Updates from September, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Ibnu Rusman 01:04 on 15 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    AMAL IBADAH YANG TERBAIK

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh seorang arab badui,

    أَيُّ الْعَمَلِ خَيْرٌ؟

    “Amalan apakah yang paling baik?”

    Beliau menjawab,

    أَنْ تُفَارِقَ الدُّنْيَا وَلِسَانُكَ رَطْبٌ مِنْ ذِكْرِ اللهِ

    “Engkau berpisah dengan dunia sementara lisanmu selalu basah berdzikir mengingat Allah.”

    (Hilyatul Auliya 6:111, Lihat Ash-Shahihah no.1836)

    MANUSIA YANG TERBAIK

    Abdullah bin Busr al Muzani radhiallahu ‘anhu berkata,

    “Dua orang arab badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas seorang dari mereka berkata:

    يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟

    “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik?”

    Beliau menjawab,

    طُوبَى لِمَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

    “Beruntunglah seorang yang panjang umurnya dan bagus amalannya.”

    (Hilyatul Auliya 6:111, Lihat Ash-Shahihah no.1836)

    ORANG YANG MULIA ADALAH YANG MENGANGGAP DUNIA HINA

    Muhammad bin Ali rahimahullah berkata:

    كان لي أخٌ في عيني عظيم، وكان الذي عظّمه في عيني صِغَرُ الدنيا في عينه.

    “Saya memiliki seorang saudara (sahabat) yang sangat mulia dalam pandangan saya, dan perkara yang membuatnya mulia dalam pandangan saya adalah karena rendahnya dunia dalam pandangannya.”

    (Hilyatul Auliya’, jilid 3 hlm.187)

     
  • Ibnu Rusman 00:59 on 15 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    JAUHI SU’UDZAN (BURUK SANGKA) TERHADAP SAUDARAMU 

    Berkata Abu Qilabah رحمه الله:

    ” Jika sampai kepadamu berita tentang tindakan saudaramu yang tidak engkau sukai, maka berusahalah mencari alasan (berbaik sangka) kepadanya semampumu…

    Jika engkau tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah pada dirimu sendiri:

    ” Mungkin saudaraku itu mempunyai alasan yang tidak aku ketahui .”

    (Hilyatul Auliya Jilid 2 hal. 285)

     
  • Ibnu Rusman 00:57 on 15 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    SEDIKIT ILMU YANG DIRAIH DENGAN PENGORBANAN SEBESAR APAPUN TIDAK AKAN SIA-SIA JIKA BERMANFAAT BAGI PEMILIKNYA 

    ’Amir bin Syarahil Asy-Sya’by rahimahullah berkata:

    «لو أن رجلا سافر من أقصى الشام إلى أقصى اليمن فحفظ كلمة تنفعه فيما يستقبل من عمره، رأيت أن سفره لم يضع»

    “Seandainya seseorang melakukan safar dari ujung Syam menuju ujung Yaman, lalu dia hanya menghafal sebuah kalimat, namun kalimat itu terus bermanfaat baginya sepanjang umurnya, maka saya menilai bahwa safarnya tersebut tidaklah sia-sia.”

    (Hilyatul Auliya’, jilid 1 hal. 313)

     
  • Ibnu Rusman 01:07 on 14 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    SIFAT TAWADHU’ ULAMA SALAF 

    Berkata Yahya bin Ma’in rahimahullah:

    مَا رَأَيْتُ مِثْلَ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ؛ صَحِبْنَاهُ خَمْسِينَ سَنَةً مَا افْتَخَرَ عَلَيْنَا بِشَيْءٍ مِمَّا كَانَ فِيهِ مِنَ الصَّلَاحِ وَالْخَيْرِ

    “Aku belum pernah melihat orang semisal Ahmad bin Hambal, kami berkawan dengannya selama 50 tahun, dia tdk pernah membanggakan diri terhadap kami sedikitpun dari apa yg ada pada dirinya dari keshalehan dan kebaikan.”
    (Hilyatul Auliya’ jld. 9 hal.181)

     
  • Ibnu Rusman 03:15 on 13 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    10 SAHABAT YANG DIJAMIN MASUK SURGA

