodoh di atas, dan juga dari tanda-tanda yg lainnya, seperti bermalas-malasan dalam beramal ibadah dan tidak peduli dengan menuntut ilmu agama, mengharapkan keselamatan dan kebahagian di dunia dan akhirat tetapi ia berjalan di atas jalan kesesatan, kesengsaraan.

    » Di dlm sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (yg artinya): “Orang yg pintar ialah siapa saja yg menundukkan jiwanya (utk melakukan ketaatan kpd Allah, dan ia selalu beramal (sebagai bekal) untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yg bodoh (lemah) itu ialah siapa saja yg selalu mengikuti bisikan (buruk) jiwanya, dan ia berangan-angan tinggi kepada Allah (namun tanpa disertai iman dan amal, pent).”

    » Seorang ahli hikmah berkata: “Engkau berharap keselamatan (di dunia n akhirat), tetapi engkau tidak mengikuti jalan-jalan keselamatan. Sesungguhnya kapal itu tidaklah berlayar di tempat yg kering.”

     
  • Ibnu Rusman 08:28 on 3 May 2014 Permalink | Balas  

    Nasehat untuk anak-anaku 

    Wahai Anak-anaku…

    Berhati-hatilah dengan kata-katamu, Jagalah lisanmu, berbicaralah yang baikatau diam.
    Jangan kau terlalu banyak menulis sesuatu yg tdk bermanfaat di fb atau twittermu,buanglah atau hapus sesuatu yag tidak perlu di statusmu karna itu akan dimintaper-tanggungjawab-kan di akhirat kelak.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ^Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicaradengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu,sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari padajarak antara timur dan barat.^ (HR. Muslim)

    Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ^Haiorang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan setiap diri hendaklahmemperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…^(QS.Al Hasyr: 18)

    Orang berakal wajib melihat waktunya, menanganiurusannya, dan menjaga lidahnya. Barangsiapa menghitung perkataannya termasukbagian dari amal perbuatannya, niscaya ia sedikit berbicara kecuali apa-apayang bermanfaat baginya

    Wahai Anak-anaku …

    Janganlah terlalu banyak berkeluh kesah di status fb-mu dan mengharap belaskasihan dari teman-temanmu. Sebagaimana seorang salaf pernah berkata ^Jika engkau mengeluhkan (kondisimu) kepada anakAdam maka sesungguhnya…  Engkau sedangmengeluhkan Allah Yang Maha Penyayang kepada anak Adam yang bukan penyayang…

    Berkeluh kesahlah hanya kepada Allah sebagamanaRasululloh bersabda ^Jika kamu meminta, mintalahkepada Allah. Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah^(Riwayat At Tirmidzi)

    Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam ketikamenghadapi kesedihan berupa kehilangan putranya, Yusuf, sehingga anak-anaknyayang lain mengiranya akan bertambah sakit dan sedih.

    Maka dengarlah jawabanNabi Ya’qub yang perlu diteladani setiap muslim,

    Dia (Ya’qub) menjawab: ^Sesungguhnya hanyalahkepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.^ (QS Yusuf:86)

    Wahai anak-anaku …

    Ingatlah setiap kata yang kita ucapkan, baik perkataanyang baik atau buruk akan selalu dicatat oleh malaikat yang setiap saatmengawasi kita.

    Allah Ta’ala berfirman(yang artinya), ”Tiada suatu ucapanpun yangdiucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”(QS. Qaaf: 18).

    Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliaudalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih karena sakit yang dideritanya.Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thowus, seorang tabi’in yang terkenal),“Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehatitu, Imam Ahmad langsung diam, tidak merintih. Beliau takut jika merintihsakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat. (Silsilah Liqo’at Al Bab Al Maftuh,11/5)

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, masahidupku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”

    “Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya.
    Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka lalat itu terbang”. (HR. at-Tirmidzi)

    Haurgeulis, 1 Mei 2014

     
  • Ibnu Rusman 22:25 on 8 September 2013 Permalink | Balas
    Tags:   

    KEKUASAAN ITU NILAINYA TAK LEBIH DARI SEGELAS AIR.

