Updates from Februari, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 22:36 on 23 February 2012 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    BERAMAL UNTUK DUNIA DAN AKHIRAT SESUAI KADARNYA 

    Seorang laki-laki datang kepada Sufyan Ats-Tsauri lalu berkata: “Berikan aku wasiat”.

    Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:

    “Bekerjalah engkau untuk dunia sesuai kadar waktu engkau berada padanya, dan beramalah engkau untuk akhirat sesuai kadar waktu engkau tinggal padanya”

    (Hilyatul Auliya, jld. 3 hal. 173)

     
  • Ibnu Rusman 22:23 on 23 February 2012 Permalink | Balas
    Tags:   

    SAHABAT SEJATI ADALAH KETIKA DALAM KESUSAHAN

    Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata:

    «أنا لا أعتقد أخا الرجل في الرضا، ولكن أعتقد أخاه في الغضب»

    “Saya tidak menganggap seseorang sebagai saudara ketika dia hanya berbuat baik dalam keadaan ridha saja, tetapi saya akan menganggapnya sebagai saudara ketika dia tetap berbuat baik walaupun dalam keadaan marah.”

    (Hilyatul Auliya, jilid 8 hal. 96)

     
  • Ibnu Rusman 21:38 on 10 February 2012 Permalink | Balas
    Tags:   

    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ^Aku diperintah (oleh Allah) untuk bersujud pada tujuh tulang, yaitu pada dahi dan beliau -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menunjuk dengan tangannya pada hidung beliau, dua (telapak) tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua telapak kaki. Dan kami tidak (boleh) menahan pakaian dan rambut^. (HR Bukhari no. 812; Muslim no. 490).

    >>>Al Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- menjelaskan tentang sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ^Dan kami tidak (boleh) menahan pakaian dan rambut^ dengan mengatakan: ^Yang dimaksudkan bahwa dia (orang yang shalat) tidak mengumpulkan pakaiannya dan rambutnya di dalam shalat. Dan zhahirnya menunjukkan, larangan itu dalam keadaan shalat. Ad Dawud condong kepada pendapat ini. Dan penyusun (Imam Bukhari) membuat bab setelah ini yaitu, Bab : Tidak boleh (orang yang shalat) menahan pakaiannya di waktu shalat^, ini menguatkan (pendapat Dawud) itu. Tetapi al Qadhi ‘Iyadh membantahnya, bahwa itu menyelisihi pendapat jumhur (mayoritas ulama). Mereka tidak menyukai hal itu bagi orang shalat, sama saja, apakah orang yang shalat itu melakukannya (yaitu menahan pakaian) di waktu shalat, atau sebelum memasuki shalat. Dan mereka (para ulama) sepakat, bahwa hal itu tidak merusakkan shalat. Tetapi Ibnul Mundzir meriwayatkan kewajiban mengulangi (shalat) dari al Hasan^. (Fathul Bari, syarh hadits no. 809).

    Ibnul Atsir -rahimahullah- mengatakan: ^Menahan pakaian, yaitu: menghimpunnya dan mengumpulkannya dari menyebar^. (an Nihayah fii Gharibul Hadits).

     
  • Ibnu Rusman 10:11 on 3 February 2012 Permalink | Balas  

    Abu Darda’ radhiyallahu anhu berkata:: “Tanda orang bodoh itu ada 3 (tiga), yaitu:

    1. Bangga diri.
    2. Banyak bicara dalam hal yg tidak bermanfaat.
    3. Melarang orang lain dari suatu perbuatan, namun ia sendiri melakukannya.” (Lihat ‘Uyuunu Al-Akhbaar, karya Ibnu Qutaibah II/39).

    Jadi, Orang Pintar itu selalu berupaya membebaskan diri dari 3 Tanda Orang Bodoh di atas, dan juga dari tanda-tanda yg lainnya, seperti bermalas-malasan dalam beramal ibadah dan tidak peduli dengan menuntut ilmu agama, mengharapkan keselamatan dan kebahagian di dunia dan akhirat tetapi ia berjalan di atas jalan kesesatan, kesengsaraan.