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    1. Abu Bakar di Jannah

    2. ‘Umar (bin Khaththab) di Jannah

    3. ‘Utsman di Jannah

    4. ‘Ali di Jannah

    5. Thalhah (Ibn ‘Ubaidillah) di Jannah

    6. Az-Zubair (Ibnul ‘Awwam) di Jannah

    7. Abdur Rahman Ibn ‘Auf di Jannah

    8. Sa’d Ibn Abi Waqqash di Jannah

    9. Sa’id Ibn Zaid di Jannah

    10. Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah di Jannah

    H.R. Ahmad dan adh- Dhiya’ al-Maqdisi dari Sa’id Ibn Zaid radliyallaahu ‘anhu. Diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dari Abdur Rahman Ibn ‘Auf radliyallaahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Albani rahimahullaah dalam Shahihul Jaami’: 50

     
  • Ibnu Rusman 03:00 on 13 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    6 PRINSIP MENGENAI TAKDIR 

    Rasulullah bersabda,
    “Andaikata engkau berinfak di jalan Allah seukuran gunung Uhud, niscaya Allah tak akan menerimanya darimu hingga engkau beriman kepada Qadar.” (HR. Ibnu Hibban, no.727 )

    Ini menunjukkan betapa pentingnya masalah ini – yakni: iman kepada qadar- bahkan merupakan suatu keharusan karena ia adalah termasuk rukun iman. Rasulullah pernah ditanya oleh Jibril, “Apakah iman itu?“ di antara isi jawaban beliau yaitu, “Beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR. al-Bukhari ).

    Lalu, apakah yang dimaksud dengan “Qadar” itu? Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin dalam bukunya “Syarh Ushul al-Iman” mengatakan, “al-Qadar adalah takdir Allah untuk seluruh makhluk yang ada sesuai dengan Ilmu dan Hikmah-Nya.”
    Dalam rangka memahami hal penting ini, berikut ini kami kemukakan 6 prinsip dalam masalah ini.

    Prinsip Pertama:
    Kita wajib mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara global maupun terperinci baik yang terkait dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan para hamba-Nya. Kita juga wajib mengimani bahwa Allah telah menulis hal itu di Lauh Mahfuzh.

    Allah berfirman, artinya, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. al-Hajj: 70).

    Abdullah bin Umar berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi 50 ribu tahun’” (HR. Muslim).

    Prinsip Kedua:
    Kita wajib mengimani bahwa seluruh yang ada tidak akan ada, kecuali dengan kehendak Allah, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan makhluk-Nya.

    Allah berfirman, artinya, “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih…” (Qs. al-Qashash: 68)

    Allah juga berfirman, artinya, “Kalaulah Allah menghendaki, maka Dia memberikan kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu..” (Qs. an-Nisa: 90).

    Prinsip Ketiga:
    Kita wajib mengimani bahwa seluruh yang ada, zatnya, sifatnya, dan geraknya diciptakan oleh Allah.
    Allah berfirman, artinya, “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu” (Qs. az-Zumar: 62)
    Allah juga berfirman, artinya, “Dan Dia telah menciptakan segala suatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (QS. al-Furqaan: 2). Allah berfirman tentang nabi Ibrahim yang berkata kepada kaumnya, artinya, “Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS. ash-Shaffat: 96).

    Prinsip Keempat:
    Iman kepada takdir tidak menafikkan kehendak dan kemampuan manusia
    Allah berfirman tentang kehendak manusia, artinya, “Maka barangsiapa menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Rabnya” (QS. an-Naba: 39). Allah berfirman tentang kemampuan manusia, artinya, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah dan taat…” (QS. at-Taghabun: 16)

    Allah juga berfirman, artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya serta mendapatkan siksa dari (kejahatan) yang dikerjakan…” (QS. al-Baqarah: 286).

    Saudaraku…

    Bukankah manusia mengetahui bahwa dirinya mempunyai kehendak dan kemampuan untuk mengerjakan atau meninggalkan sesuatu? Bukankah pula ia dapat membedakan antara kemauannya (seperti berjalan) dan yang bukan kehendaknya (seperti gemetar)? Namun perlu diketahui dan diyakini bahwa kehendak serta kemampuan seseorang itu akan terjadi dengan masyiah (kehendak) serta qudrah (kemampuan) Allah. Allah berfirman, artinya, “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. at-Takwir: 28-29)

    Dengan demikian, adalah sesat pendapat orang yang mengatakan bahwa manusia itu terpaksa atas perbuatannya, tidak mempunyai iradah (kemauan) dan qudrah ( kemampuan). Sesat pula pendapat orang yang mengatakan bahwa manusia dalam perbuatannya ditentukan oleh kemauan serta kemampuannya, kehendak serta takdir Allah tidak ada pengaruhnya sama sekali.

    Prinsip Kelima:
    Iman kepada takdir bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban atau untuk mengerjakan maksiat.
    Apakah iman kepada takdir berarti memberi alasan untuk meninggalkan kewajiban atau untuk mengerjakan maksiat? Jawabannya adalah “tidak“.

    Perhatikan firman Allah, artinya, “Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.’ Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?’ kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. al-An’am: 148). Kalaulah alasan mereka dengan takdir itu dibenarkan, tentu Allah tidak akan menjatuhkan siksa-Nya. Perhatikan juga firman Allah, artinya, “(mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa’: 165).

    Kalaulah seandainya takdir dapat dibuat alasan bagi orang-orang yang salah, maka tentulah Allah tidak menafikannya dengan mengutus para rasul, karena menyalahi sesuatu setelah terutusnya para rasul jatuh pada takdir Allah juga.

    Prinsip Keenam:
    Keimanan yang benar terhadap takdir Allah memiliki buah yang baik bagi pelakunya. Diantara buahnya adalah:

    1. Bersandar kepada Allah ketika mengerjakan sebab-sebab, tidak bersandar kepada sebab itu sendiri, karena segala sesuatu ditentukan dengan takdir Allah.

    2. Kita tidak lagi mengagumi diri ketika tercapai apa yang dicita-citakan. Karena tercapainya cita-cita merupakan nikmat dari Allah yang dikarenakan takdir-Nya yaitu sebab-sebab keberhasilan. Dan mengagumi diri akan dapat melupakan syukur nikmat ini.

    3. Akan timbul dalam diri –insyaallah– ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang berlaku, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau datangnya sesuatu yang tidak disukai. Karena dia tahu bahwa hal itu ditentukan dengan takdir Allah yang memiliki langit dan bumi dan bahwa hal itu akan terjadi dengan pasti.

    Saudaraku…
    Kita tutup tulisan ini dengan firman Allah. Allah berfirman, artinya, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira (yakni: gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah) terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. al-Hadid: 22-23).

    Semoga bermanfaat.

     
  • Ibnu Rusman 02:55 on 13 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    MENGAPA ALLAH MENCIPTAKAN KEBAIKAN DAN KEBURUKAN

    Allah menciptakan kebaikan dan keburukan untuk menguatkan orang yg beriman, apabila seseorang tertinpa keburukan/musibah sebenarnya untuk latihan bagi seoarng mukmin, ujian bagi kesabarannya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’ Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

    Dalam sebuah riwayat disebutkan “Sesungguhnya besarnya balasan itu sesuai dengan besarnya ujian, dan jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka dia mendapatkan keridhaan, dan barangsiapa yang marah (tidak ridha), maka dia mendapatkan kemurkaan.(HR. at-Tirmidzi)

    Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Qadha’-Nya bagi hamba yang beriman adalah karunia, meskipun dalam bentuk halangan, dan merupakan suatu kenikmatan, meskipun dalam bentuk ujian, serta ujian-Nya adalah keselamatan, meskipun dalam bentuk bencana.

    Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata, “Pernyataan yang adil mengenai qadar ialah, hendaklah Anda mengetahui bahwa Allah itu Mahaadil. TIDAK BOLEH BERTANYA, Bagaimana Dia menciptakan?
    Bagaimana Dia menakdirkan?, Bagaimana Dia memberi? Dan bagaimana Dia menghalangi?
    Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kekuasaan-Nya, tidak ada dalam kerajaan-Nya, yaitu langit dan bumi, melainkan apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada hutang bagi seorang pun atas-Nya, dan tidak ada hak bagi seorang pun sebelum-Nya. Jika Dia memberi, maka hal itu adalah dengan anugerah dan jika meng-halangi, maka hal itu adalah dengan keadilan.”
    (lihat, al-Inaabah ‘an Syari’atul Firqaah an-Naajiyah, Ibnu Baththah, I/390).

    Allahu a’lam

     
  • Ibnu Rusman 01:58 on 10 September 2010 Permalink | Balas  

    FIRASAT IMAM ASY-SYAFI’I 

    Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliya’ menukil dari asy-Syafi’i bahwa ketika dia selesai belajar ilmu firasat di Yaman, dia melewati seorang laki-laki di jalan yang memintanya untuk mampir di rumahnya. Asy-Syafi’i sangat dimuliakan oleh laki-laki itu. Akan tetapi asy-Syafi’i berfirasat pada tabiat laki-laki itu. Dia melihatnya memiliki tabiat buruk dan kikir. Malam itu asy-Syafi’i sepanjang malam tidak tenang di tempat tidur, dia berkata kepada dirinya, “Apa yang aku lakukan jika firasatku pada laki-laki itu salah?”

    Pagi tiba, asy-Syafi’i hendak meneruskan perjalanan, dia berkata kepada laki-laki itu dalam rangka membalas kebaikan dengan kebaikan, “Jika kamu datang ke Makkah dan melewati Dzi Thuwa maka bertanyalah tentang asy-Syafi’i.” Laki-laki itu menjawab – Dan ternyata firasat asy-Syafi’i benar – “Apakah aku pelayan bapakmu?” Lalu laki-laki itu menyodorkan tagihan singgah: makan dua dirham, minyak wangi tiga dirham, makan hewan kendaraan dua dirham dan seterusnya. Dan laki-laki itu menutup ucapannya dengan mencaci maki asy-Syafi’i. asy-Syafi’i berkata kepada pelayannya, “Berikan apa yang dia minta.” Asy-Syafi’i berbahagia dengan buku-buku firasat yang dikumpulkannya di Yaman, ternyata tidak sia-sia.

    Suatu hari asy-Syafi’i didatangi oleh seorang laki-laki yang bertanya kepadanya tentang masalah syar’i, maka asy-Syafi’i bertanya, “Apakah kamu seorang tukang tenun?” Laki-laki itu menjawab, “Benar dan aku memiliki beberapa pegawai.”

    Suatu kali seorang laki-laki mendatanginya dan bertanya kepadanya tentang suatu masalah. Asy-Syafi’i bertanya kepadanya, “Kamu dari kota Shan’a?” Dia menjawab, “Benar.” Asy-Syafii berkata, “Menurutku kamu adalah pandai besi?” Dia menjawab, “Benar.”

    Dalam biografi asy-Syafi’i ditulis bahwa asy-Syafi’i duduk bersama teman akrabnya Muhammad bin Hasan memperhatikan orang-orang. Lalu seorang laki-laki melewati keduanya. Muhammad berkata, “Tebaklah dia.” Asy-Syafii menjawab, “Aku ragu, kalau tidak tukang kayu, ya tukang jahit.” Humaidi perawi cerita ini, “Lalu aku menemui laki-laki itu dan bertanya, “Apa pekerjaanmu?” Dia menjawab, “Dulu tukang kayu dan sekarang tukang jahit.”

    (Mausu’ah Qashash as-Salaf, Ahmad Salim Baduwailan).

     
  • Ibnu Rusman 22:20 on 2 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    SALAH SATU TANDA BAIKNYA ISLAM SEORANG MUSLIM

    Setiap orang punya aktifitas dan waktu luang, dan disela-sela waktu luang banyak diantara kita yang menggunakan waktu luang diluar kendali, karena kesempatan mengendalikannya hanya 50 : 50 tergantung keimanan seseorang.

    Malaikat disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 88 kali begitu juga dengan syaitan disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 88 kali. Keseimbangan ini yang memacu semangat seseorang untuk meraih keimanan sekuat kemampuan kita mengalahkan syaitan.

    Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Mayoritas perkara yang tidak bermanfaat muncul dari lisan yaitu lisan yang tidak dijaga dan sibuk dengan perkataan sia-sia” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam).

    Abu Ishaq Al Khowwash berkata, :
    Sesungguhnya Allah mencintai tiga hal dan membenci tiga hal.

    Perkara yang dicintai adalah :
    1. SEDIKIT MAKAN
    2. SEDIKIT TIDUR dan
    3. SEDIKIT BICARA.

    Sedangkan perkara yang dibenci adalah
    1. BANYAK BICARA,
    2. BANYAK MAKAN dan
    3. BANYAK TIDUR

    (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 5: 48).

    Umar bin Abdul Aziz berkata, “Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat”

    Ibnu Rajab, mengomentari perkataan Umar bin Abdul Aziz : “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).

    Di antara tanda baiknya seorang muslim adalah ia meninggalkan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Sedangkan tanda orang yang tidak baik islamnya adalah sebaliknya.

    Sebagaimana Ibnu Rajab berkata, “Jika seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, kemudian menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat, maka tanda baik Islamnya telah sempurna” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 295).

    Semoga Allah, membimbing kami untuk mengisi hari-hari dengan hal yang bermanfaat dan menjauhi hal yang tidak bermanfaat.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal