BULAN SYA’BAN

Nama SYA’BAN diambil dari kata SYA’BUN, yang artinya Kelompok atau Golongan.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah berkata : “Dinamakan Sya’ban karena mereka berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab Al-Haram. Sebab penamaan ini lebih baik dari yang disebutkan sebelumnya. Dan disebutkan sebab lainnya dari yang telah disebutkan.” (Fathul-Bari (IV/213), Bab Shaumi Sya’ban)

Didalam kitab Lisanul ‘Arab karya Ibnu Manzhur menyebutkan: “…mereka berpencar menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan”

Al-Munawi mengatakan: “Bulan rajab menurut masyarakat jahiliyah adalah bulan mulia, sehingga mereka tidak melakukan peperangan. Ketika masuk bulan sya’ban, bereka berpencar ke berbagai peperangan.” (at-Tauqif a’laa Muhimmatit Ta’arif, hal. 431)

 

HADITS-HADITS SHAHIH SEPUTAR BULAN SYA’BAN

  1. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR Al-Bukhari no. 1969 dan Muslim 1156/2721) 
  2. Aisyah radhiallahu ‘anha juga mengatakan: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156) 
  3. Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan: “Bulan yang paling disukai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan puasa adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau lanjutkan dengan puasa Ramadhan.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanadnya dishahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth) 
  4. Ummu Salamah radhiallahu ‘anha berkata: “Saya tidak pernah mendapatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR An-Nasai no. 2175 dan At-Tirmidzi no. 736. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai)

 

>>>Al-Hafizh Ibnu Rajab -rahimahullah- berkata: ”Karena bulan Sya’ban seperti mukadimah bulan Ramadhan, maka disyariatkan di bulan Sya’ban apa-apa yang disyariatkan dalam bulan Ramadhan, seperti berpuasa, membaca al-Quran, agar tercapai kesiapan untuk menyambut Ramadhan dan jiwa akan terlatih dengan hal itu untuk mentaati ar-Rahman ‎(di bulan Ramadhan).”  (lihat Lathaa’iful Ma’aarif li Mawasim al-‘Am Minal Wazhaif ‎ hal 258)

>>>Berkata Syaikh Muhammad Bazmul -hafizhahullah-: “Ini yang terakhir dari Ibnu Rajab -rahimahullah-, TIDAK (BERLAKU) SECARA MUTLAK. *Akan tetapi berlaku bagi orang yang puasa merupakan kebiasaan baginya*. Sebagaimana hadits-hadits menunjukkan akan hal itu.” (Majmu’ah al-Barakatu Maa Akaabirikum)

Maka anjuran memperbanyak puasa di bulan Sya’ban adalah bagi orang yang terbiasa berpuasa saja, seperti halnya kebiasan berpuasa senin kamis atau puasa sunnah lainnya, sedangkan bagi yang tidak menjadi kebiasaaan berpuasa, hal ini tidak dianjurkan memperbanyak puasa penuh di bulan Sya’ban, apabila ini dilakukan maka menjadi amalan bid’ah.

Lalu apa yang dimaksud dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya (Kaana yashumu sya’ban kullahu)?

Asy Syaukani mengatakan,  “Riwayat-riwayat ini bisa dikompromikan dengan kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kata “kullu” (seluruhnya) di situ adalah kebanyakannya (mayoritasnya). Alasannya, sebagaimana dinukil oleh At Tirmidzi dari Ibnul Mubarrok. Beliau mengatakan bahwa boleh dalam bahasa Arab disebut berpuasa pada kebanyakan hari dalam satu bulan dengan dikatakan berpuasa pada seluruh bulan.” (Nailul Author, 7/148).

Jadi, yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban adalah berpuasa di mayoritas harinya.

Lalu Kenapa jumhur ulama menganjurkan untuk tidak puasa penuh di bulan Sya’ban?

An Nawawi rahimahullah menuturkan bahwa para ulama mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib.” (Syarh Muslim, 4/161)

Di antara rahasia kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab, 233)

Wa billahi at-Taufiq wa sadaad

in syaa Allah bersambung..