Pembaruan Terkini Laman 2 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 16:58 on 15 March 2018 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    🌈🕌 *KEDURHAKAAN YANG MENGHALANGI SEORANG HAMBA MENUJU ALLAH*

    ✍️ Fadhilatusy Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah berkata:

    🍃🍂… الواجب الحذر من العوائق التي تعوق المرء في سيره إلى الله وبلوغ رضوانه،
    🔘وهــــي ثــــلاثــــة:

    الأول الشرك بالله،
    والثاني البدعة في دين الله،
    والثالث المعاصي بأنواعها ؛

    🔸أما عائق الشرك فالسلامة منه تتم بإخلاص التوحيد لله وإفراده جلّ وعلا بالعبادة .
    🔹وأما عائق البدعة فالسلامة منه تكون بلزوم السنة والاقتداء بهدي النبي صلوات الله وسلامه عليه .
    🔸 وأما عائق المعصية فبمجانبتها وبالتوبة النصوح عند الوقوع في شيء

    ❗️Wajib menjauhi kedurhakaan yang menghalangi perjalanan seorang hamba menuju Allah serta menggapai keridhoanNya.

    Ada 3 bentuk kedurhakaan:
    1️⃣Syirik kepada Allah
    2️⃣Bid’ah dalam agama
    3️⃣Kemaksiatan dengan berbagai jenisnya

    🔸Kedurhakaan bentuk kesyirikan maka keselamatan darinya akan tuntas dengan keikhlasan, mentauhidkan Allah, mengesakan Allah jalla wa ala dalam ibadah.

    🔹Kedurhakaan bentuk bid’ah maka keselamatan darinya dengan cara berpegang teguh dengan sunnah dan menapaki petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

    🔸Kedurhakaan bentuk maksiat dengan cara menjauhinya dan bertaubat dengan tulus (taubat nasuha) setiap kalinterjatuh dalam kemaksiatan.

    🌏 Sumber: http://al-badr.net/muqolat/3477

     
  • Ibnu Rusman 16:55 on 15 March 2018 Permalink | Balas  

    SUNGAI PENCUCI DOSA 

    👉 Ternyata benar, ada sungai-sungai pencuci dosa…

    ✍️ _Ibnul Qayyim -rohimahulloh- mengatakan:_

    “Bagi mereka yg banyak dosa, ada *tiga sungai besar* yg dapat membersihkan mereka di dunia, jika itu tidak cukup membersihkan mereka, nantinya mereka akan dibersihkan di sungai (neraka) jahim pada hari kiamat.

    1️⃣ Sungai taubat nasuha.
    2️⃣ Sungai amal-amal kebaikan yg dapat menenggelamkan dosa-dosa yg mengelili pelakunya.
    3️⃣ Sungai musibah besar yg dapat menebus dosanya.

    Maka, jika Allah menginginkan hambanya kebaikan; Dia akan memasukkannya ke tiga sungai ini, sehingga pada hari kiamat nanti dia akan datang dalam keadaan baik dan bersih, sehingga dia tidak perlu lagi pembersigan keempat”.

    📚 _Madarijus Salikin 1/312_

    ✍️ Ustadz Abu Abdillah Ad Dariny, MA

     
  • Ibnu Rusman 16:53 on 15 March 2018 Permalink | Balas  

    SEBAB-SEBAB KELAPANGAN DADA 

    Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:

    فَأعْظَمُ أسبَابِ شَرْحُ الصَّدْرِ

    Maka sebesar-besar sebab kelapangan dada adalah:

    ١ – التَّوحِيد :
    فَالهُدَى والتَّوحِيدُ مِن أعْظَمِ أسبَابِ شَرْحِ الصَّدْرِ ،

    1 *Tauhid*
    Karena hidayah dan tauhid ini adalah sebesar-besar sebab kelapangan dada,

    ٢ – العِلـمُ :
    فَإنَّهُ يَشرْحُ الصَّدرَ ، ويُوَسِّعُهُ حَتَّى يَكُونَ أوسَعَ مِنَ الدُّنيَا ،

    2 *Ilmu*
    Karena ia akan melapangkan dada, memperluasnya hingga menjadikannya lebih luas dari dunia,

    ٣- الإنَابَةُ إلى اللَّهِ – سُبحَانَهُ وتعَالى – ومَحَبَّتُهُ بِكُلِّ القَلبِ والإقبَالُ عَلَيهِ والتَّنَعُّمُ بعِبَادَتِهِ ، فلا شَيء أشرَحُ لِصَدْرِ العَبدِ مِن ذَلِك.