    » Di dlm sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (yg artinya): “Orang yg pintar ialah siapa saja yg menundukkan jiwanya (utk melakukan ketaatan kpd Allah, dan ia selalu beramal (sebagai bekal) untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yg bodoh (lemah) itu ialah siapa saja yg selalu mengikuti bisikan (buruk) jiwanya, dan ia berangan-angan tinggi kepada Allah (namun tanpa disertai iman dan amal, pent).”

    » Seorang ahli hikmah berkata: “Engkau berharap keselamatan (di dunia n akhirat), tetapi engkau tidak mengikuti jalan-jalan keselamatan. Sesungguhnya kapal itu tidaklah berlayar di tempat yg kering.”

     
  • Ibnu Rusman 08:28 on 3 February 2012 Permalink | Balas
    Tags:   

    Nasehat untuk anak-anaku 

    Wahai Anak-anaku…

    Berhati-hatilah dengan kata-katamu, Jagalah lisanmu, berbicaralah yang baikatau diam.
    Jangan kau terlalu banyak menulis sesuatu yg tdk bermanfaat di fb atau twittermu,buanglah atau hapus sesuatu yag tidak perlu di statusmu karna itu akan dimintaper-tanggungjawab-kan di akhirat kelak.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ^Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicaradengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu,sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari padajarak antara timur dan barat.^ (HR. Muslim)

    Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ^Haiorang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan setiap diri hendaklahmemperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…^(QS.Al Hasyr: 18)

    Orang berakal wajib melihat waktunya, menanganiurusannya, dan menjaga lidahnya. Barangsiapa menghitung perkataannya termasukbagian dari amal perbuatannya, niscaya ia sedikit berbicara kecuali apa-apayang bermanfaat baginya

    Wahai Anak-anaku …

    Janganlah terlalu banyak berkeluh kesah di status fb-mu dan mengharap belaskasihan dari teman-temanmu. Sebagaimana seorang salaf pernah berkata ^Jika engkau mengeluhkan (kondisimu) kepada anakAdam maka sesungguhnya…  Engkau sedangmengeluhkan Allah Yang Maha Penyayang kepada anak Adam yang bukan penyayang…

    Berkeluh kesahlah hanya kepada Allah sebagamanaRasululloh bersabda ^Jika kamu meminta, mintalahkepada Allah. Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah^(Riwayat At Tirmidzi)

    Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam ketikamenghadapi kesedihan berupa kehilangan putranya, Yusuf, sehingga anak-anaknyayang lain mengiranya akan bertambah sakit dan sedih.

    Maka dengarlah jawabanNabi Ya’qub yang perlu diteladani setiap muslim,

    Dia (Ya’qub) menjawab: ^Sesungguhnya hanyalahkepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.^ (QS Yusuf:86)

    Wahai anak-anaku …

    Ingatlah setiap kata yang kita ucapkan, baik perkataanyang baik atau buruk akan selalu dicatat oleh malaikat yang setiap saatmengawasi kita.

    Allah Ta’ala berfirman(yang artinya), ”Tiada suatu ucapanpun yangdiucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”(QS. Qaaf: 18).

    Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliaudalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih karena sakit yang dideritanya.Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thowus, seorang tabi’in yang terkenal),“Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehatitu, Imam Ahmad langsung diam, tidak merintih. Beliau takut jika merintihsakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat. (Silsilah Liqo’at Al Bab Al Maftuh,11/5)

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, masahidupku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”

    “Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya.
    Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka lalat itu terbang”. (HR. at-Tirmidzi)

    Haurgeulis, 1 Mei 2014

     
  • Ibnu Rusman 23:42 on 2 February 2012 Permalink | Balas
    Tags:   

    Kisah Ibnu Mas’ud

    Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melewati masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan :

    ^Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?^

    Mereka menjawab, ^Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan^

    Ibnu Mas’ud berkata, ^Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya^

    (HR. Ad Darimi no. 204 (1/79). Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayyid. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah (5/11) mengatakan bahwa hadits ini shahih.

