GARIS PEMISAH ANTARA DAKWAH SALAFIYAH DAN DAKWAH HIZBIYYAH 2

Oleh Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifulloh

SIKAP TERHADAP ULAMA DAN “SIAPAKAH ULAMA?”

Sebagian orang mengatakan : “Duduklah bersama para ulama, bermajelislah dengan para ulama!” Sedangkan yang lain mencela para ulama dengan mengatakan : “Mereka (ulama) tidak paham realita!” Ada lagi yang mengatakan : “Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi menunjukkan bahwa umat ini tidak memiliki ulama rujukan yang layak!” Yang lain mengatakan : “Para ulama tidak berdiri sendiri dalam fatwa-fatwa mereka, bahkan mereka penjilat terhadap penguasa!” Setelah keluar celaan-celaan ini kemudian dari kelompok para pencela ini mengatakan : “Dengarkanlah perkataan para ulama!”

Siapakah ulama yang harus didengar perkataannya? Apakah mereka orang-orang yang memakai baju-baju tertentu atau yang memiliki bentuk-bentuk tertentu? Tidak, para ulama adalah mereka yang mendalami Kitab dan Sunnah dengan pemahaman salafush-sholih, menyeru kepada tauhid dan melarang dari kesyirikan, mengajak kepada Sunnah dan menjauhkan dari bid’ah. Telah datang kesaksian dari para ulama bahwa mereka adalah ahli ilmu, mereka mengikuti dalil, bukan hawa nafsu, mengajak kepada persatuan di atas al-haq bukan perpecahan di atas kesesatan-kesesatan, berusaha untuk menjelaskan al-haq kepada umat bukan membodohkan umat dan menyesatkan mereka. Dan zaman sekarang ini adalah seperti yang dikatakan oleh Abdulloh bin Mas’ud Radhiyallohu anhu :

“Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di zaman yang banyak ulamanya dan sedikit tukang khotbahnya, dan sesungguhnya akan datang sesudah kalian suatu zaman yang banyak tukang khotbahnya dan sedikit ulamanya.” [Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Kitab al-Ilm hal. 109 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam takhrijnya]

Hal yang sangat disesalkan, banyak orang-orang awam dan anak-anak muda yang mengangkat derajat para tukang khotbah ini sehingga mereka sebut sebagai ulama. Ketika para tukang khotbah ini menampakkan bid’ah dan fitnah, lantas para ulama yang tulen memperingatkan umat dari kesesatan mereka, maka orang-orang menyangka bahwa khilaf (perselisihan) antara para ulama dan para tukang khotbah ini adalah khilaf yang terjadi antara ulama dengan ulama, kemudian dipraktekkanlah fiqih salaf –dengan serampangan- di dalam menyikapi khilaf yang terjadi di antara para ulama. Seandainya saja mereka benar dalam memahami fiqih khilaf, tetapi kenyataannya mereka membawakan perkataan Ibnu Mas’ud rodhiyallohu anhu : “Khilaf adalah jelek”, kata mereka ucapan ini maksudnya : “Diamlah, jangan mengingkari kebid’ahan dan kesesatannya!” (?!!)

SIKAP TERHADAP BID’AHDAN AHLI BID’AH
Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah sikap terhadap bid’ah dan ahli bid’ah serta bagaimana sikap yang benar di dalam mu’amalah dengan mereka.

Para ulama Ahli Sunnah telah memaparkan dalam kitab-kitab mereka sikap-sikap tehadap bid’ah, mereka bantah para pemilik kebatilan, mereka jelaskan kebid’ahan-kebid’ahan mereka di dalam masalah aqidah, manhaj, ibadah, akhlak, dan mu’amalah. Demikian juga mereka telah menjelaskan sikap-sikap terhadap ahli bid’ah dan mu’amalah dengan mereka.

Tidak pernah muncul suatu bid’ah dalam umat melainkan diingkari oleh salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, dan para imam agama ini yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Mereka selalu memperingatkan umat dari bid’ah-bid’ah ini dan mengingkari ahli bid’ah atas kebid’ahan mereka. Mereka menampakkan sikap berlepas diri dari ahli bid’ah dan menyatakan kebencian dan permusuhan terhadap ahli bid’ah sampai mereka bertaubat.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma bahwasanya dia berkata kepada seseorang yang menyampaikan berita kepadanya tentang kelompok Qodariyyah: “Jika engkau bertemu mereka beritahukan bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dari Ibnu Umar.” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohih-nya 1/140]

Dari Abul Jauza’ rahimahulloh dia berkata : “Kalau aku bertetangga dengan kera dan babi itu lebih aku sukai daripada bertetangga dengan seorang dari ahli bid’ah.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Baththoh dalam Ibanah Kubro 2/467 dan Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqod 1/131]

Bahkan ulama salaf menolak pemberian dan hadiah dari ahli bid’ah lantaran hal itu akan memunculkan kecintaan kepada mereka, karena tabiat manusia adalah suka kepada siapa yang berbuat baik kepadanya. Tidak mungkin seseorang menerima pemberian dan hadiah ahli bid’ah kemudian mengaku membenci mereka, hal ini mustahil secara syar’i dan logika. [Lihat Mauqif Ahlis Sunnah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ 2/473]

Al-Imam Abdulloh bin Mubarok rahimahulloh berkata : “Aku tidak pernah melihat harta yang lebih binasa daripada harta ahli bid’ah.” Dia juga berkata : “Ya Alloh, janganlah Engkau jadikan bagi ahli bid’ah jasa terhadapku sehingga hatiku mencintainya.” [Dikeluarkan oleh Lalika’I dalam Syarh Ushul I’tiqod Alhi Sunnah 2/158]

Jika ada kelompok dakwah yang menyelisihi jalan salaf dalam menyikapi bid’ah dan ahlinya, maka mereka adalah penyebar dakwah bid’ah dan hizbiyyah.