    حَتَّى إنَّهُ لَيَقُولُ أحيَانًا : إن كُنتُ فِي الجَنَّةِ فِي مِثلِ هَذِهِ الحَالةِ فإِنِّي إذًا فِي عَيشٍ طَيِّبٍ.

    3 *Kembali/bertaubat kepada Allah dan cinta kepada-nya* dari hati yang paling dalam serta menyerah kepadanya dan merasa kenikmatan dalam ibadah kepada-Nya, maka tak ada sesuatu yang lebih melapangkan dada seorang hamba dari hal ini.
    Hingga kadang-kadang ia berkata; jika aku berada di surga dalam kondisi seperti ini, maka sungguh aku telah hidup nyaman.

    ٤ – دَوَامُ ذِكرِهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ، وفِي كُلِّ مَوطِنٍ ، فَلِلذِكرِ تَأثِيرٌ عَجِيبٌ فِي انْشِرَاحِ الصَّدْرِ ونَعِيمِ القَلبِ ،

    4 *Terus menerus berdzikir kepada-Nya* dalam setiap keadaan, dan disetiap tempat, karena dzikir memiliki pengaruh yang sangat menakjubkan untuk kelapangan dada dan tentramnya hati,

    ٥ – الإحسَانُ إلى الخَلقِ ، ونَفعُهُم بمَا يُمكِنُهُ مِنَ المَالِ والجَاهِ والنَّفعِ بالبَدَنِ وأنوَاعِ الإحسَانِ ،

    فَإنَّ الكَرِيمَ المُحسِن = أشْرَحُ النَّاسِ صَدْرًا ، وأطيَبُهُم نَفسًا ، وأنعَمُهُم قَلبًا ،

    5 *Ihsan* (berbuat baik) kepada makhluk, serta memberikan manfaat kepada mereka sesuai kemampuan berupa harta, kedudukan, manfaat pada tubuh, dan berbagai macam kebaikan lainnya.
    Karena seorang yang dermawan lagi baik adalah manusia yang paling lapang dadanya, paling baik hidupnya dan paling tentram hatinya,

    ٦ – الشَّجَاعَـةُ :
    فَإِنَّ الشُّجَاعَ مُنشَرِحُ الصَّدرِ ، وَاسِعُ البِطَانِ ، مُتَّسِعُ القَلبِ ، والجَبَانُ أَضيَقُ النَّاسِ صَدرًا ،

    6 *Keberanian*
    Karena keberanian ini melapangkan dada, meluaskan rezeki, meluaskan hati, sedangkan seorang penakut adalah manusia yang paling sempit dadanya,

     

    ٧ – إخـرَاجُ دَغَـلِ القَلبِ مِنَ الصِّفَـاتِ المَذمُومَـةِ ،

    7 *Mengeluarkan kotoran hati* dari sifat-sifat yang tercela,

     

    ٨ – تَركُ فُضُولِ النَّظَرِ والكَلامِ والإستِمَاعِ والمُخَالطَةِ والأكلِ والنَّومِ ،

    فإنَّ هَذِهِ الفُضُولَ تَستَحِيلُ آلامًا وغُمُومًا وهُمُومًا فِي القَلبِ.

    8 *Meninggalkan banyak memandang, banyak bicara, banyak mendengar, banyak campur baur, banyak makan dan banyak tidur.*
    Karena kelebihan dalam hal ini akan menyebabkan penyakit, kegundahan, kelesuan di dalam hati.

    (Zaadul Ma’ad 2/32)

     
  • Ibnu Rusman 15:31 on 15 March 2018 Permalink | Balas  

    BULAN SYA’BAN 

    Nama SYA’BAN diambil dari kata SYA’BUN, yang artinya Kelompok atau Golongan.

    Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah berkata : “Dinamakan Sya’ban karena mereka berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab Al-Haram. Sebab penamaan ini lebih baik dari yang disebutkan sebelumnya. Dan disebutkan sebab lainnya dari yang telah disebutkan.” (Fathul-Bari (IV/213), Bab Shaumi Sya’ban)

    Didalam kitab Lisanul ‘Arab karya Ibnu Manzhur menyebutkan: “…mereka berpencar menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan”

    Al-Munawi mengatakan: “Bulan rajab menurut masyarakat jahiliyah adalah bulan mulia, sehingga mereka tidak melakukan peperangan. Ketika masuk bulan sya’ban, bereka berpencar ke berbagai peperangan.” (at-Tauqif a’laa Muhimmatit Ta’arif, hal. 431)

     

    HADITS-HADITS SHAHIH SEPUTAR BULAN SYA’BAN

    1. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR Al-Bukhari no. 1969 dan Muslim 1156/2721) 
    2. Aisyah radhiallahu ‘anha juga mengatakan: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156) 
    3. Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan: “Bulan yang paling disukai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan puasa adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau lanjutkan dengan puasa Ramadhan.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanadnya dishahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth) 
    4. Ummu Salamah radhiallahu ‘anha berkata: “Saya tidak pernah mendapatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR An-Nasai no. 2175 dan At-Tirmidzi no. 736. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai)

     

    >>>Al-Hafizh Ibnu Rajab -rahimahullah- berkata: ”Karena bulan Sya’ban seperti mukadimah bulan Ramadhan, maka disyariatkan di bulan Sya’ban apa-apa yang disyariatkan dalam bulan Ramadhan, seperti berpuasa, membaca al-Quran, agar tercapai kesiapan untuk menyambut Ramadhan dan jiwa akan terlatih dengan hal itu untuk mentaati ar-Rahman ‎(di bulan Ramadhan).”  (lihat Lathaa’iful Ma’aarif li Mawasim al-‘Am Minal Wazhaif ‎ hal 258)

    >>>Berkata Syaikh Muhammad Bazmul -hafizhahullah-: “Ini yang terakhir dari Ibnu Rajab -rahimahullah-, TIDAK (BERLAKU) SECARA MUTLAK. *Akan tetapi berlaku bagi orang yang puasa merupakan kebiasaan baginya*. Sebagaimana hadits-hadits menunjukkan akan hal itu.” (Majmu’ah al-Barakatu Maa Akaabirikum)

    Maka anjuran memperbanyak puasa di bulan Sya’ban adalah bagi orang yang terbiasa berpuasa saja, seperti halnya kebiasan berpuasa senin kamis atau puasa sunnah lainnya, sedangkan bagi yang tidak menjadi kebiasaaan berpuasa, hal ini tidak dianjurkan memperbanyak puasa penuh di bulan Sya’ban, apabila ini dilakukan maka menjadi amalan bid’ah.

    Lalu apa yang dimaksud dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya (Kaana yashumu sya’ban kullahu)?

    Asy Syaukani mengatakan,  “Riwayat-riwayat ini bisa dikompromikan dengan kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kata “kullu” (seluruhnya) di situ adalah kebanyakannya (mayoritasnya). Alasannya, sebagaimana dinukil oleh At Tirmidzi dari Ibnul Mubarrok. Beliau mengatakan bahwa boleh dalam bahasa Arab disebut berpuasa pada kebanyakan hari dalam satu bulan dengan dikatakan berpuasa pada seluruh bulan.” (Nailul Author, 7/148).

    Jadi, yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban adalah berpuasa di mayoritas harinya.

    Lalu Kenapa jumhur ulama menganjurkan untuk tidak puasa penuh di bulan Sya’ban?

    An Nawawi rahimahullah menuturkan bahwa para ulama mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib.” (Syarh Muslim, 4/161)

    Di antara rahasia kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab, 233)

    Wa billahi at-Taufiq wa sadaad

    in syaa Allah bersambung..