     
  • Ibnu Rusman 12:14 on 2 February 2012 Permalink | Balas
    Tags:   

    KUNCI – KUNCI KEBAIKAN DAN KEJELEKAN

    Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

    ^Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu KUNCI untuk membukanya, Allah menjadikan KUNCI PEMBUKA SHALAT adalah BERSUCI / WUDHU sebagaiman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : KUNCI SHALAT adalah BERSUCI

    Allah Subhanahu wa Ta´ala menjadikan KUNCI PEMBUKA HAJI =====> IHRAM,
    KUNCI KEBAJIKAN =====> KEJUJURAN,
    KUNCI SURGA =====> TAUHID,
    KUNCI ILMU =====> BERTANYA DAN MENDENGARKAN,
    KUNCI KEMENANGAN =====> KESABARAN,
    KUNCI DITAMBAHNYA NIKMAT =====> SYUKUR,
    KUNCI KEWALIAN =====> MAHABBAH DAN DZIKIR,
    KUNCI KEBERUNTUNGAN =====> TAKWA,
    KUNCI TAUFIK =====> HARAP DAN CEMAS KEPADA ALLAH ‘AZZA WA JALLA,
    KUNCI DIKABULKAN =====> DOA,
    KUNCI KEINGINAN TERHADAP AKHIRAT =====> ZUHUD DI DUNIA,
    KUNCI KEIMANAN =====> TAFAKKUR PADA HAL YANG DIPERINTAHKAN ALLAH, KESELAMATAN BAGI-NYA, SERTA KEIKHLASAN TERHADAP-NYA DI DALAM KECINTAAN, KEBENCIAN, MELAKUKAN, DAN MENINGGALKAN,
    KUNCI HIDUPNYA HATI =====> TADABBUR AL-QUR’AN, BERIBADAH DI WAKTU SAHUR, DAN MENINGGALKAN DOSA-DOSA,
    KUNCI DIDAPATKANNYA RAHMAT =====> IHSAN DI DALAM PERIBADATAN TERHADAP KHALIQ DAN BERUPAYA MEMBERI MANFAAT KEPADA PARA HAMBA-NYA,
    KUNCI REZEKI =====> USAHA BERSAMA ISTIGHFAR DAN TAKWA,
    KUNCI KEMULIAAN =====> KETAATAN KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA,
    KUNCI PERSIAPAN UNTUK AKHIRAT =====> PENDEKNYA ANGAN-ANGAN,
    KUNCI SEMUA KEBAIKAN =====> KEINGINAN TERHADAP ALLAH DAN KAMPUNG AKHIRAT,
    KUNCI SEMUA KEJELEKAN =====> CINTA DUNIA DAN PANJANGNYA ANGAN-ANGAN^

    “Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan kejelekan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta´ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan, kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan :

    • Kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka,
    • Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta´ala jadikan khamr sebagai kunci segala dosa.
    • Dia jadikan nyanyian sebagai kunci perzinaan,
    • Dia jadikan melepaskan pandangan pada gamba-gambar sebagai kunci kegelisahan dan kegandrungan,
    • Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kunci kerugian dan luputnya segala sesuatu,
    • Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci kekufuran,
    • Dia jadikan dusta sebagai kunci kenifakan (kemunafikan -ed),
    • Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci kebakhilan, memutus silaturahim, serta mengambil harta dengan cara yang tidak halal dan
    • Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci segala kebid´ahan dan kesesatan.

    “Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.” (Hadil Arwah 1/48-49)

    Dikutip dari artikel Kunci Kebaikan dan Kunci Kejelekan Majalah Al-Furqon No. 77 1429/2008 oleh Ummul Hasan

     
  • Ibnu Rusman 10:53 on 1 February 2012 Permalink | Balas
    Tags: Tanya Jawab   

    Hukum Memperingati Maulid Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam

    Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin rahimahullah –semoga Allah membalas jerih payahnya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan- , beliau pernah ditanya tentang hukumnya memperingati maulid Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam ?

    Maka Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjawab:

    1. Malam kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam tidak diketahui secara qath’i (pasti), bahkan sebagian ulama kontemporer menguatkan pendapat yang mengatakan bahwasannya ia terjadi pada malam ke 9 (sembilan) Rabi’ul Awwal dan bukan malam ke 12 (dua belas). Jika demikian maka peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam yang biasa diperingati pada malam ke 12 (dua belas) Rabi’ul Awwal tidak ada dasarnya, bila dilihat dari sisi sejarahnya.

    2. Di lihat dari sisi syar’i, maka peringatan maulid Nabi juga tidak ada dasarnya. Jika sekiranya acara peringatan maulid Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam disyari’atkan dalam agama kita, maka pastilah acara maulid ini telah di adakan oleh Nabi atau sudah barang tentu telah beliau anjurkan kepada ummatnya. Dan jika sekiranya telah beliau laksanakan atau telah beliau anjurkan kepada ummatnya, niscaya ajarannya tetap terpelihara hingga hari ini, karena Allah ta’ala berfirman :

    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

    “Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. Q.S; Al Hijr : 9 .

    Dikarenakan acara peringatan maulid Nabi tidak terbukti ajarannya hingga sekarang ini, maka jelaslah bahwa ia bukan termasuk dari ajaran agama. Dan jika ia bukan termasuk dari ajaran agama, berarti kita tidak diperbolehkan untuk beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan acara peringatan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam tersebut.

    Allah telah menentukan jalan yang harus ditempuh agar dapat sampai kepada-Nya, yaitu jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah, maka bagaimana mungkin kita sebagai seorang hamba menempuh jalan lain dari jalan Allah, agar kita bisa sampai kepada Allah?. Hal ini jelas merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak Allah, karena kita telah membuat syari’at baru pada agama-Nya yang tidak ada perintah dari-Nya. Dan ini pun termasuk bentuk pendustaan terhadap firman Allah ta’ala :

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

    “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridha’i islam itu jadi agama bagimu”. Q.S; Al-Maidah : 3.

    Maka kita perjelas lagi, jika sekiranya acara peringatan maulid Nabi termasuk bagian dari kesempurnaan dien (agama), niscaya ia telah dirayakan sebelum Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam meninggal dunia. Dan jika
    ia bukan bagian dari kesempurnaan dien (agama), maka berarti ia bukan dari ajaran agama, karena Allah ta’ala berfirman: “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu”.

    Maka barang siapa yang menganggap bahwa ia termasuk bagian dari kesempurnaan dien (agama), berarti ia telah membuat perkara baru dalam agama (bid’ah) sesudah wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam, dan pada perkataannya terkandung pendustaan terhadap ayat Allah yang mulia ini (Q.S; Al-Maidah : 3) .

    Maka tidak diragukan lagi, bahwa orang-orang yang mengadakan acara peringatan maulid Nabi, pada hakekatnya bertujuan untuk memuliakan (mengagungkan) dan mengungkapkan kecintaan terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam, serta menumbuhkan ghirah (semangat) dalam beribadah yang di peroleh dari acara peringatan maulid Nabi tersebut. Dan ini semua termasuk dari ibadah. Cinta kepada Rasulullah termasuk ibadah, dimana keimanan seseorang tidaklah sempurna hingga ia mencintai Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri, anak-anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia. Demikian pula bahwa memuliakan (mengagungkan) Rasulullah termasuk dari ibadah. Dan juga yang termasuk kedalam kategori ibadah adalah menumbuhkan ghirah (semangat) dalam mengamalkan syari’at Nabinya.