    Pada suatu hari Ibnu Samak pernah masuk ke istana Harun ar-Rasyid, maka ar-Rasyid meminta untuk di hadirkan air minum untuknya.

    Berkata Ibnu Samak kepada beliau: “Wahai amirul mu’minin,demi Allah (saya bertanya kepadamu, jika seandainya engkau terhalangi (oleh penyakit dan tidak bisa meminum air ini kecuali harus mengobati terlebih dahulu, berapa dirham akan engkau bayar?”

    Beliau menjawab: “Dengan setangah kerajaanku”.

    Ibnu Samak bertanya lagi: “Kalau seandainya setelah kamu meminumnya lantas tidak bisa keluar dari badanmu, berapa banyak akan kamu bayar?

    Beliau menjawab, “Dengan setengahnya lagi dari kekuasaanku”.

    Ibnu Samak lantas mengatakan kepadanya, “Sungguh kerajaanmu nilainya tidak lebih dari segelas air, oleh karena itu tidak selayaknya untuk saling berlomba-lomba untuk mendapatkanya”.

    (Kitab Syadzraat dzahab fii akhbaari man dzahaba karangan Ibnul Amaad al-Hanbali juz 1/336)

     
  • Ibnu Rusman 21:48 on 8 September 2013 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    SENYUMMU KEPADA SAUDARAMU ADALAH SEDEKAH

    Tebarkanlah senyum sesama kalian apabila bertemu, seperti dalam sebuah atsar dari salah seorang sahabat, bahwa Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan: ‘Apabila ada dua orang muslim bertemu lalu salah seorang diantara keduanya membikin senang temannya, kemudian ia mengambil tangannya (untuk berjabat tangan) maka dosa keduanya gugur sebagaimana daun berguguran dari pohonnya’

    (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya al-Ikhwan hal: 114. Dan dikeluarkan juga oleh Hanad dalam kitabnya az-Zuhd no: 1028.)

    Rosullulloh shalallahu alaihi wassalam bersabda ^Senyumanmu kepada saudaramu itu bernilai sedekah”

    HR at-Tirmidzi no: 1956. Dinyatakan shahih oleh al-Albani.

    Maksud hadits ini, bahwa menunjukan wajah yang ceria dihadapan saudaramu apabila bertemu dengannya, itu akan diberi pahala sebagaimana halnya pahala ketika engkau bersedekah.
    (lih. Faidhul Qadir 3/297)

    Oleh karenanya, senyum bisa menyebarkan rasa cinta diantara kaum muslimin, menghibur perasaan, dan menumbuhkan rasa nyaman dan tenang didalam dada dan jiwa mereka.

    Ibnu Uyainah pernah menyatakan: ‘Wajah yang berbinar merupakan jaring untuk menangkap rasa sayang. Seperti, ketika dirimu bertemu dengan seseorang di jalan sedangkan raut mukamu menggambarkan kesedihan, gelisah dan gundah gulana, kemudian orang tersebut tersenyum kepadamu, maka engkau akan merasa kalau kesedihanmu itu telah hilang dan sirna’.

     
  • Ibnu Rusman 21:32 on 8 September 2013 Permalink | Balas
    Tags:   

    ^Ketika Abdullah bin Mas’ud berada pada saat menjelang wafatnya, beliau memanggil anaknya, kemudian berwasiat kepadanya:

    ” Wahai anakku (Abdurahman bin Abdullah bin Mas’ud), sesungguhnya saya berwasiat kepadamu lima perkara maka jagalah wasiat ini;

    1. Tunjukan kepada manusia jika dirimu tidak butuh pada harta mereka (mengambil yang bukan haknya), maka kamu akan meraih kekayaan yang hakiki.

    2. Tinggalkan senang meminta-minta pada orang lain karena sesungguhnya itu merupakan kefakiran yang akan selalu menghantuimu.