     
  • Ibnu Rusman 23:37 on 12 March 2018 Permalink | Balas
    Tags:   

    3/71 : Dari Yahya bahwa Sulaiman berkata kepada putranya:

    يَا بُنَيَّ! لَا تَعْجَبْ مِمَّنْ هَلَكَ كَيْفَ هَلَكَ، وَلَكِنِ

    اعْجَبْ مِمَّنْ نَجَا كَيْفَ نَجَا

    Wahai putraku! Janganlah engkau merasa aneh terhadap orang yang binasa (menyimpang) bagaimanakah ia binasa ?! Akan tetapi merasa anehlah terhadap orang yang selamat bagaimanakah ia selamat?!

     
  • Ibnu Rusman 23:25 on 12 March 2018 Permalink | Balas  

    Biografi Imam Asy-Syafi`i Imam Ahlus Sunnah 

    NASAB BELIAU
    Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syaafi’ bin As-Saai’b bin ‘Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al- Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pada Abdu Manaf, sedangkan Al-Muththalib adalah saudaranya Hasyim (bapaknya Abdul Muththalib).

    TAHUN DAN TEMPAT KELAHIRAN
    Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.

    PERTUMBUHANNYA
    Beliau tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.

    Setelah itu beliau mempelajari tata bahasa arab dan sya’ir sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam atas orang-orang

    KECERDASANNYA
    Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:

    1. Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.

    2. Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.

    3. Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i.

    4. Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.

    Muslim bin Khalid Az-Zanji berkata kepada Imam Asy-Syafi`i: “Berfatwalah wahai Abu Abdillah, sungguh demi Allah sekarang engkau telah berhak untuk berfatwa.”

    MENUNTUT ILMU
    Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah.” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar setelah hafal Al-Qur’an adalah membaca hadits. Beliau mengatakan, “Membaca hadits lebih baik dari pada shalat sunnah.” Karena itu, setelah hafal Al-Qur’an beliau belajar kitab hadits karya Imam Malik bin Anas kepada pengarangnya langsung pada usia yang masih belia.

    GURU-GURU BELIAU
    Beliau mengawali mengambil ilmu dari ulama-ulama yang berada di negerinya, di antara mereka adalah:

    1. Muslim bin Khalid Az-Zanji mufti Makkah

    2. Muhammad bin Syafi’ paman beliau sendiri

    3. Abbas kakeknya Imam Asy-Syafi`i

    4. Sufyan bin Uyainah

    5. Fudhail bin Iyadl, serta beberapa ulama yang lain.

    Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah di antara mereka adalah:

    1. Malik bin Anas

    2. Ibrahim bin Abu Yahya Al Aslamy Al Madany

    3.Abdul Aziz Ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan Ibrahim bin Sa’ad serta para ulama yang berada pada tingkatannya

    Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman di antaranya;

    1.Mutharrif bin Mazin

    2.Hisyam bin Yusuf Al Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya.

    Dan di Baghdad beliau mengambil ilmu dari:

    1.Muhammad bin Al Hasan, ulamanya bangsa Irak, beliau bermulazamah bersama ulama tersebut, dan mengambil darinya ilmu yang banyak.

    2.Ismail bin Ulayah.

    3.Abdulwahab Ats-Tsaqafy, serta yang lainnya.

    MURID-MURID BELIAU
    Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:

    1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.

    2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani

    3. Ishaq bin Rahawaih,

    4. Harmalah bin Yahya

    5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi

    6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.

    KARYA BELIAU
    Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi.

    PUJIAN ULAMA PARA ULAMA KEPADA BELIAU
    Benarlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,

    “Barangsiapa yang mencari ridha Allah meski dengan dibenci manusia, maka Allah akan ridha dan akhirnya manusia juga akan ridha kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi 2419 dan dishashihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ 6097).

    Begitulah keadaan para Imam Ahlus Sunnah, mereka menapaki kehidupan ini dengan menempatkan ridha Allah di hadapan mata mereka, meski harus dibenci oleh manusia. Namun keridhaan Allah akan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak. Imam Asy-Syafi`i yang berjalan dengan lurus di jalan-Nya, menuai pujian dan sanjungan dari orang-orang yang utama. Karena keutamaan hanyalah diketahui oleh orang-orang yang punya keutamaan pula.