    Kesimpulannya adalah bahwa mengadakan peringatan maulid Nabi  dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, dan pengagungan terhadap Rasulullah  termasuk dari ibadah. Jika ia termasuk ibadah maka kita tidak diperbolehkan untuk mengadakan perkara baru pada agama Allah (bid’ah) yang bukan syari’at-Nya. Oleh karena itu peringatan maulid Nabi  termasuk bid’ah dalam agama dan termasuk yang diharamkan.

    Kemudian kita mendengar informasi bahwasannya pada acara peringatan maulid Nabi terdapat kemunkaran-kemunkaran yang besar, yang tidak dibenarkan syar’i, indera maupun akal. Dimana mereka mensenandungkan qashidah yang didalamnya mengandung pengkultusan terhadap Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam, hingga terjadi pengagungan yang melebihi pengagungannya kepada Allah ta’ala –kita berlindung kepada Allah dari hal ini-.

    Dan juga kita mendengar informasi tentang kebodohan sebagian orang yang mengikuti acara peringatan maulid Nabi tersebut , dimana ketika dibacakan kisah maulid (kelahiran) beliau, lalu ketika sampai pada perkataan (dan lahirlah Musthafa), maka mereka semua serentak berdiri. Mereka mengatakan bahwa ruh Rasulullah telah datang, maka kami berdiri sebagai penghormatan terhadap kedatangan ruhnya. Dan ini jelas suatu kebodohan.

    Dan bukan merupakan adab bila mereka berdiri untuk menghormati kedatangan ruh Nabi, karena Rasulullah merasa enggan (tidak senang) apabila ada sahabat yang berdiri untuk menghormatinya. Padahal kecintaan dan pengagungan para sahabat terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam melebihi yang lainnya, akan tetapi mereka tidak berdiri untuk memuliakan dan mengagungkannya, ketika mereka melihat keengganan Rasulullah dengan perbuatan tersebut. Jika hal ini tidak mereka lakukan pada saat Rasulullah masih hidup, lalu bagaimana hal tersebut bisa dilakukan oleh manusia setelah beliau meninggal dunia?.

    Bid’ah ini, maksudnya adalah bid’ah maulid, terjadi setelah berlalunya 3 (tiga) kurun waktu yang terbaik (masa sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). sesungguhnya Peringatan maulid Nabi telah menodai kesucian aqidah dan juga mengundang terjadinya ikhtilath (bercampur-baurnya antara laki-laki dan wanita) serta menimbulkan perkara-perkara munkar yang lainnya.

    Rujukan: Majmu’ Fatawa dan Rasail Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin rahimahullah jilid 2 hal 298-300.
    (http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/id_Mempering_ati_Maulud_Nabi.pdf)

     
  • Ibnu Rusman 01:28 on 1 February 2012 Permalink | Balas
    Tags:   

    BERLEBIHAN DALAM MEMUJI

    Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita,

    Suatu hari ada seseorang yang berkata, ^Wahai Muhammad, wahai sayyiduna (pemimpin kami), putra sayyidina, wahai orang yang terbaik di antara kami, putra orang terbaik di antara kami!^.

    Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ^Wahai para manusia, bertakwalah kalian! Jangan biarkan setan menyesatkan kalian. Aku adalah Muhammad bin Abdullah; hamba Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak suka kalian mengangkatku melebihi kedudukan yang telah Allah tentukan untukku”. (HR. Ahmad 20/23 no. 12551) dan dinilai shahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisy (5/25 no. 1627).

    >>>Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam telah mewanti-wanti umatnya agar jangan berbuat seperti Nashara. Beliau bersabda :

    ^Janganlah kalian berlebihan dalam, memujiku Sebagaimana kaum Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka ucapkanlah, “(Muhammad adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya^ (HR. Bukhari 6/478 no. 3445) dari Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu)

    Sesungguhnya melampaui batas akan menjerumuskan kepada kekafiran, Maka hendaknya kita mencukupkan diri dengan sesuatu yang ada DALIL-nya.

    Allah berfirman,

    وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

    ^Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya.^(QS. Al Hasyr: 7)

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

    “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat) Allah, dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal