IMAM SYAFI’I -RAHIMAHULLAH- SANG TELADAN

Nama Imam Syafi’i sudah sangat akrab dikenal di tengah masyarakat kita. Beliau adalah seorang ulama besar ASWAJA (Ahlusunnah wal Jama’ah), salah satu dari empat Imam yang madzhab mereka “mendunia” sampai sekarang. Ketiga imam yang lain, yaitu: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hambal.

Jutaan kaum muslimin di berbagai negara Islam menganut madzhab Syafi’i, termasuk Indonesia. Mayoritas kaum muslimin di negeri ini mengikuti madzhab beliau.

Imam Syafi’i memang pantas menjadi teladan bagi kaum muslimin, khususnya dalam metode (cara) beliau dalam beragama. Para ulama menukil perkataan-perkataan beliau yang secara gamblang menggambarkan bahwa metode (cara) Beliau dalam beragama selaras dengan perintah Allah dalam al-Qur’an, juga selaras dengan petunjuk Nabi dalam hadits-hadits (yang shahih dan hasan), Beliau memahami keduanya (al-Qur’an dan Hadits) sesuai dengan pemahaman para sahabat, pendahulu umat Islam.

Maka dalam lembaran buletin yang singkat ini marilah sejenak kita renungkan keindahan untaian kata-kata mutiara Imam Syafi’i, sebagai nasihat bagi diri kita pribadi, juga bagi kaum muslimin secara umum, karena di dalam perkataan beliau terdapat pelajaran berharga yang berupa kaidah dasar dalam kita mempelajari, memahami, mengamalkan serta mengajarkan agama Islam yang mulia ini. Semoga Allah menunjuki kita jalan yang lurus dan memasukkan kita ke surga-Nya.

Berpegang teguh kepada al-Qur’an dan hadits

Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa sumber syariat Islam adalah al-Qur’an dan Hadits Nabi (yang shahih dan hasan).
Allah berfirman yang artinya,

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mu’min dan perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab:36)

Allah juga berfirman yang artinya,

“Kemudian, jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.”(QS.An-Nisa’:59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tinggalkan bagi kalian dua hal, apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat sepeninggalku selamanya,(dua hal itu) Kitab Allah(al-Qur’an) dan Sunnah-ku(hadits).”(HR. Malik dan Hakim, hasan)

Sahabat ‘Atha’ menafsirkan ayat 59 dari surat an-Nisa’ di atas, “(Kembali) kepada Allah adalah kepada kitab Allah, (kembali) kepada Rasul adalah kepada Sunnah (hadits) Rasul.”(diriwayatkan oleh al-Ajuri)
Imam Syafi’i sebagai Imam kaum muslimin, juga menetapkan kaidah ini, Beliau berkata: “Aku beriman kepada Allah dan segala yang datang dari Allah sesuai dengan maksud yang Allah kehendaki. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan segala yang datang dari Rasulullah sesuai dengan maksud yang dikehendaki oleh Rasullulah.”

Beliau gigih membela sunnah/hadits Nabi
Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penjelas al-Qur’an, maka mengikutinya berarti mengikuti al-Qur’an, mengamalkannya berarti mengamalkan al-Qur’an.

Allah berfirman yang artinya,

“Dan Kami turunkan kepadamu Adz-dzikra (al-Qur’an) supaya kamu jelaskan kepada manusia (kitab) yang diturunkan kepada mereka.” (QS.An-Nahl : 44)

Allah juga bertfirman yang artinya,

“Barangsiapa yang menaati Rasul berarti sesungguhnya dia menaati Allah.”(QS.An-nisa’ : 80)

Imam Syafi’i sangat memahami hal tersebut, bahkan beliau dijuluki sebagai “Naashirus Sunnah” (Pembela Hadits Nabi) karena perkataan beliau yang masyhur; “Setiap permasalahan yang di dalamnya terdapat hadits yang shahih dari Rasulullah menurut ahli hadits, yang mana hadits tersebut menyelisihi pendapatku, maka aku meralat pendapatku (mengikuti hadits shahih dari Nabi), baik selama aku masih hidup ataupun setelah mati.”

sehingga Imam Ahmad memuji beliau, “Aku tidak mengetahui ada orang yang lebih patuh mengikuti hadits melebihi Imam Syafi’i.”

Beliau melarang taklid (taklid adalah mengikuti sesuatu tanpa mengetahui dalilnya)
Diantara perkataan-perkataan beliau adalah sebagai berikut:

  • “Ketika aku berpendapat sedangkan Nabi bersabda dalam hadits yang menyelisihi pendapatku; dan haditsnya shahih; maka hadits Nabi lah yang harus diikuti, dan janganlah kalian taklid kepadaku!”
  • “Kaum muslimin sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya suatu sunnah/hadits dari Rasulullah maka tidak boleh dia tinggalkan hadis itu karena mengikuti pendapat seseorang.”
  • “Tidak ada seorang pun melainkan pendapatnya harus diukur dengan sunnah Rasulullah dan ditolak bila menyelisihinya. Apabila aku berpendapat atau aku tetapkan suatu kaidah, tapi ada sunnah yang menyelisihi pendapatku tadi, maka yang benar adalah perkataan Rasulullah dan itu menjadi pendapatku juga.”
  • “Apabila haditsnya shahih, maka itulah madzhabku.”

Mengikuti pemahaman sahabat

Allah berfirman yang artinya,

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara oramg-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”(QS.At-Taubah :100)

Nabi bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah (umat Islam yang hidup pada) generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya.” (HR. Bukhari)

Imam Syafi’i berkata, “Allah telah memuji sahabat Rasulullah dalam al-Qur’an, Taurat dan Injil, sejak dahulu lisan Rasulullah telah menjelaskan keutamaan mereka yang tidak dimiliki oleh orang-orang setelahnya. Semoga Allah merahmati dan membahagiakan mereka karena keutamaan yang Allah berikan, sehingga mereka sampai ke derajat tinggi bersama para shiddiqin dan syuhada dan shalihin.

Para sahabatlah yang menyampaikan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, mereka menemani Rasulullah ketika diturunkan wahyu kepada beliau. Para sahabat memahami maksud Rasulullah baik secara umum maupun khusus, ketetapan-ketetapan dan bimbingan beliau. Mereka mengetahui sunnah-sunnah/hadits-hadits Rasulullah, baik yang kita ketahui ataupun tidak kita ketahui. Mereka jauh lebih unggul di atas kita dalam segala ilmu, kesungguhan, keshalihan, akal, hal-hal yang memudahkan mereka untuk mendapatkan ilmu dan memahami hukum-hukum. Pemahaman mereka lebih pantas kita pegangi dibandingkan dengan pemahaman kita sendiri.”

Demikian sebagian perkataan-perkataan Imam Syafi’i yang dapat penulis nukil. Semoga menjadi nasihat bagi kita semua, khususnya pengikut madzhab imam Syafi’i, agar kita dapat meneladani beliau dalam setiap permasalahan baik fikih maupun akidah dan tidak hanya mengikuti Imam Syafi’i dalam suatu permasalahan yang sejalan dengan nafsu dan menolak pendapat beliau jika tidak sejalan dengan nafsu.

(disarikan dari kitab : Manhaj Imam Syafi`i fi Itsbatil `Aqidah (Manhaj imam Syafi’i dalam menetapkan akidah), karya DR.Muhammad Al-Aqil)