    3. Berilah orang lain udzur jika melakukan kesalahan dan jangan sekali-kali engkau tiru kesalahannya.

    4. Berusahalah untuk selalu beramal pada hari ini dan usahakan amalanmu sesuai sunnah.

    5. Jika kamu mengerjakan sholat maka sholatlah seperti sholatnya orang yang akan berpisah seakan-akan dirinya tidak akan sholat lagi setelahnya (maksudnya akan meninggal.pent)^

    (Washoya Ulama ‘indal maut hal 69-70)

     
  • Ibnu Rusman 21:29 on 8 September 2013 Permalink | Balas
    Tags:   

    WASIAT ASY-SYAIKH BADR BIN MUHAMMAD AL-BADR HAFIZHAHULLAH
    (Daurah Masjid Agung Manunggal Bantul 24-25 Agustus 2013)

    1. Bertaqwa kepada Allah. Allah Ta’ala melihatmu mengerjakan perintah-perintah-Nya, dan jangan sampai Allah melihatmu melanggar larangan-larangan-Nya. Taqwa adalah obat dan solusi segala kesempitan dan kesulitan

    2. Istiqomah di atas agama. Hal ini bisa dilakukan dengan dua cara; tidak menambah dan tidak mengurangi ajaran Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , serta mengamalkannya sesuai tuntunan beliau.

    3. Saling menasihati di antara kalian. Yakni atas kesalahan dan kekurangan yang terjadi. Sampaikanlah nasehat secara pribadi, jangan disebarkan, jangan dibuka di depan umum, karena yg demikian berarti menjatuhkannya. Disebutkan oleh asy-Syafi’i bahwa nasehat yang sebenarnya itu adalah nasehat yang disampaikan secara rahasia/tersembunyi. Adapun jika disampaikan secara terang-terangan (disampaikan secara terbuka), maka itu berarti menjatuhkan. Juga hendaknya nasehat disampaikan dengan cara yang lembut.

    4. Hendaknya bersemangat menjaga ukhuwwah (persaudaraan). Ingatlah bahwa seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya. Ukhuwwah Islamiyyah merupakan di antara nikmat Allah yang terbesar kepada kita. Bersyukurlah terhadap nikmat ukhuwwah ini.

    5. Aku wasiat kan kepada kalian untuk senantiasa mendengar dan mentaati waliyyul amr (pemerintah muslimin). Shahabat Abu Hurairah berkata: Waliyyul amr adalah pemerintah. Tentunya taat kepada pemerintah adalah dalam hal yang ma’ruf.

    6. Aku wasiatkan kepada kalian untuk tidak keluar dari ketaatan terhadap pemerintah, tidak memberontak pada pemerintah. Siapa yang mati demikian maka ia mati di atas jahiliah. Memberontak termasuk dosa besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barang siapa mengangkat senjata kepada kami maka tidak termasuk golongan kami.”

    7. Berbakti kepada kedua orang tua. Durhaka kepada kedua orang tua termasuk dalam kategori dosa besar. Dalam kitabnya al-Adab al-Mufrod, al-Bukhari menyebutkan hadits “berbaktilah kepada orang tua niscaya anak anak kalian berbakti kepada kalian.”

    8. Menjaga dan menjalin hubungan silaturrahmi dengan kerabat. 9. Aku wasiatkan kepada kalian untuk bersatu berjamaah dan tinggalkan furqoh (perpecahan). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berjamaah adalah rahmat, sedangkan furqoh itu adzab.

    10. Aku wasiatkan kepada kalian untuk senantiasa bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam tholabul ilmi. Sesungguhnya ilmu merupakan warisan para nabi. Sekarang kami yang menyampaikan ini, maka di kemudian hari kalianlah yang menyampaikan.

    Jagalah wasiat wasiat tersebut niscaya bermanfaat bagi kalian.

     
  • Ibnu Rusman 22:36 on 6 June 2013 Permalink | Balas  

    Hadits Isra’ wal Mir’aj 

    Ada sekitar 16 shahabat yang meriwayatkan kisah isra miraj. Diantaranya: Umar bin Khattab, Anas bin Malik, Abu Dzar, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Hudzaifah bin Yaman, Shuhaib, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, dan Ali bin Abi Thalib –radhiallahu ‘anhum.

    Imam Al-Albani mengumpulkan berbagai riwayat tentang isra mi’raj dan beliau bukukan dalam karya yang berjudul: Al-Isra wal Mi’raj.

