M E N G U A P

Hampir semua Makhluk Allah dimuka bumi ini selalu “menguap” bahkan sampai bayi yang berumur 11 minggu sudah dapat “menguap“.

Menguap juga dapat menular yang disebabkan oleh Respon Empatetik, dasar empati manusia perasaan memahami terhadap orang lain.

Para dokter di zaman sekarang mengatakan, “Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh. Dan hal ini terjadi ketika kita sedang mengantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam. Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung. Apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan “menguap” ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri.

Hal ini sebagaimana telah disebutkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya ia meletakkan tangannya di mulutnya karena syaithan akan memasukinya.”
(HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabul Mufrad)

Dalam Syarh Shahih Muslim jilid 9 (18/97) An-Nawawi berkata : “ Menguap sering terjadi bersamaan dengan rasa berat, jenuh, penat, badan cenderung merasa malas. Penyandaran perbuatan tersebut kepada syaithan karena dialah yang mengajak kepada syahwat, dan maksudnya di sini adanya peringatan terhadap sebab yang melahirkan darinya berpuas-puas dan memperbanyak di dalam masalah makanan.

Adapun menahan menguap maka hal itu adalah PERKARA YANG DISUNNAHKAN, dan tentang hal tersebut banyak hadits-hadits yang menerangkannya, dan diantara hadits-hadits tersebut adalah hadits Abu Hurairah, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Menguap itu dari syaithan maka apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya dia menahannya, dan apabila salah seorang dari kalian ketika menguap mengucapkan “ haah “, syaithan akan menertawakannya”, pada lafazh riwayat Muslim : “Apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya dia menahannya semampunya”. Pada lafazh riwayat Ahmad: “Maka hendaknya dia menahannya semampunya dan janganlah ia mengucapkan “aah haah,” karena sesungguhnya apabila ada salah seorang dari kalian membuka mulutnya maka sesungguhnya syaithan menertawakannya atau tertawa kepadanya” (HR. Al-Bukhari 3289, Muslim 2994, Ahmad 9246, At-Tirmidzi 370, Abu Daud 5028)

Syaithan tidak hanya menunggu-nunggu kesempatan untuk masuk ke dalam tubuh manusia tatkala menguap. Bahkan, menguap itu sendiri timbul dari sebab perbuatan syaithan.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Menguap berasal dari syaithan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaknya ia melawan semampunya. Jika dia sampai berucap ‘haah’ (tatkala menguap) maka syaithan akan tertawa karenanya.” (HR. Al-Bukhari)

Dan dalam riwayat Ahmad: “Apabila salah seorang dari kalian menguap dalam shalat, maka hendaknya dia meletakkan tangannya ke mulutnya, karena syaithan itu masuk bersama menguap”
(HR. Muslim 2995, Ahmad 10930, Abu Daud 5026, dan Ad-Darimi 1382)

Catatan penting: Sebagian orang bersandar kepada permohonan perlindungan dari syaithan ketika menguap, ini adalah kesalahan yang nyata.

Berikut kami kutip penjelasan Syaikh Sulaiman bin Abdillah al-Majid, seorang hakim di Riyadh, beliau menjelaskan : “Dan kami tidak mengetahui adanya sunah yang mengajarkan dzikir atau doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika menguap. Adapun yang banyak tersebar menurut sebagian ulama dan kebanyakan masyarakat, bahwa ketika menguap dianjurkan untuk membaca ta’awudz, berdalil dengan firman Allah, yang artinya: ‘Apabila setan mengganggumu maka mintalah perlindungan kepada Allah.’ Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa menguap itu dari setan. Pendalilan semacam ini, tidak pada tempatnya.

Beliau menyebutkan alasan,

“Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengabarkan kepada kita bahwa menguap itu dari setan, beliau tidak mengajarkan kepada kita (untuk membaca ta’awudz), selain perintah untuk menahan dan meletakkan tangan di mulut. Sehingga, andaikan ta’awudz (ketika menguap) disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyebutkannya.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Diselesaikan di Pondok Paud Hidayah, Sukahati pada dini hari
30 Jumadilula 1434 H / 11 April 2013