    Qutaibah bin Sa`id berkata: “Asy-Syafi`i adalah seorang Imam.” Beliau juga berkata, “Imam Ats-Tsauri wafat maka hilanglah wara’, Imam Asy-Syafi`i wafat maka matilah Sunnah dan apa bila Imam Ahmad bin Hambal wafat maka nampaklah kebid`ahan.”

    Imam Asy-Syafi`i berkata, “Aku di Baghdad dijuluki sebagai Nashirus Sunnah (pembela Sunnah Rasulullah).”

    Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Asy-Syafi`i adalah manusia yang paling fasih di zamannya.”

    Ishaq bin Rahawaih berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbicara dengan pendapatnya -kemudian beliau menyebutkan Ats-Tsauri, Al-Auzai, Malik, dan Abu Hanifah,- melainkan Imam Asy-Syafi`i adalah yang paling besar ittiba`nya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, dan paling sedikit kesalahannya.”

    Abu Daud As-Sijistani berkata, “Aku tidak mengetahui pada Asy-Syafi`i satu ucapanpun yang salah.”

    Ibrahim bin Abdul Thalib Al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi tentang Asy-Syafi`i, Ahmad, Abu Ubaid, dan Ibnu Ruhawaih. Maka ia berkata, “Asy-Syafi`i adalah yang paling faqih di antara mereka.”

    PRINSIP AQIDAH BELIAU
    Imam Asy-Syafi`i termasuk Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau jauh dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang menyimpang dalam aqidah, khususnya dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan Asma dan Shifat Allah subahanahu wa Ta’ala.

    Beliau tidak meyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk, juga tidak menyepadankan, tidak menghilangkannya dan juga tidak mentakwilnya. Tapi beliau mengatakan dalam masalah ini, bahwa Allah memiliki nama dan sifat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya. Tidak boleh bagi seorang pun untuk menolaknya, karena Al-Qur’an telah turun dengannya (nama dan sifat Allah) dan juga telah ada riwayat yang shahih tentang hal itu. Jika ada yang menyelisihi demikian setelah tegaknya hujjah padanya maka dia kafir. Adapun jika belum tegak hujjah, maka dia dimaafkan dengan bodohnya. Karena ilmu tentang Asma dan Sifat Allah tidak dapat digapai dengan akal, teori dan pikiran. “Kami menetapkan sifat-sifat Allah dan kami meniadakan penyerupaan darinya sebagaimana Allah meniadakan dari diri-Nya. Allah berfirman,

    “Tidak ada yang menyerupaiNya sesuatu pun, dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

    Dalam masalah Al-Qur’an, beliau Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah kalamulah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”

    PRINSIP DALAM FIQIH
    Beliau berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”

    Beliau berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi shalallahu a’laihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.”

    Beliau mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”

    SIKAP IMAM ASY-SYAFI`I TERHADAP AHLUL BID’AH
    Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Asy-Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun beliau bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidakdikenal darinya, bahkan beliau benci kepada Ahlil Kalam dan Ahlil Bid’ah.”

    Beliau bicara tentang Ahlil Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.”

    Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam.”

    PESAN IMAM ASY-SYAFI`I
    “Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”

    WAFAT BELIAU
    Beliau wafat pada hari Kamis di awal bulan Sya’ban tahun 204 H dan umur beliau sekita 54 tahun (Siyar 10/76). Meski Allah memberi masa hidup beliau di dunia 54 tahun, menurut anggapan manusia, umur yang demikian termasuk masih muda. Walau demikian, keberkahan dan manfaatnya dirasakan kaum muslimin di seantero belahan dunia, hingga para ulama mengatakan, “Imam Asy-Syafi`i diberi umur pendek, namun Allah menggabungkan kecerdasannya dengan umurnya yang pendek.”

    KATA-KATA HIKMAH IMAM ASY-SYAFI`I
    “Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (omongan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”.

    (Sumber: Majalah As-Salam Pernah dimuat di
    http://www.Ahlussunnah-jakarta.org, diposting oleh Abu Amr di milis Artikel_salafy@yahoogroups.com)

     
  • Ibnu Rusman 01:59 on 21 February 2018 Permalink | Balas  

    ADAB-ADAB BERSIN 

    1. Hendaknya orang yang bersin untuk merendahkan suaranya dan tidak secara sengaja mengeraskan suara bersinnya. Hal tersebut berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ.

    “Bahwasanya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup wajah dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.” [HR. Ahmad II/439, al-Hakim IV/264, Abu Dawud no. 5029, at-Tirmidzi no. 2746. Lihat Shahih at-Tirmidzi II/355 no. 2205]

    2. Hendaknya bagi orang yang bersin menahan diri untuk tidak menolehkan leher (menekukkan leher) ke kanan atau ke kiri ketika sedang bersin karena hal tersebut dapat membahayakannya. Seandainya lehernya menoleh (menekuk ke kanan atau ke kiri) itu dimaksudkan untuk menjaga agar tidak mengenai teman duduk di sampingnya, hal itu tidak menjamin bahwa lehernya tidak cedera. Telah terjadi pada beberapa orang ketika bersin memalingkan wajahnya dengan tujuan untuk menjaga agar teman duduknya tidak terkena, namun berakibat kepalanya kaku dalam posisi menoleh.

    3. Dianjurkan kepada orang yang bersin untuk mengucapkan alhamdulillaah sesudah ia selesai bersin. Dan tidak disyari’atkan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya untuk serta merta mengucapkan pujian kepada Allah (menjawabnya) ketika mendengar orang yang bersin. Telah ada ungkapan pujian yang disyari’atkan bagi orang yang bersin sebagaimana yang tertuang dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu:

    اَلْحَمْدُ ِللهِ.

    “Segala puji bagi Allah” [HR. Al-Bukhari no. 6223, at-Tirmidzi no. 2747]

    اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

    “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.” [HR. Al-Bukhari di dalam al-Adaabul Mufrad no. 394, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 224, Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.259. Lihat Shahihul Jami’ no. 686]

    اَلْحَمْدُ ِللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.

    “Segala puji bagi Allah atas segala hal” [HR. Ahmad I/120,122, at-Tirmidzi no. 2738, ad-Darimi II/283, al-Hakim IV/66. Lihat Shahih at-Tirmidzi II/354 no. 2202]

    اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَ يَرْضَى.

    “Segala puji bagi Allah (aku memuji-Nya) dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh ke-berkahan sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Rabb kami.” [HR. Abu Dawud no. 773, al-Hakim III/232. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud I/147 no. 700]

    4. Wajib bagi setiap orang yang mendengar orang bersin (dan mengucapkan alhamdulillah) untuk melakukan tasymit kepadanya, yaitu dengan mengucapkan,

    يَرْحَمُكَ اللهُ

    “Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu.”

    Apabila tidak mendengarnya mengucapkan al-hamdulillah, maka janganlah mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallah) baginya, dan tidak perlu mengingatkannya untuk mengucapkan hamdallah (ucapan alhamdulillaah).

    5.Bila ada orang kafir bersin lalu dia memuji Allah, boleh berkata kepadanya:

    يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ.

    “Semoga Allah memberikan pada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian.”

    Hal ini berdasarkan hadits Abu Musa al-‘Asy’ari Radhiyallahu anhu, ia berkata:

    كَانَ الْيَهُوْدُ يَتَعَاطَسُوْنَ عِنْدَ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُوْنَ أَنْ يَقُوْلَ لَهُمْ يَرْحَمُكُمُ اللهُ، فَيَقُوْلُ: يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ باَلَكُمْ.

    “Orang-orang Yahudi berpura-pura bersin di ha-dapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berharap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudi mengatakan kepada mereka yarhamukumullah (semoga Allah memberikan rahmat bagi kalian), namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengucapkan yahdikumullaah wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberikan pada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” [HR. Ahmad IV/400, al-Bukhari dalam al-Adaabul Mufrad II/392 no. 940, Abu Dawud no. 5058, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 232, at-Tirmidzi no. 2739, al-Hakim IV/268. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi II/354 no. 2201]

    6. Apabila orang yang bersin itu menambah jumlah bersinnya lebih dari tiga kali, maka tidak perlu dijawab dengan ucapan yarhamukallah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيُشَمِّتْهُ جَلِيْسُهُ، وَإِنْ زَادَ عَلَى ثَلاَثٍ فَهُوَ مَزْكُوْمٌ وَلاَ تُشَمِّتْ بَعْدَ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ.

    “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, maka bagi yang duduk di dekatnya (setelah mendengarkan ucapan alhamdulillaah) menjawabnya dengan ucapan yarhamukallah, apabila dia bersin lebih dari tiga kali berarti ia sedang terkena flu dan jangan engkau beri jawaban yarhamukallah setelah tiga kali bersin.” [HR. Abu Dawud no. 5035 dan Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 251. Lihat Shahiihul Jami’ no. 684]

    Dan jangan mendo’akan orang yang bersin lebih dari tiga kali serta jangan pula mengucapkan kepadanya do’a:

    شَفَاكَ اللهُ وَعَافَاكَ.

    “Semoga Allah memberikan kesembuhan dan menjagamu.”

    Karena seandainya hal tersebut disyari’atkan maka tentulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkannya.

    7. Apabila ada orang yang bersin sedangkan imam sedang berkhutbah (Jum’at), maka ia harus mengucapkan alhamdulillah (dengan merendahkan suara) dan tidak wajib untuk dijawab yarhamu-kallah karena diam dikala khutbah Jum’at adalah wajib hukumnya.

    8. Barangsiapa yang bersin sedangkan ia dalam keadaan tidak dibolehkan untuk berdzikir (memuji Allah), misalnya sedang berada di WC, apabila ia khilaf menyebutkan alhamdulillah, maka tidak wajib bagi kita yang mendengarkannya untuk menjawab yarhamukallah. Hal ini karena berdzikir di WC terlarang. [Lihat kitab Adaabut Tatsaa-ub wal ‘Uthas oleh ar-Rumaih]

    [Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M]

     

     
  • Ibnu Rusman 01:51 on 21 February 2018 Permalink | Balas
    Tags:   

    BERSIN DAN KEWAJIBAN MENJAWABNYA

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk mengucapkan tahmid tatkala bersin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Jika salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan Alhamdulillah, jika ia mengatakannya maka hendaklah saudaranya atau temannya membalas: yarhamukalloh (semoga Allah merahmatimu). Dan jika temannya berkata yarhamukallah, maka ucapkanlah: yahdikumulloh wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 6224 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

    Dalam Shahih Al-Bukhary no. 6223 lafazhnya :

    إِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ، فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ.

    “Jika seseorang bersin lalu dia mengucapkan ‘alhamdulillah’ maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya.”

    Sedangkan di no. 6226 lafazhnya :

    إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللهَ، كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ.

    “Jika salah seorang dari kalian bersin lalu dia mengucapkan ‘alhamdulillah’ maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mendoakannya dengan mengucapkan: yarhamukallah.”
    (Lihat juga : Shahih Muslim no. 2992)

    Wajib, dan hukumnya tidak seperti menjawab salam yang mana satu orang sudah mencukupi. Jika seseorang mengucapkan salam kepada kita “assalamu’alaikum” maka cukup salah seorang dari kita menjawab “wa’alaikumussalam.” Tetapi orang yang bersin wajib atas siapa saja yang mendengarnya untuk mendoakannya. Wajib atas kita semua untuk mendoakannya (dengan mengucapkan “yarhamukallah” yang artinya: semoga Allah merahmatimu –pent) jika dia mengucapkan “alhamdulillah.”

    Dari Anas bin Malik dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhuma,

    لما نفخ الله في آدم الروح، فبلغ الروح رأسه عطس، فقال: الحمد لله رب العالمين، فقال له تبارك وتعالى: يرحمك الله

    “Tatkala Allah meniupkan ruh kepada Adam, dan ruh itu sampai di kepalanya, Adam pun bersin. Dia mengucapkan, “Alhamdulillah.”

    Maka Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berkata kepadanya, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu).”