    “Atap rumahku terbelah ketika saya berada di Mekkah dalam keadaan antara tidur dan terjaga, lalu turunlah Jibril -’alaihis salam- dan membelah dadaku. Kemudian dia mencucinya dengan air zam-zam, lalu dia datang dengan membawa sebuah baskom dari emas yang penuh berisi hikmah dan iman dan menuangkannya ke dalam dadaku, kemudian dia menutupnya (dadaku). Kemudian didatangkan kepadaku Buroq – hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bighol (peranakan keledai dengan kuda), dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya -.

    Sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat para nabi mengikat (tunggangan). Kemudian saya masuk ke mesjid dan sholat 2 raka’at (mengimami para nabi dan rasul) kemudian keluar. Kemudian kami (saya dan jibril) naik ke langit (pertama) dan Jibril minta izin untuk masuk, maka dikatakan (kepadanya), “Siapa engkau?” Dia menjawab, “Jibril”. Penjaga itu bertanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dia bertanya lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan pintu langit untuk kami.

    Kemudian saya bertemu dengan seseorang yang duduk, sementara di sebelah kanan dan kirinya ada segerombolan bayang-bayang hitam. Jika melihat ke sebelah kanan beliau tertawa dan jika melihat sebelah kiri beliau menangis. Kemudian dia menyambutku dengan mengatakan:

    “Selamat datang nabi yang sholeh, anakku yang shaleh”.

    Kata Jibril, itu adalah Adam. Gerombolan hitam di sebelah kanannya adalah anak keturunannya ahli surga, dan sebelah kiri adalah keturunannya ahli neraka.

    Kemudian kami naik ke langit ke-2, lalu Jibril berkata, “bukalah pintu langit”. Penjaganya menanyakan seperti yang ditanyakan oleh penjaga langit pertama –lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa beliau bertemu dengan Nabi Isa dan Yahya di langit kedua. Mereka menyambut dengan mengatakan:

    مرحبا بالأخ الصالح والنبي الصالح

    “Selamat datang saudaraku yang shaleh, nabi yang sholeh.”

    Nabi Yusuf di langit ke-3, Nabi Idris di langit ke-4, Nabi Harun di langit ke-5, Nabi Musa di langit ke-6 dan Nabi Ibrahim di langit ke-7. Beliau bersabda, ”Maka saya bertemu dengan Ibrahim dan dia sedang bersandar ke Baitul Ma’mur, satu bangunan yang dimasuki oleh 70.000 malaikat setiap harinya, dan jika mereka telah keluar, tidak akan kembali lagi.

    Lalu dia (Jibril) membawaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya. Juga diperlihatkan kepadaku empat sungai, dua sungai di dalam dan dua sungai di luar, maka saya berkata, “Apa kedua sungai ini, wahai Jibril?”. Dia menjawab, “Adapun dua sungai yang di dalam, maka itu adalah 2 sungai dalam surga. Adapun yang di luar maka dia adalah Nil dan Furoth”.

    Kemudian Jibril – alaihis salam – datang kepadaku dengan membawa sebuah bejana yang berisi khamar dan bejana yang berisi susu, lalu sayapun memilih susu. Maka Jibril berkata, “Engkau telah memilih fitrah”. Kemudian kami terus ke atas sampai saya tiba pada jenjang dimana saya bisa mendengar goresan pena. Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan atasku 50 sholat sehari semalam.

    Kemudian saya turun kepada Musa –alaihis salam–. Lalu dia bertanya, “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas umatmu?”. Saya menjawab, “50 sholat”. Dia berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji Bani Isra`il”.

    Sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata, “Wahai Tuhanku, ringankanlah atas umatku”. Maka dikurangi dariku 5 sholat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata, “Allah mengurangi untukku 5 sholat”. Dia berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Hingga terus menerus saya bolak-balik antara Tuhanku – Tabaraka wa Ta’ala – dan Musa. Sampai pada akhirnya, Allah berfirman,

    يا محمد هن خمس صلوات في كل يوم وليلة بكل صلاة عشر فتلك خمسون صلاة

    “Wahai Muhammad, ini adalah 5 sholat sehari semalam, setiap sholat pahalanya 10, maka semuanya 50 sholat

    Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan, namun dia tidak melakukannya maka dicatat untuknya satu pahala, dan jika dia kerjakan maka dicatat untuknya 10 kali kebaikan. Barangsiapa yang berniat kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Dan jika dia mengerjakannya, maka ditulis untuknya satu kejelekan”.

    Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa –’alaihis salam– seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata, “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. Kemudian saya dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya ada gunung-gunung dari permata dan debunya adalah Misk.”

    Allahu a’lam, Semoga bermanfaat.

     
  • Ibnu Rusman 21:20 on 30 May 2013 Permalink | Balas
    Tags:   

    PARA NABIPUN BEKERJA

    Bekerja keras untuk menafkahi keluarga adalah ibadah, pekerjaan yang halal dan baik sangat dibutuhkan bagi semua muslim.

    Para nabi juga bekerja keras, bekerja keras dengan menggunakan tangan, salah satu pekerjaan terbaik bahkan inilah cara kerja para nabi ‘alaihimush sholaatu wa salaam. Dari Al Miqdam, dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

    مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

    “Tidak ada seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan hasil kerja keras tangannya sendiri. Dan Nabi Daud ‘alaihis salam makan dari hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari no. 2072)

    Nabi Zakariya alaihis salam adalah tukang kayu (HR. Muslim IV/1847 no.2379)

    Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallah bekerja sebagai penggembala kambing milik ahli makkah dan pernah juga beliau bekerja sebagai pedagang milik khodijah radhiyallahu ‘anha.

    Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

    « مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلاَّ رَعَى الْغَنَمَ » . فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ « نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لأَهْلِ مَكَّةَ »

    “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan dia menggembala kambing”, lalu ada sahabat bertanya, “Apakah engkau juga ?”, beliau menjawab, “Iya, saya menggembala kambing dengan mendapatkan upah beberapa qiroth milik ahli Makkah” (HR. Bukhari II/789, dari Abu Hurairah)

     
  • Ibnu Rusman 00:17 on 23 April 2013 Permalink | Balas
    Tags: CINTA RASUL   

    Berikut ini ringkasan faidah dari Ceramah Fadhilatus Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr ~hafizhahumallah~ di Masjid Istiqlal pada Ahad, 10 Jumadil Akhir 1434 H / 21 April 2013 :

    #1 Cinta kepada Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ termasuk syarat untuk dapat merasakan manisnya keimanan.

    ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار

    Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu); Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam api.” (Muttafaq ‘alaih)

    #2 Lebih mendahulukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia bahkan sampai diri sendiri. Lebih mendahulukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari pada emas, perak dan seluruh alam semesta dan kekayaannya.

    عنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- «لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

    Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku ia lebih cintai daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia.” HR. Bukhari dan Muslim

    #3 Seseorang Akan Bersama Orang yang Dicintainya…

    عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ ، فَقَالَ : مَتَى السَّاعَةُ ؟ ، قَالَ : ” وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا ؟ ” قَالَ : لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : ” أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ” . قَالَ أَنَسٌ : فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ” ، قَالَ أَنَسٌ : فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ , وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ “

    Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Ia berkata, “Kapan hari kiamat terjadi?” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?” Ia menjawab, “Tidak ada sama sekali. Hanya saja, sesungguhnya saya mencintai Allah dan Rosul-Nya.” Maka beliau bersabda, “Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Anas pun mengatakan, “Tidaklah kami berbahagia dengan sesuatu seperti halnya kebahagiaan kami dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Anas berkata, “Karena saya mencintai Nabi, Abu Bakar dan Umar. Dan saya berharap saya bersama mereka karena kecintaan saya kepada mereka, meskipun saya tidak beramal seperti amal mereka.” [HR Bukhari dan Muslim]

    #4 Tidak ada yang lebih cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam daripada generasi terbaik, yaitu generasi para Sahabat Radiyallahu ‘anhum

    #5 Cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam tidak hanya klaim semata, akan tetapi cinta kepada Rasul akan memiliki tanda-tanda, yaitu Mengikuti Ajaran Nabi…

    Ittiba’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya.

    Allah Ta’ala berfirman,

    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

    “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31)

    #6 Tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kedua adalah dengan memperbanyak shalawat dan mengingat Rasulullah…

    Dalam sebuah riwayat dari Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

    “Orang yang bakhil (kikir/pelit) itu ialah orang yang (apabila) namaku disebut disisinya, kemudian ia tidak bershalawat kepadaku shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal no. 1736, dengan sanad shahih)

    #7 Tanda cinta kepada Allah berikutnya adalah rindu ingin melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam… Kerinduan kepada beliau, akan menimbulkan semangat untuk ber-ittiba’ kepada sunnah-sunnah beliau.

    #8 Salah satu sunnah Nabi adalah memperbanyak shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, terlebih bershalawat di hari Jumat

    أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

    “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)

    #9 Jangan memanggil kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagaimana panggilan kepada selain beliau. Cara memanggil beliau adalah dengan mengagungkan beliau tanpa ghuluw atau meremehkannya, juga tidak boleh mengangkat suara kita di atas suara Nabi…

    #10 Salah satu tanda cinta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah mencintai sahabat Nabi dan para istri Nabi.

    #11 Tanda cinta kepada Nabi adalah mencintai orang yang berpegang teguh kepada sunnah dan para da’i pendakwah sunnah…

    #12 Diantara cinta kepada Nabi adalah mencintai beliau dengan kecintaan kepada islam…cintanya ada di pertengahan, yaitu tidak terlalu ghuluw (berlebih2an) dalam mengagungkan dan tidak meremehkan/melecehkan beliau.

    #13 Diantara orang yang meremehkan Nabi adalah karena lemahnya kecintaan kepada beliau, lebih mencintai dunia.

    #14 Diantara orang yang meremehkan Nabi adalah tidak menghormati hadits2 dari Nabi… Mereka sengaja mempertanyakan kenapa begini dan begitu… padahal Nabi tidak berkata dengan hawa nafsunya…

    #15 Diantara orang yang meremehkan Nabi adalah berpaling dari mempelajari sirah Nabi Shallallahu “alaihi Wa Sallam.. Sesungguhnya siroh Nabi adalah sesuci-sucinya siroh…

    #16 Diantara orang yang meremehkan Nabi adalah berbuat bid’ah.. Barangsiapa yang tidak mencintai Nabi maka bukan termasuk umat Nabi.. Barangsiapa yang berbuat amalan yang tidak ada sunnahnya, maka ia akan tertolak.

    #17 Diantara orang yang meremehkan Nabi adalah mencela para sahabat Nabi

    Rasulullah shallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

    لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

    ”Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.” [HR Muslim]

    #18 Jangan berlebih-lebihan (ghuluw) kepada Rasulullah, karena sikap ghuluw telah menghancurkan umat2 sebelum kita… seperti halnya orang2 Nashrani terlalu ghuluw kepada Nabi Isa… SUdah selayaknya kita bersikap tengah2, yaitu tidak berlebih2an dan juga tidak meremehkan beliau.

    #19 Nabi telah menutup segala perkara yang menyimpang dari islam… Rasulullah melarang orang yang ghuluw terhadap beliau, misalnya ketika ada orang yang berkata “masya Allah wa syi’ta”, maka beliau pun melarang perbuatan tersebut.

    #20 Janganlah seseorang melakukan hal2 yang tidak diajarkan dengan alasan ini karena mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam… Niat yang baik tetapi jika tidak sesuai dengan sunnah maka akan tertolak amalannya… Jangan berbuat seperti ini, “aku melakukan ini semata2 karena kami mencintai Nabi” (padahal tidak ada tuntunannya)

    #21 Tata cara kita mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebaiknya mencontoh Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dalam mencintai beliau… Cinta yang benar itu yang diikuti ‘ittiba’ , bukan cinta karena ghuluw.

    #22 Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr dalam menutup kajian ini dengan berdoa dan hamdalah… subhanallah… Semoga kita bisa mengambil faidah dari kajian tadi dan ilmu yang diberikan oleh Fadhilatusy Syaikh bisa bermanfaat untuk kita semua.

     
  • Ibnu Rusman 02:08 on 12 April 2013 Permalink | Balas
    Tags:   

    M E N G U A P

    Hampir semua Makhluk Allah dimuka bumi ini selalu “menguap” bahkan sampai bayi yang berumur 11 minggu sudah dapat “menguap“.

    Menguap juga dapat menular yang disebabkan oleh Respon Empatetik, dasar empati manusia perasaan memahami terhadap orang lain.

    Para dokter di zaman sekarang mengatakan, “Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh. Dan hal ini terjadi ketika kita sedang mengantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam. Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung. Apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan “menguap” ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri.

    Hal ini sebagaimana telah disebutkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya ia meletakkan tangannya di mulutnya karena syaithan akan memasukinya.”
    (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabul Mufrad)

    Dalam Syarh Shahih Muslim jilid 9 (18/97) An-Nawawi berkata : “ Menguap sering terjadi bersamaan dengan rasa berat, jenuh, penat, badan cenderung merasa malas. Penyandaran perbuatan tersebut kepada syaithan karena dialah yang mengajak kepada syahwat, dan maksudnya di sini adanya peringatan terhadap sebab yang melahirkan darinya berpuas-puas dan memperbanyak di dalam masalah makanan.

    Adapun menahan menguap maka hal itu adalah PERKARA YANG DISUNNAHKAN, dan tentang hal tersebut banyak hadits-hadits yang menerangkannya, dan diantara hadits-hadits tersebut adalah hadits Abu Hurairah, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Menguap itu dari syaithan maka apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya dia menahannya, dan apabila salah seorang dari kalian ketika menguap mengucapkan “ haah “, syaithan akan menertawakannya”, pada lafazh riwayat Muslim : “Apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya dia menahannya semampunya”. Pada lafazh riwayat Ahmad: “Maka hendaknya dia menahannya semampunya dan janganlah ia mengucapkan “aah haah,” karena sesungguhnya apabila ada salah seorang dari kalian membuka mulutnya maka sesungguhnya syaithan menertawakannya atau tertawa kepadanya” (HR. Al-Bukhari 3289, Muslim 2994, Ahmad 9246, At-Tirmidzi 370, Abu Daud 5028)

    Syaithan tidak hanya menunggu-nunggu kesempatan untuk masuk ke dalam tubuh manusia tatkala menguap. Bahkan, menguap itu sendiri timbul dari sebab perbuatan syaithan.

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Menguap berasal dari syaithan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaknya ia melawan semampunya. Jika dia sampai berucap ‘haah’ (tatkala menguap) maka syaithan akan tertawa karenanya.” (HR. Al-Bukhari)

    Dan dalam riwayat Ahmad: “Apabila salah seorang dari kalian menguap dalam shalat, maka hendaknya dia meletakkan tangannya ke mulutnya, karena syaithan itu masuk bersama menguap”
    (HR. Muslim 2995, Ahmad 10930, Abu Daud 5026, dan Ad-Darimi 1382)

    Catatan penting: Sebagian orang bersandar kepada permohonan perlindungan dari syaithan ketika menguap, ini adalah kesalahan yang nyata.

    Berikut kami kutip penjelasan Syaikh Sulaiman bin Abdillah al-Majid, seorang hakim di Riyadh, beliau menjelaskan : “Dan kami tidak mengetahui adanya sunah yang mengajarkan dzikir atau doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika menguap. Adapun yang banyak tersebar menurut sebagian ulama dan kebanyakan masyarakat, bahwa ketika menguap dianjurkan untuk membaca ta’awudz, berdalil dengan firman Allah, yang artinya: ‘Apabila setan mengganggumu maka mintalah perlindungan kepada Allah.’ Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa menguap itu dari setan. Pendalilan semacam ini, tidak pada tempatnya.

    Beliau menyebutkan alasan,

    “Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengabarkan kepada kita bahwa menguap itu dari setan, beliau tidak mengajarkan kepada kita (untuk membaca ta’awudz), selain perintah untuk menahan dan meletakkan tangan di mulut. Sehingga, andaikan ta’awudz (ketika menguap) disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyebutkannya.”

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Diselesaikan di Pondok Paud Hidayah, Sukahati pada dini hari
    30 Jumadilula 1434 H / 11 April 2013

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal