Perayaan Maulid

Ketika Daulah Fatimiyyah di Mesir berdiri pada akhir abad keempat muncullah perayaan atau peringatan maulid Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- yang pertama dalam sejarah Islam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh al-Migrizii dalam kitabnya ^Al-Mawa’idz wal i’tibar bidzikri al-Khuthoth wal Aatsar^ : Dahulu para Kholifah/penguasa Fatimiyyin selalu mengadakan perayaan-perayaan setiap tahunnya, diantaranya adalah perayaan tahun baru, Asy-Syura, Maulid Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Hasan dan Husein, Maulid Fatimah dll. (Al-Khuthoth 1/490)

Asy Syaikh Ali Mahfuzh, berkata: ^Di antara pakar sejarah ada yang menilai, bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi ialah para raja kerajaan Fathimiyyah di Kairo, pada abad ke-4 H. Mereka menyelenggarakan enam perayaan maulid, yaitu maulid Nabi shalallahu alaihi wasallam, maulid Imam Ali bin Abi Thalib, maulid Sayyidah Fathimah Az Zahra, maulid Al Hasan dan Al Husain, dan maulid raja yang sedang berkuasa. Perayaan-perayaan tersebut terus berlangsung dengan berbagai modelnya, hingga akhirnya dilarang pada tahun 487 H pada masa Raja Al Afdhal bin Amirul Juyusy, beliau meninggal pada tahun 515 H Namun kemudian dihidupkan kembali pada masa Al Hakim bin Amrullah pada tahun 524 H, setelah hampir dilupakan orang. (Al Ibda’ Fi Mazhahiril Ibtida’ , hal. 126)

Sesungguhnya perayaan maulid Nabi ini menyerupai orang-orang Kristen, padahal Nabi bersabda ^Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu^ (HR. Abu Daud, Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwaul Gholil 5/109.)