MASALAH TAFKIR
Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah masalah takfir. Tidak diragukan lagi bahwa Ahli Sunnah mengkafirkan setiap orang yang dikafirkan oleh Alloh dan Rosul-Nya dan yang terjatuh ke dalam kekufuran.

Takfir mu’ayyan (personal) tidak diperbolehkan kecuali setelah terkumpul padanya syarat-syarat pengkafiran dan tidak ada mawani’ (penghalang) dari pengkafiran. Di antara syarat-syarat takfir adalah ilmu dan ma’rifat, ikhtiyar (atas pilihan sendiri atau terpaksa), dan kesengajaan. Di antara mawani’ adalah : takwil, kejahilan (kebodohan), lupa, tidak sengaja, dan ikroh (pemaksaan).

Contoh takwil adalah keadaan Hathib bin Abu Balta’ah. Contoh ikroh adalah keadaan Ammar bin Yasir. Contoh ketidaksengajaan adalah seorang yang mengatakan : “Ya Alloh, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Robb-Mu….”

Maka “Ahlul Haq dan Sunnah” adalah orang-orang yang berhati-hati dalam masalah takfir tidak seperti ahli bid’ah yang sembarangan dalam masalah takfir.

Untuk pembahasan yang lebih rinci tentang masalah takfir ini, lihat “Fitnah Takfir” oleh Syaikh al-Albani rohimahullah yang dimuat dalam majalah AL FURQON Tahun 3 Edisi 10 rubrik Fatwa.

SIKAP TERHADAP AQIDAH WALA DAN BARO
Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah sikap terhadap aqidah wala’ wal baro’. Yakni, wala’ kepada orang-orang mu’min dan baro’ terhadap orang-orang kafir. Wala’ kepada Ahli Sunnah wal Jama’ah para pengikut salafush-sholih dan baro’ terhadap ahli bid’ah wal furqoh (perpecahan) wa tahazzub (hizbiyyah).

Di antara pokok-pokok aqidah Islam yang agung adalah wajibnya memberikan wala’ (loyalitas) kepada setiap muslim dan baro’ (membenci dan memusuhi) orang-orang kafir. Wajib memberikan wala’ kepada orang-orang yang bertauhid dan baro’ terhadap orang-orang musyrik, inilah agama Ibrohim alaihis salam yang kita semua diperintahkan Alloh agar mengikutinya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengannya; Ketika mereka berkata kepada kaum mereka : “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja….” [Al-Mumtahanah : 4]

Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan wala’ kepada orang-orang kafir semuanya sebagaimana dalam firman-Nya :

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia…. [Al-Mumtahanah : 1]

Wala’ yang terlarang diberikan kepada seorang kafir adalah kecintaan kepada agamanya dan pembelaan mereka di dalam melakukan hal-hal yang merugikan kaum muslimin. Adapun mu’amalah dalam masalah jual beli dan yang semisalnya, maka ini bukanlah pijakan hukum wala’ wal baro’, karena Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam wafat dalam keadaan baju besinya digadaikan pada orang Yahudi (lihat Shohih Bukhori 3/1068); demikian juga, adil dan ihsan dalam bermu’amalah dengan ahli dzimmah dan mu’ahadin tidak melazimkan kecintaan kepada mereka.

Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman al-Bassam rahimahulloh mengomentari hadits yang menyebutkan jual beli Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam dengan orang Yahudi dengan mengatakan : “Hadits ini menunjukkan bolehnya mu’amalah dan jual beli dengan orang-orang kafir, dan bahwasanya hal ini tidak termasuk muwalah (loyalitas) kepada mereka.” [Taudlihul Ahkam 4/75]

Maka selayaknya kita berusaha mengetahui kaidah-kaidah syar’i dari wala’ wal baro’ lantaran perkara ini merupakan pemilah antara dakwah salafiyyah dengan dakwah-dakwah hizbiyyah. Dikarenakan banyak kelompok-kelompok dakwah yang masuk dalam masalah wala’ dan baro’ tanpa kaidah-kaidah yang shohihah. Akibatnya, mereka kafirkan orang-orang yang tiada dalil menunjukkan atas pengkafirannya, sedangkan mereka loyal kepada orang yang wajibnya mereka berlepas diri darinya dan baro’ dari orang yang diberikan wala’ kepadanya.

Lihat pembahasan lebih lanjut dalam masalah ini di dalam al-Wala’ wal Baro’ fil Islam, Syaikh al-Allamah Sholih al-Fauzan hafidhohullah.

[Pembahasan ini disarikan dari kitab Kawashif Jaliyyah fil Furuq Baina Dakwah Salafiyyah wa Dakwah Hizbiyyah oleh Syaikh Muhammad bin Ramzan al-Hajiri]

(Majalah Al-Furqon, Tahun 6 Edisi 4, Dzul Qo’dah 1427)