    (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.2159)

    Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu ta’ala berkata :

    Kalau dia lupa maka ingatkanlah dia, dan katakan padanya, “Ucapkanlah Alhamdulillah”.

    Jika dia meninggalkannya karena meremehkan, maka jangan ingatkan dia.
    Lalu dari mana aku tahu akan hal itu?
    Bagaimana juga aku tahu kalau dia itu lupa atau meremehkan?

    Diketahui dari zhahir hadits “Maka ucapkanlah Alhamdulillah”. Maka jika tidak mengucapkannya janganlah dijawab dan jangan pula diingatkan.

    Akan tetapi engkau boleh mengajarinya dengan mengatakan kepadanya, “Jika seseorang bersin maka hendaknya dia mengucapkan Alhamdulillah, karena bersin itu dari Allah sedangkan menguap itu dari setan.”

    Bersin itu menunjukkan semangatnya tubuh oleh karenanya, seseorang akan mendapati tubuhnya terasa ringan (setelah bersin).

    (Syarah Riyadhus Shalihin jilid 1 hal 568)

    Berkata Al-‘Allamah As-Sa’diy rohimahulloh:

    ❝ Barangsiapa yang tidak memuji Allah (baca: mengucapkan alhamdulillah) maka tidak berhak mendapatkan jawaban, dan jangan sekali-kali mencela kecuali dirinya sendiri. Karena dialah yang telah menyebabkan dirinya terluputkan dari 2 kenikmatan:

    1. kenikmatan memuji Allah,
    2. dan kenikmatan (mendapatkan) doa dari saudaranya baginya yang mengharuskan bersyukur. ❞

    (Bahjah Qulub Al-Abror, As-Sa’diy 1/82)

     
  • Ibnu Rusman 01:18 on 21 February 2018 Permalink | Balas  

    TAHANLAH SEMAMPUMU KETIKA HENDAK MENGUAP 

     

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ.

    “Menguap itu datangnya dari syaitan. Jika salah seorang di antara kalian ada yang menguap, maka hendaklah ia menahan semampunya” (HR. Al-Bukhari no. 6226)

    “Apabila salah seorang di antara kalian menguap maka hendaklah menutup mulut dengan tangannya karena syaitan akan masuk (ke dalam mulut yang terbuka).”
    (HR. Muslim no. 2995 (57) dan Abu Dawud no. 5026)

    “Menguap itu dari syaithan. Bila ada yang menguap, Maka hendaklah dia menahan semampunya. Jika dia sampai mengucapkan *hoaamh* , maka setan akan metertawakannya” (*HR. Al-Bukhari: 6223, Muslim: 2994*)

    Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan :

    “Jadi jika menguap mendatangimu, bila engkau mampu, tahan dan cegahlah. INI ADALAH SUNNAHNYA (bimbingan Rasulullah shalallau alaihi wasallam di dalam permasalahan ini). Dan ini yang paling utama. Namun apabila engkau tidak mampu, letakkan tanganmu di mulutmu.” (Syarh Riyadhish Shalihin 4/439)

     
  • Ibnu Rusman 01:25 on 20 January 2018 Permalink | Balas
    Tags:   

    PELAJARILAH ADAB TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMPELAJARI SUATU ILMU

    _*Imam Malik rahimahullah berkata*_

    “Aku berkata kepada ibuku, *‘Aku akan pergi untuk belajar.’*

    Ibuku berkata,‘Kemarilah!, _*Pakailah pakaian ilmu!*_

    Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.”

    (‘Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibul Jauzi, Koiro, cet. Ke-1, 1426 H, Asy-Syamilah)

    Dari Abu ‘Abdillah alias Wahab bin Munabbih rahimahullah, beliau berkata:
    “Akan lahir dari ilmu: kemuliaan walaupun orangnya hina, kekuatan walaupun orangnya lemah, kedekatan walaupun orangnya jauh, kekayaan

    walaupun orangnya fakir dan kewibawaan walaupun orangnya tawadhu.”
    (lihat; Tadzkiratus-Sami’ Wal-Mutakallim

    Fil-Adaabil-Aalim wal-Muta’allim, Ibnul-Jamaah al-Kinani)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal